POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tafsir dan Kajian FilsafatiatasPuisi “Ombak Tak Pernah Bertanya Asalmu” karya Leni Marlina dalamPerspektif Martin Buber

Paulus LaratmaseOleh Paulus Laratmase
June 23, 2025
Tafsir dan Kajian FilsafatiatasPuisi “Ombak Tak Pernah Bertanya Asalmu” karya Leni Marlina dalamPerspektif  Martin Buber
🔊

Dengarkan Artikel

*(Oleh: Paulus Laratmase

Tulisan ini merupakan bagian terakhir  dari lima tulisan yang ditulis oleh Pimpinan Umum Media “suaraanaknegerinews.com” sebagai penghargaan terhadappara tokoh terpilih oleh founders LSM Santa Lusia dalam ajang “Poetry Book Launching And Discussion (Poetry BLaD) L-Beautymanity and Delula Jaya, International Online Seminar On Poetry (IOSoP), Universitas Negeri Padang-Sumbar, 31 Mei 2025”. 

Puisi “Ombak Tak Pernah Bertanya Asalmu” karya Leni Marlina merupakan ekspresi estetis yang sarat nilai kemanusiaan universal. Dalam tiap baitnya puisi ini mengandung pesan mendalam tentang penerimaan, empati, dan perjumpaan antar manusia. Jika dibaca melalui perspektif Martin Buber, khususnya melalui pemikiran dalam I and Thou(Buber, 1970), puisi ini mengafirmasi pentingnya relasi dialogal “Aku-Kau” yang sejati dan menyembuhkan realitas penulis Lina Marlina.

Kajian Literer Essensi Pandangan Martin Buber tentangRelasi I and Thou

Gagasan sentral filsuf Martin Buber, meskipun bukan satu-satunya, adalah tentang “struktur dialogal” dari eksistensi manusia. Pemikiran ini sangat penting dalam memahami karya puisi seperti “Ombak Tak Pernah Bertanya Asalmu” karya Leni Marlina, yang dalam tulisan saya ditafsirkan melalui lensa relasi “Aku-Kau”. Dalam bukunya I and Thou(1970), Buber membedakan dua bentuk hubungan dasar manusia: relasi “Ich-Es” (Aku-Itu) dan relasi “Ich-Du” (Aku-Kau). Terjemahan istilah ini ke dalam bahasa Inggris menjadi”I-It” dan “I-Thou”, sebagaimana diterjemahkan dan dijelaskan oleh Walter Kaufmann, menggarisbawahi pentingnya spontanitas dan keterbukaan dalam relasi personal manusia.

Dalam relasi “Aku-Itu”, manusia memperlakukan yang lain sebagai objek pengalaman (Erfahrung) atau alat untuk tujuan tertentu. Sebaliknya, dalam relasi “Aku-Kau”, sebagaimana dijelaskan lebih lanjut dalam Between Man and Man (2002), Buber menekankan bahwa manusia hadir secara utuh dan setara, bukan sebagai objek tetapi sebagai subjek yang dihadapi secara langsung dan otentik. Relasi ini bukan sekadar komunikasi biasa, melainkan sebuah perjumpaan(Begegnung) yang eksistensial dan menyeluruh.

Pemikiran ini mendapat penguatan dari Maurice S. Friedman dalam Martin Buber: The Life of Dialogue (2002), yang menyatakan bahwa hubungan “Aku-Kau” adalah cara manusia mengalami kehadiran yang transenden dari yang lain. Sementara Ronald Gregor Smith dalam Martin Buber: A Life of Faith and Dissent (1967) menekankan aspek spiritual dan kepercayaan dalam perjumpaan ini.

Puisi Leni Marlina yang dianalisis dalam tulisan ini,  menunjukkan kehadiran elemen-elemen relasi dialogal ini secara puitik: alam yang menerima tanpa menilai, penderitaan yang membentuk jembatan kasih, serta pengampunan yang mengubah luka menjadi cinta. Dalam kaitannya dengan Existentialism from Dostoevsky to Sartre oleh Kaufmann (1989), struktur dialogal ini juga selaras dengan pandangan eksistensialis tentang kehadiran autentik.

Konsep relasi spiritual dan pengakuan atas alteritas (yang lain) juga diperkuat oleh Emmanuel Levinas dalam Totality and Infinity (1969), dan Paul Ricoeur dalam Oneself as Another (1992), yang memandang hubungan etis antarpribadi sebagai dasar eksistensi manusia. Charles Taylor dalam The Ethics of Authenticity (1991) juga menekankan pentingnya pengakuan identitas dan keunikan personal dalam relasi yang sejati. 

