• Latest

Membangun Kesadaran Biopori Buatan dan Biopori Alami

Juni 10, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Membangun Kesadaran Biopori Buatan dan Biopori Alami

Luhur Susiloby Luhur Susilo
Juni 10, 2025
in Artikel, Essay
Reading Time: 2 mins read
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Luhur Susilo
Guru SMPN 1 Sambong dan Pengurus Satupena Blora

Pagi itu, tanah di halaman SMPN 1 Jepon, Blora, tampak basah bekas hujan semalam. Beberapa siswa dengan penuh semangat menggenggam linggis dan sekop. Mereka bukan sedang bermain, melainkan tengah belajar menggali harapan—dalam bentuk lubang biopori.

Di bawah naungan Program Adiwiyata, mereka belajar tentang air, tanah, dan kehidupan. Mereka tak hanya mengenal biopori lewat gambar di buku, tetapi merasakan langsung bagaimana tanah menerima air dari lubang yang mereka buat sendiri.

Biopori, istilah yang dulu mungkin asing bagi mereka, kini menjadi bagian dari pengalaman belajar yang menyenangkan. Lubang-lubang kecil yang dalamnya sekitar satu meter itu ternyata menyimpan makna besar. Bukan sekadar resapan air, tapi juga simbol kesadaran baru.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Kesadaran bahwa air tak datang begitu saja dari keran. Bahwa setiap tetes hujan yang jatuh harus diterima dengan bijak oleh bumi. Di sinilah biopori berperan—baik buatan maupun alami.

Biopori buatan adalah hasil rekayasa manusia: lubang resapan yang dibuat di lingkungan rumah, sekolah, atau kantor untuk mempercepat penyerapan air ke dalam tanah. Praktis, sederhana, tapi berdampak besar.

Sementara itu, biopori alami terbentuk dari aktivitas alamiah akar pohon, cacing tanah, dan organisme kecil lainnya. Mereka menciptakan jaringan resapan bawah tanah yang bekerja tanpa suara, namun setia menjaga keseimbangan air.

Di kawasan hutan produksi, biopori alami menjadi kunci penting dalam konservasi air. Ketika hujan turun deras, tanah tak serta-merta mengalirkan semuanya ke sungai. Ia menyimpannya perlahan, menjadikannya cadangan saat musim kemarau tiba.

Namun, hutan produksi pun harus dikelola bijak. Ketika pohon ditebang, harus ada yang tetap berdiri—pohon-pohon perindang pemanen air. Mereka menjaga agar tanah tetap teduh, akar tetap bekerja, dan air tetap disimpan.

Semua ini tampak kompleks. Tapi di SMPN 1 Jepon, proses menyadarkan anak-anak tentang pentingnya air dimulai dari hal paling sederhana: menggali lubang biopori bersama. Dari tangan kecil mereka, lahir gerakan besar.

Kegiatan ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal masa depan. Di tengah krisis iklim dan urbanisasi yang mengikis ruang hijau, kesadaran sejak dini menjadi sangat penting. Dan sekolah menjadi ladang yang subur untuk menanam benih itu.

Melalui kolaborasi antar sekolah, guru, dan mitra lingkungan, Program Adiwiyata menjadi lebih dari sekadar program. Ia menjadi ruang hidup, tempat nilai-nilai ekologis tumbuh dalam hati generasi muda.

Tak ada yang terlalu kecil dalam upaya menjaga bumi. Satu lubang biopori di halaman sekolah bisa jadi awal dari ribuan lubang lain di seluruh kota. Dan ribuan lubang itu bisa jadi penyelamat di musim hujan maupun kemarau.

ADVERTISEMENT

Kita memang tak bisa mengendalikan langit, tapi kita bisa menyiapkan bumi untuk menerimanya. Dan di Blora, langkah kecil itu telah dimulai—dengan semangat, cangkul, dan lubang kecil yang penuh harapan. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
103 Jenderal Melawan Gibran, Opera Sabun Rasa Demokrasi

Post-Jokowi with Jokowi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com