POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Membangun Kesadaran Biopori Buatan dan Biopori Alami

Luhur SusiloOleh Luhur Susilo
June 10, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Luhur Susilo
Guru SMPN 1 Sambong dan Pengurus Satupena Blora

Pagi itu, tanah di halaman SMPN 1 Jepon, Blora, tampak basah bekas hujan semalam. Beberapa siswa dengan penuh semangat menggenggam linggis dan sekop. Mereka bukan sedang bermain, melainkan tengah belajar menggali harapan—dalam bentuk lubang biopori.

Di bawah naungan Program Adiwiyata, mereka belajar tentang air, tanah, dan kehidupan. Mereka tak hanya mengenal biopori lewat gambar di buku, tetapi merasakan langsung bagaimana tanah menerima air dari lubang yang mereka buat sendiri.

Biopori, istilah yang dulu mungkin asing bagi mereka, kini menjadi bagian dari pengalaman belajar yang menyenangkan. Lubang-lubang kecil yang dalamnya sekitar satu meter itu ternyata menyimpan makna besar. Bukan sekadar resapan air, tapi juga simbol kesadaran baru.

Kesadaran bahwa air tak datang begitu saja dari keran. Bahwa setiap tetes hujan yang jatuh harus diterima dengan bijak oleh bumi. Di sinilah biopori berperan—baik buatan maupun alami.

Biopori buatan adalah hasil rekayasa manusia: lubang resapan yang dibuat di lingkungan rumah, sekolah, atau kantor untuk mempercepat penyerapan air ke dalam tanah. Praktis, sederhana, tapi berdampak besar.

📚 Artikel Terkait

Ganti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan?

BI Sumbar Dukung Seminar Internasional IMLF-2 SatuPena Sumbar

Anakku Bila Abah Sudah Tua

NAFAR TSANI

Sementara itu, biopori alami terbentuk dari aktivitas alamiah akar pohon, cacing tanah, dan organisme kecil lainnya. Mereka menciptakan jaringan resapan bawah tanah yang bekerja tanpa suara, namun setia menjaga keseimbangan air.

Di kawasan hutan produksi, biopori alami menjadi kunci penting dalam konservasi air. Ketika hujan turun deras, tanah tak serta-merta mengalirkan semuanya ke sungai. Ia menyimpannya perlahan, menjadikannya cadangan saat musim kemarau tiba.

Namun, hutan produksi pun harus dikelola bijak. Ketika pohon ditebang, harus ada yang tetap berdiri—pohon-pohon perindang pemanen air. Mereka menjaga agar tanah tetap teduh, akar tetap bekerja, dan air tetap disimpan.

Semua ini tampak kompleks. Tapi di SMPN 1 Jepon, proses menyadarkan anak-anak tentang pentingnya air dimulai dari hal paling sederhana: menggali lubang biopori bersama. Dari tangan kecil mereka, lahir gerakan besar.

Kegiatan ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal masa depan. Di tengah krisis iklim dan urbanisasi yang mengikis ruang hijau, kesadaran sejak dini menjadi sangat penting. Dan sekolah menjadi ladang yang subur untuk menanam benih itu.

Melalui kolaborasi antar sekolah, guru, dan mitra lingkungan, Program Adiwiyata menjadi lebih dari sekadar program. Ia menjadi ruang hidup, tempat nilai-nilai ekologis tumbuh dalam hati generasi muda.

Tak ada yang terlalu kecil dalam upaya menjaga bumi. Satu lubang biopori di halaman sekolah bisa jadi awal dari ribuan lubang lain di seluruh kota. Dan ribuan lubang itu bisa jadi penyelamat di musim hujan maupun kemarau.

Kita memang tak bisa mengendalikan langit, tapi kita bisa menyiapkan bumi untuk menerimanya. Dan di Blora, langkah kecil itu telah dimulai—dengan semangat, cangkul, dan lubang kecil yang penuh harapan. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Luhur Susilo

Luhur Susilo

Luhur Susilo Luhur Susilo adalah seorang penulis kelahiran Blora tahun 1970. Ia merupakan alumnus IKIP N Yogyakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta yang mulai menulis sejak kuliah profesi. Antologi puisi Sajak dari Belantara (2020), Blandhong (2021), dan beberapa karya mulai terbit di media online. Luhur mulai aktif di komunitas penulisan, termasuk Satupena. Ia juga menulis di bidang sastra, sosiohistoris, dan humaniora.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
103 Jenderal Melawan Gibran, Opera Sabun Rasa Demokrasi

Post-Jokowi with Jokowi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00