Terakhir, Paul Tillich dalam The Courage to Be (1952) menegaskan keberanian eksistensial untuk hadir sebagai diri sendiri di hadapan yang lain, sesuatu yang sangat terwujud dalam relasi “Aku-Kau” menurut Buber.

Dengan demikian, struktur dialogal eksistensi manusia menurut Martin Buber sangat relevan untuk memahami puisi Leni Marlina, di mana kehadiran yang otentik, kasih tanpa syarat, dan pengampunan menjadi inti dari perjumpaan antarmanusia. Setiap bait puisi mencerminkan bahwa manusia menjadi manusia hanya dalam dan melalui relasi yang tulus—relasi yang, menurut Buber dan para pemikir besar lain, membentuk fondasi spiritual dan etis eksistensi manusia.

Penafsiran Per Bait dan Analisis Filsafati

Bait 1: “Di ujung bumi, / pantai ini tak tahu bendera, / iahanya tahu kaki-kaki / yang lelah berjalan / mencari arti rumah / tanpa pagar dan senjata.”

Penyair menegaskan bahwa alam, dalam hal ini pantai, tidak mengenal batas-batas politik atau identitas yang memecah manusia. Yang ia kenali adalah perjuangan manusia mencari tempat damai. Dalam Between Man and Man (Buber, 2002), Buber menyatakan bahwa relasi sejati mengabaikan latarbelakang dan hanya mengenal kehadiran otentik. Dalam bait ini, pantai menjadi metafora dari “Kau” yang menerima “Aku” dalam totalitas keberadaannya, menggemakan konsep hubungan antarpribadi yang mendalam.

Bait pertama puisi ini membuka lanskap permenungan tentang kemanusiaan yang tercerabut dari sekat-sekat buatan manusia seperti batas geografis, simbol negara, dan atribut identitas. Leni Marlina menegaskan bahwa kebutuhan paling mendasa rmanusia bukanlah pengakuan atas identitasnya, melainkan penerimaan atas keberadaannya. Ini sejalan dengan pandangan Friedman (2002) bahwa hubungan otentik hanya mungkin dalam konteks kehadiran sejati.

Bait 2: “Langit membentang seperti surat kuno, / yang belumsempat dikirim oleh angin/ isinya tentang perdamaian / yang tumbuh di dada ikan paus biru, / dan dibisikkan ke dalambuih / setiap kali ia menyentuh daratan.”

Kedamaian adalah pesan purba yang terus berusaha disampaikan oleh alam kepada manusia. Buber menyatakan bahwa hanya dalam relasi dialogal yang penuh keheningan, seseorang mampu menerima pesan yang mendalam (Smith, 1967). Hubungan “Aku-Kau” membuka ruang spiritual untukmendengar bisikan perdamaian yang tidak terucap secara verbal.

Di sini, manusia yang mampu menangkap kedamaian dari buih laut adalah manusia yang hadir tanpa jarak terhadap alam, menyambutnya sebagai “Kau” yang hidup. Dalam Existentialism from Dostoevsky to Sartre (Kaufmann, 1989), disebutkan bahwa pengalaman transenden hanya mungkin dalam keheningan perjumpaan yang otentik.

Bait 3: “Ombak tak pernah bertanya / apakah engkau dariTimur, / atau Barat, / ia hanya tahu caramu menangis / diam-diam / di antara semilir dan kesunyian garam.”

Tidak ada penghakiman dalam rasa, tangisan adalah bahas auniversal. Dalam relasi “Aku-Kau” menurut Buber, tidak ada penilaian atau kategorisasi. Seperti dalam The Life of Dialogue (Friedman, 2002), Buber menunjukkan bahwa kehadiran bersama dalam penderitaan adalah bentuk tertinggidari relasi manusia yang sejati.

Bait ini mencerminkan bahwa hanya melalui relasi otentikseseorang dapat hadir bagi yang lain bukan sebagai objekpenderita, tetapi sebagai sesama yang mengafirmasieksistensinya.

Bait 4: “Pasir menampung jejak / seperti hati seorang ibu / tak pernah memilih, / hanya merawat.”

