• Latest
“Wahabi Lingkungan” atau Suara Nalar yang Dikebiri?

“Wahabi Lingkungan” atau Suara Nalar yang Dikebiri?

Juni 20, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

“Wahabi Lingkungan” atau Suara Nalar yang Dikebiri?

Redaksiby Redaksi
Juni 20, 2025
Reading Time: 2 mins read
“Wahabi Lingkungan” atau Suara Nalar yang Dikebiri?
625
SHARES
3.5k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh TM Zulfikar,

Pemerhati Lingkungan di Aceh

Pernyataan Ulil Abshar Abdala (Gus Ulil) yang menyebut aktivis lingkungan sebagai “Wahabi lingkungan” adalah simplifikasi intelektual yang patut dikritisi secara serius. Sebuah ucapan yang tidak hanya mereduksi urgensi perjuangan penyelamatan lingkungan, tapi juga mengabaikan realitas kerusakan ekologis yang nyata, sistematis, dan meluas. Bila kaum peduli lingkungan disebut Wahabi, maka kita patut bertanya: siapa sebenarnya yang sedang berideologi buta terhadap nafsu pembangunan eksploitatif?

Gus Ulil, sebagai figur pemikir publik, seharusnya menempatkan diri dalam posisi adil dan cermat sebelum menjatuhkan label yang mengandung nuansa stigmatis. Dalam dunia aktivisme lingkungan, kritik keras terhadap pembangunan yang rakus bukan fanatisme, melainkan reaksi etis terhadap krisis. Hutan hilang, sungai mati, udara sesak, dan ruang hidup menyempit bukan mitos. Itu fakta. Dan fakta tak bisa dikompromikan atas nama “toleransi terhadap pembangunan.”

Kalangan pejuang lingkungan tidak menolak pembangunan. Yang ditolak adalah pembangunan yang membunuh keberlanjutan, merusak bentang alam, dan menggusur masyarakat adat. Bila mempertahankan ruang hidup disebut “Wahabi”, maka dunia ini butuh lebih banyak Wahabi yang waras dalam menjaga bumi—daripada liberalisme yang kehilangan akar ekologis.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Pernyataan Gus Ulil menandakan satu hal: bahkan di ruang intelektual, keberpihakan pada lingkungan masih dianggap ekstrem. Ini gejala yang berbahaya. Ketika nalar ekologis dicap radikal, maka yang tersisa hanyalah ruang kosong untuk oligarki dan arogansi investasi.

Kita perlu meluruskan arah diskusi publik. Isu lingkungan bukan soal ideologi kanan atau kiri, bukan soal konservatif atau progresif. Ini soal keberlangsungan hidup manusia. Hutan bukan soal kayu, sungai bukan cuma soal debit air. Semua adalah ekosistem yang saling terhubung. Dan ketika satu bagian rusak, kita semua menanggung akibatnya.

ADVERTISEMENT

Jadi sebelum kita menyebut para penjaga lingkungan sebagai Wahabi, mari kita tanya diri sendiri: siapa yang sebenarnya menuhankan pertumbuhan ekonomi hingga mengorbankan segalanya? Siapa yang buta terhadap peringatan ilmiah, laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dan kesaksian masyarakat lokal?

Kalau keberpihakan pada lingkungan dianggap radikal, maka ketidakpedulian adalah bentuk radikalisme yang lebih berbahaya. Karena ia membiarkan kehancuran terjadi sambil mengatasnamakan moderasi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Empat Pulau Kembali ke Aceh: Kemenangan Marwah Daerah, Kekalahan Geng Solo

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com