Dengarkan Artikel
Oleh Drs. Yulsafli, M.A.
Tidak banyak manusia di muka bumi ini yang mempunyai talenta besar lebih dari satu bidang. Salah seorangnya adalah Ali Hasyimi. Beliu dilahirkan oleh Ibunya yang bernama Nyak Buleun—Ayahnya bernama Tgk. Hasyim—di Montasik, Aceh Besar pada 28 Maret 1914. Nama lengkapnya Moehammad Ali Hasyim. Kemudian lebih dikenal dengan nama Ali Hasyimi. Beliau mempunyai peranan penting dalam menentukan, merubah, dan mewarnai wajah Aceh.
Di antara sekian banyak talenta yang dilimilikinya, beliau adalah seorang politisi yang sukses. Dalam karir politiknya, Hasyimi berhasil menggemgam tampuk kekuasaan sebagai Gubernur Aceh. Pada masa pemerintahanya, Hasyimi telah mengukir sejarah besar, Hasymi berhasil membawa Tgk. Daud Bereueh “turun gunung” yang melakukan pemberontakan terhadap Negara RI. Perdamaian itu dikenal dengan Ikrar Lamteh. Hasyimi telah memainkan peran yang menentukan: membawa Aceh dari Darul Harb ke Darusslam.
Hasyimi juga dikenal sebagai Bapak pendidikan. Dalam hal ini, karya beliupun tidak kecil. Hasyimilah yang mebidani lahirnya dua universitas besar di Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry. Alumni dari dua universitas ini telah mewarnai wajah Aceh. Banyak tokoh besar dan kecil lahir dari perguruan tinggi ini. Beliau pulalah yang memberi nama Darusslam untuk tempat terletaknya kedua kampus itu. Beliau seorang tokoh besar yang mempunyai visi besar pula.
Pembangunan haruslah diawali dengan pendidikan. Hasyimi telah meletakkan dasar itu. Hasyimi juga seorang ilmuwan. Tidak tanggung-tagung, dalam karirnya sebagai ilmuwan beliau adalah seorang Profesor. Dia mengajar dan meneliti di IAIN Ar-Raniry. Dalam hidupnya, Hasyimi telah menulis lebih dari lima puluh judul buku. Buku- bukunya tidak hanya diterbitkan di Banda Aceh, tetapi juga di Medan, Jakarta, Kuala Lumpur, dan Singapura. Di samping itu Hasyimi juga menulis karangan ilmiah di pelbagai jurnal, terutama pada majalah ilmiah yang dipimpinnya, yaitu Sinar
Darussalam.
Beliau juga diundang ke pelbagai tempat sebagai pematri pada seminar dan pertemuan ilmiah, baik di dalam maupun luar negeri. Hasyimi seorang ulama yang disegani dan menjadi panutan umat. Beliau mempunya ilmu pengetahuan yang luas dan pengalaman yang memadai. Hasyimi belajar ilmu agama pada Perguruan Thawalib Padang Panjang. Beliau kerap menjadi khatib, dai, mengarang kitab agama, dan menulis artikel bidang agama di berbagai majalah.
📚 Artikel Terkait
Dalam organisasi keagamaan , beliau pernah menjadi Ketua Mejelis Ulama Indonesia Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan juga Anggota Dewan pertimbangan Majelis Ulama Indonesia.
Di samping talenta di atas, Hayimi juga mempunyai talenta besar dalam bidang kepengarangan. Beliau dikenal sebagai tokoh Angkatan Pujangga Baru yang dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana (STA). Hasyimi berhasil mensejajarkan namanya dengan sastrawan-sastrawan besar lainnya. Karya-karyanya menghiasi buku-buku teks pelajaran sastra Indonesia mulai dari tinggkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Misalnya, puisinya yang berjudul Menyesal menjadi contoh analisis dalam modul mata kuliah sastra Universitas Terbuka Jakarta.
Karya sastra yang dihasilkannya dalam bidang prosa antara lain adalah Sayap Terkulai (1936), Bermandi Cahaya Bulan ((1938), Melalui Jalan Raya Dunia (1939), Suara Azan dan Lonceng Gereja (1940), Dewi fajar (1943), Nona Pressroom (1951), Nisar (1951), Meurah Johan (1976), Tanah Merah (1976). Kumpulan puisi yang telah diterbitkan antara lain Kisah Seorang Pengembara (1937), Dewan Sajak (1938), Rindu Bahagia (1963), Jalan Kembali (1963).
Ternyata bahwa Hasyimi juga pernah menjadi wartawan. Beliau menulis untuk majalah Pujangga Baru Jakarta, Angkatan Baru Surabaya, Pahlawan Muda Padang Panjang, Panji Islam Medan, Pajar Islam Malaya, Pahlawan Banda Aceh, Pedoman Masyarakat Medan, dan Suluh Masyarakat Medan. Beliau juga melmimpin beberapa surat kabar dan majalah seperti Aceh Simbun (1944), Harian Semangat Merdeka Banda Aceh, Harian Nusa Putra Jakarta, dan majalah Sinar Darusslam (1968).
Sebenarnya masih ada lagi talenta Ali Hasyimi lainnya yang tidak mungkin diuaraikan semuanya pada tulisan yang singkat ini. Hal lain yang luar biasa adalah Ali Hasyimi terus bekerja dan berkarya sampai usianya yang sangat lanjut. Ketika
meninggalkan dunia ini pun, beliau tidak menyusahkan sesiapapun. Beliau pergi dengan tiba-tiba setelah menghadiri satu seminar di kampus IAIN Ar-Raniry Darussalam.
Ali Hasyimi seorang tokoh besar dengan multitalenta besar yang telah menentukan, mengubah, dan mewarnai wajah Aceh dan Indonesia
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