Simbol kasih ibu sebagai bentuk penerimaan murni. Dalam relasi “Aku-Kau”, merawat adalah bentuk kehadiran yang penuh cinta. Palmer (2003) menjelaskan bahwa tindakanmerawat adalah manifestasi dari pengakuan akan martabatpribadi yang lain tanpa syarat.

Dalam konteks ini, pasir melambangkan entitas yang tidakmenilai langkah siapa pun. Ia hadir dengan kasih dan ketulusan, sebagaimana dijelaskan dalam Oneself as Another(Ricoeur, 1992), bahwa merawat adalah perwujudan daripengakuan eksistensial.

Bait 5: “Batu karang / adalah penjaga / yang tidak menuding, / ia hanya diam memeluk / karang lain / yang dihantam badai/ dengan kesetiaan mineral.”

📚 Artikel Terkait

Dr Warsito dan Dua Dokter Bejat

Irama Ruang Waktu

Secangkir Kopi di Hari Lebaran

Digitalisasi Fakta dan Situs Sejarah Aceh di Era Digital

Kesetiaan dan solidaritas adalah inti bait ini. Menurut Buber dalam I and Thou (1970), relasi “Aku-Kau” tidak selalubersuara, tetapi hadir dalam diam dan kesetiaan. Tillich (1952) menyebutnya sebagai “the courage to be present” keberanian untuk tetap hadir bagi yang lain.

Karang menjadi simbol kehadiran yang tidak menilai tetapimenopang. Sebuah bentuk relasi spiritual yang dalamkeheningannya menghidupkan eksistensi bersama.

Bait 6: “Sinar mentari yang runtuh ke laut / adalah jabattangan sejati / antara pagi dan senja, / antara perbedaan dan pengertian.”

Perjumpaan antara dua kutub tidak berarti meniadakanperbedaan, melainkan menyatukan dalam harmoni. Taylor (1991) menyatakan bahwa otentisitas lahir dari penerimaanatas keberagaman. Dalam relasi “Aku-Kau”, pemahamantidak datang dari argumen tetapi dari kehadiran tulus.

Seperti dalam pertemuan pagi dan senja, relasi yang sejatimemberi ruang bagi keberbedaan, sebagaimana yang digambarkan dalam Totality and Infinity (Levinas, 1969), bahwa relasi adalah perjumpaan yang memuliakan alteritas.

Bait 7: “Burung camar / adalah puisi yang terus mekar di angkasa, / menuliskan pesan pada langit: / ‘Tak satu pun anakmanusia / harus ditenggelamkan oleh benci.'”

Ini adalah seruan untuk menghapus kebencian. Dalam Between Man and Man (2002), Buber menjelaskan bahwarelasi “Aku-Kau” menghapus dominasi dan membuka ruangkasih sayang. Burung camar di sini adalah simbol dari cintayang universal dan tanpa syarat.

Relasi yang tidak mempersyaratkan, yang hanya mengenalcinta dan pengakuan adalah bentuk relasi yang mampumenebus dunia dari kebencian yang membelah umat manusia.

Bait 8: “Dan ketika langit menggantungkan pelangi, / itubukan pamer warna, / tapi pertanda / bahwa luka pun bisamembentuk / keindahan yang menjembatani.”

Pelangi adalah jembatan makna antara penderitaan dan keindahan. Tillich (1952) menyebut pengalaman spiritual inisebagai “the ground of being”, keberadaan yang disadaridalam luka. Dalam relasi “Aku-Kau”, luka menjadi ruangpemurnian cinta dan penerimaan.

Buber (1970) menyebutkan bahwa hanya dalam kerentananmanusia hadir dengan utuh. Maka, bait ini menjadi pernyataanbahwa dari luka-luka kemanusiaan dapat tumbuh jembatanpemahaman dan kasih yang memulihkan.

Bait 9: “Aku menulis puisi ini / bukan dengan tinta, / melainkan dengan air mata yang dipinjam / dari kisah-kisah / yang nyaris dilupakan dunia”

Menulis dengan air mata adalah tindakan spiritual. Buber (2002) menyatakan bahwa menjadi saksi bagi yang terlupakanadalah bentuk tertinggi dari relasi “Aku-Kau”. Dalam relasiini, seseorang tidak hanya memahami, tetapi turut serta dalampenderitaan itu sendiri.

