POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Empat Pulau yang Dikhianati

RedaksiOleh Redaksi
June 12, 2025
Empat Pulau yang Dikhianati
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Ini tulisan saya yang kedua tentang empat pulau yang berpindah tangan. Semula milik Aceh, lalu dikawinkan paksa dengan Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Respons netizen luar biasa, rame. Pemerintah lewat Mendagri bukannya melunak, seperti ingin menantang rakyat Aceh. Kisah empat pulau ini semakin seru, dan siapkan kopi tanpa gulanya agar otak selalu encer dan waras.

Darwis, seorang nelayan renta yang biasa menyapa ombak dengan senyum dan doa. Kini duduk termenung di pinggir perahunya yang rapuh. Ia menatap Pulau Panjang, Mangkir Gadang, Lipan, dan Mangkir Ketek. Empat sahabatnya sejak bocah, empat pulau yang kini bukan lagi bagian dari Aceh. Bukan karena erosi, bukan karena gempa, tapi karena keputusan administratif selembar kertas, Kepmendagri Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025. Begitulah caranya pulau bisa dipindah, seperti kursi di ruang rapat, tanpa perasaan.

Secara logika dan geografi, yang selama ini dipercaya oleh rakyat kecil tapi tidak oleh kekuasaan, empat pulau ini berjarak hanya 4,7 kilometer dari daratan Aceh. Tapi kini mereka diceraikan secara paksa dan dijodohkan dengan Sumatera Utara yang jauhnya 22 kilometer. Dalihnya, tata batas yang katanya disepakati entah oleh siapa. Peta bisa berubah, garis bisa ditarik ulang, sejarah bisa dihapus, semua tergantung siapa yang pegang spidol dan siapa yang duduk di belakang meja.

Saat rakyat Aceh masih menggigil marah, datanglah parade proyek dan kepentingan. Deposit fosfat Rp 2,3 triliun di Mangkir Gadang, menurut ESDM (2024). Terumbu karang dengan 287 spesies ikan hias (LIPI, 2023). Sumber air tawar di Pulau Panjang. Penyu belimbing yang dilindungi dunia, tapi tidak oleh negara. Belum lagi proyek resor mewah Rp 800 miliar di Mangkir Ketek, dermaga misterius di Pulau Panjang, serta desas-desus cadangan migas yang lebih harum dari aroma kopi Gayo. Semua itu kini berpindah tangan. Siapa di balik semua ini? Silakan tanya Gubernur Sumut Bobby Nasution, menantu presiden yang tampaknya punya akses khusus ke Google Maps versi elite.

📚 Artikel Terkait

Ibnu Sina: Sang Cahaya dari Bukhara

Sekda: Pembangunan Kota Harus Memperhatikan Mitigasi Bencana

TRC Dinsos Kota Banda Aceh Kembali Lakukan Penertiban Gepeng

Membaca Pemikiran Hasan Tiro di Stan Aceh Story Expo

Namun drama ini mencapai klimaks baru saat Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, bertemu langsung dengan Bobby Nasution di Banda Aceh. Pertemuan yang mestinya jadi forum diplomasi, berubah jadi konten TikTok. Mualem, dengan gayanya yang tenang tapi tajam, terekam meninggalkan Bobby yang baru saja mendarat, seperti karakter utama film gangster yang menolak ajakan damai mafia rival. Publik Aceh? Meledak tepuk tangan virtual. Banyak yang memuji sikap Mualem. “Itu baru pemimpin Aceh! Bukan pemimpin yang jual pulau seperti jual pulsa!” seru seorang warganet. Di tengah krisis legitimasi dan pengkhianatan administratif, TikTok mendadak menjadi platform diplomatik paling jujur di republik ini.

Di Jakarta? Tito Karnavian, sang Mendagri, memberikan solusi pamungkas. Silakan gugat ke PTUN. Seolah-olah rakyat Aceh punya waktu, duit, dan tim kuasa hukum layaknya perusahaan tambang. Seolah nelayan seperti Darwis bisa menyusun gugatan sambil menjahit jaring dan mengusir ombak. Seolah pengadilan administratif adalah tempat rakyat mencari keadilan, bukan tempat keadilan dikompromikan oleh waktu dan tumpukan perkara.

Sementara itu, Presiden Prabowo masih diam. Mungkin menunggu pulau-pulau itu benar-benar pindah sendiri. Atau mungkin menunggu laut mendidih, rakyat menggila, dan sejarah menulis ulang dirinya sebagai penonton paling tenang di tengah badai. Karena di negeri ini, menjadi diam adalah strategi. Menjadi netral adalah seni. Membiarkan rakyat kehilangan hak atas nama “administrasi” adalah kebijakan.

Kini, empat pulau itu masih ada. Masih bisa dilihat. Tapi tidak lagi bisa diakui. Seperti sahabat lama yang diambil orang, lalu dibilang, “Kamu terlambat. Kami sudah sah di mata hukum.” Tapi rakyat Aceh tidak lupa. Sejarah tidak akan diam. Karena laut bisa tenang, tapi dendam geografis… bisa jadi gelombang yang tak terpetakan.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00