Dengarkan Artikel
Oleh Musimin Lamongan
Menyusuri kembali belokan sunyi: menanggung senjang rindu kecewa. Berjajar bisu jati-jati mengeras betah lara. Sesosok alasan menelantar kekasih dengan alibi benar diri. Tanpa maaf menggotes daun-daun jati, terluka pohon menyayat tak peduli. Luka bukan lagi darah nanah, namun cabikan hati dikejar lalat-lalat seringai.
Mendaki petjalanan perempuanku dihadang jebakan: masih cintakah atau sudah bencikah. Rentan jawaban ditikung kemunafikan. Masih cinta pembiaran dalih pengorbanan. Sudah benci berujung pungkas kisahan. Jejak tapak dihapus getah kesalahan.
Lintas menurun tubir mungkin harapan bayang pecundang. Mungkin ia senggukan menyudut sinis senyuman. Mungkin ia berdoa terbalik telapak tangan.
📚 Artikel Terkait
Sampai juga senyum Gus Dur. Bercanda mesra Shinta Nuriyah pipi merona. Kekasih halus tutur kata tulus canda. Wibawa bersahaja. Cinta asmara sanjung pesona. Kasih sayang mengunci segala bujuk goda sifana. Gus Dur, perempuanku mendamba lelaki peduli siaga.
Perjalanan kembali membentang asa. Doa-doa tunduk segala titah. Kesedihan hanya fatamorgana. Hati dewasa mengakrabi segala gundah. Selalu berharap, memangkas habis putus asa.
Dalam perjalanan Lamongan-Jombang, 11 Juni 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