Ricoeur (1992) menggarisbawahi bahwa empati adalah bentukpengenalan akan eksistensi yang lain. Maka, penyair di sinihadir untuk  mengisahkan, tentang apa dan bagaimanamenjalin relasi batin dengan mereka yang tak bersuara.

Bait 10: “kisah para anak kecil / yang memeluk sosok yang telah menghilangkan nyawa keluarganya / dan berkata, / ‘Apakah kau juga suka bermain pasir?”

Pengampunan sebagai bentuk tertinggi relasi. Buber (1970) menyatakan bahwa relasi “Aku-Kau” tidak meniadakan masa lalu, tetapi mentransformasikannya. Anak kecil dalam bait inimemutus rantai balas dendam dan membuka ruang relasi baru.

Friedman (2002) menyebut tindakan ini sebagai “dialog of redemption”, dialog yang menyembuhkan dan menciptakandunia baru yang lebih manusiawi. Ini adalah puncak spiritual relasi dialogal menurut Buber.

Kesimpulan

Puisi ini adalah narasi spiritual yang mengajak pembacanyauntuk menyelami makna kehadiran, penerimaan, dan cintauniversal. Melalui lensa Martin Buber, kita memahami bahwadunia membutuhkan lebih banyak relasi “Aku-Kau” perjumpaan sejati yang tidak menghitung identitas, latarbelakang, atau luka, melainkan mengafirmasi eksistensi satusama lain dalam keheningan dan kasih sayang.

Puisi “Ombak Tak Pernah Bertanya Asalmu” merupakankarya yang menggambarkan kedalaman nilai-nilaikemanusiaan secara puitik dan spiritual. Ketika dibaca melaluilensa filsafat Martin Buber, terutama konsep relasi “Ich-Du” (Aku–Kau), puisi ini menjadi cerminan dari relasi dialogalyang sejati.

Terima kasih yang tak terhingga kepada : Pimpinan Media Patners: Hati Pena, Potret, Orbit, Gubernur Sumatera Barat, Wali Kota Sumatera Barat, Bupati Biak Numfor: Markus Mansnembra, SH.,M.M, Wakil Bupati Kabupaten KepulauanTanimbar: dr. Yuliana Ratuanak, M.M.K, Rektor UNP, Wakil Rektor UNP, Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa UNP, Para Dosen dan Mahasiswa UNP, Dr. Bruno Rumyaru, MA,   Yusuf Achmad, M.Pd, Leni Marlina,S.S.,MA., Drs. Anto Narasoma,  Para Sastrawan dan Budayawan, Kurator dan Semua Yang Tidak Saya Sebutkan Satu Per Satu. Semoga Tuhan MembalasKebaikan Hati atas Terselenggaranya ajang “Poetry Book Launching And Discussion (Poetry BLaD) L-Beautymanityand Delula Jaya, International Online Seminar On Poetry (IOSoP), Universitas Negeri Padang-Sumbar, 31 Mei 2025”. 

Biak, 23 Juni 2025

Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia/ Pempinan Umum Media Suara Anak Negeri News.Com, 


Paulus Laratmase

IV. Referensi:

1. Buber, Martin. I and Thou. Trans. Walter Kaufmann. New York: Scribner, 1970.

2. Buber, Martin. Between Man and Man. Routledge, 2002.

3. Smith, Ronald Gregor. Martin Buber: A Life of Faith and Dissent. Collins, 1967.

4. Friedman, Maurice S. Martin Buber: The Life of Dialogue. University of Chicago Press, 2002.

5. Kaufmann, Walter. Existentialism from Dostoevsky to Sartre. Meridian Books, 1989.

6. Palmer, Michael. Names and Naming: Reflections on Language, Metaphysics and Mystery. Routledge, 2003.

7. Levinas, Emmanuel. Totality and Infinity: An Essay on Exteriority. Duquesne University Press, 1969.

8. Ricoeur, Paul. Oneself as Another. University of Chicago Press, 1992.

9. Taylor, Charles. The Ethics of Authenticity. Harvard University Press, 1991.

10. Tillich, Paul. The Courage to Be. Yale University Press, 1952.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Paulus Laratmase

Paulus Laratmase

Pimpinan Umum Suara Anak Negerinews.com, Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia dan Dosen Filsafat di Politeknik Kesehatan Kemenkes Jayapura, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Biak, Sekolah Tinggi Agama Kristen OIKUMENE Biak Papua.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Koperasi Lawan Tanding Kapitalisme

Koperasi Lawan Tanding Kapitalisme

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00