Dengarkan Artikel
“Bang kenapa berhenti menulis?”, demikian sebuah pesan masuk. Pesan itu merupakan tanda tanya soal hobi saya, menulis. Baiklah saya pun akan menjawab melalui tulisan singkat ini. Tulisan yang sekaligus menjawab bahwa perspektif kita sering keliru.
Pertama yang ingin saya sampaikan, menulis itu jangan dipahami sebagai aktifitas yang kaku. Ketika seseorang menulis sebuah artikel, cerpen, puisi, prosa, opini, jurnal, baru disebut menulis. Bagi saya, menulis adalah aktifitas menjadikan pikiran dalam bentuk karya, entah itu karya tulis maupun visual dan audio.
Belakangan ini saya tetap menulis, saya menulis prompt yang menghasilkan visual dalam bentuk video (AI). Kemudian, saya juga menulis manuskrip percakapan yang menghasilkan audio dengan bantuan AI. Perlu dipahami juga, menulis prompt AI itu bukan perkara mudah. Kita harus memiliki imajinasi yang dapat dipahami AI. Bagi yang malas barangkali akan memohon bantuan pada pembuat prompt video.
Kedua, melalui aktifitas itu, saya mendapat mendapat laba berlipat. Selain kesenangan menulis, saya semakin paham untuk apa AI hadir. Dan selain itu, kita akan semakin paham cara kerja otak kita. AI hadir untuk membantu soal tekhnis, sesuatu yang sudah pernah dilakukan dan dialami manusia. Bagi saya, AI hanya pengulang apa yang pernah ada. Misalnya soal peristiwa, teori, konsep, yang kita barangkali lupa atau folder otak kita yang full-memory.
Jadi, salah bila kita tergantung pada AI, malah saya melihat sebaliknya. AI akan melakukan evolusi data ketika manusia melakukan hal baru. Sebagai penyimpan data, AI sangat membutuhkan manusia melakukan sesuatu yang baru.
Dari kedua hal yang saya sampaikan tadi, saya ingin katakan bahwa menulis di era AI itu harus lebih kreatif. Misalnya ketika saya membahas tulisan di potretonline.com, sejatinya saya harus membaca dan mencoba memahami sekaligus menafsirkan tulisan penulis. Tahap selanjutnya, menjadikannya percakapan. Saya tidak berharap akan banyak pendengar karena kebanyakan manusia paling sulit mendengar.
Kebanyakan kita lebih senang melihat, terutama melihat kesalahan tanpa anailis mendalam. Ketika kita melihat sebuah video, kita langsung menghakimi. Misalnya ada seorang kepala daerah membantu anak miskin. Ia memberi uang biaya sekolah, kita ramai-ramai menganggap ia seorang kepala daerah yang baik dan pujian lainnya. Kita lupa menganalisa bahwa secara personal dan komunal itu 2 hal yang berbeda.
📚 Artikel Terkait
Secara personal, tidak harus jadi kepala daerah apalagi diliput media, hal itu dapat dilakukan. Secara komunal, ia harusnya menjadikan itu case of community, ah saya coba pakai bahasa Margareth Thatcher. Ini bukan soal intelektual namun ini hanya ‘pemanis’ semata.
Kembali ke soal komunal, kepala daerah harusnya melakukan kebijakan yang dapat dirasakan rakyatnya. Ia harus bertindak sebagai kepala daerah bukan bertindak sebagai personal yang kebetulan ia kepala daerah. Gaya pencitraan itu tidak mendidik, secara politik memang menguntungkan personal namun politik itu sejatinya bicara kebijakan bukan kepicikan.
Kembali ke soal menulis dengan AI, itulah mengapa saya menulis dengan audio. Bukan karena tidak suka visual, namun secara pribadi ingin melatih diri menjadi pendengar sekaligus melatih kemampuan menulis ke tahap lebih menantang. Menulis dialog yang tetap mempertahankan nilai-nilai yang ingin disampaikan. Ketika kita menulis, sejatinya ada dialog dalam hati dan pikiran kita, menuliskan dialog itulah yang coba saya lakukan melalui bincang sore potret.
Berbeda dengan novel fiksi, yang lebih bebas menghasilkan dialog. Dialog realitas harus berdasarakan fakta dan data. Bukan hanya itu, kita harus menganalisis sehingga 700 kata dalam artikel akan mudah dibuat namun menjadikannya dialog yang masuk akal apalagi logis itu dibutuhkan usaha lebih. Apalagi AI yang sangat kaku. Misalanya ketika kita memberi petunjuk “tertawa kecil”, AI malah membacanya bukan menjadikannya ekspresi.
Hal itu berbeda dengan AI yang otomatis menghadirkan visual ekspresi. Itu juga harus ditopang kemampuan kita memberi arahan dan instruksi. Benar bahwa AI ibarat anak balita yang sedang belajar ekspresi. Para pengembang sedang meningkatkan performa AI, dan manusia akan belajar menyamakan keinginan dan hasil dari AI.
Selain hal yang sudah disampaikan, kita dilarang keras bodoh. Memanfaatkan segala fasilitas zaman dengan bijak adalah cara kita menolak bodoh. Selama kita punya akses dan mampu akses, memanfaatkan AI dengan bijak adalah cara kita menjadi manusia era AI. Asal jangan copy-paste AI, misalnya dalam penulisan artikel dan opini, maupun cerpen apalagi karya ilmiah. Itu malah menambah kebodohan, mematikan elemen-elemen penting otak kita.
Dari AI kita juga bisa belajar jujur, AI akan mengatakan ia tidak cukup data maupun yang dia sampaikan salah. Jika AI berani jujur padahal ia tidak kena pasal dosa, mengapa kita harus menipu agar dianggap pintar dan hebat dengan karya tulis dari AI.
Jadi, kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, saya tidak berhenti menulis, hanya memodifikasi tulisan dengan memanfaatkan AI ke bentuk visual dan audio. Dan menulis dengan AI bukan plagiat hasil AI, namun posisikan AI sebagai asisten. Itu artinya, ide utama tetap pada manusia. Ketika para ahli AI berusaha memanusiakan AI, jangan sampai malah AI meng-AI-kan manusia karena kita senang plagiat.
Tetap posisikan AI sebagai pembantu bukan partner apalagi tuan. Dalam penulisan, AI dapat diandalkan sebagai pengecek kesalahan tulisan, misal hilangnya satu huruf atau kesalahan tekhnis penulisan lainnya. Sekali lagi, ide pokok tetap dari kita (manusia), paham sayang?.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






