Dengarkan Artikel
Oleh: Hanif Arsyad
Dosen Universitas Malikussaleh
Pernyataan yang menggambarkan “setiap kita adalah manifestasi Nabi Ibrahim” dan “Ismail kita” sebagai harta, jabatan, ego, atau hal duniawi yang kita cintai, menawarkan lensa psikologis-spiritual yang mendalam untuk merefleksikan esensi Hari Raya Idul Adha. Pendekatan ini bukan sekadar alegori, melainkan sebuah kerangka filosofis untuk memahami transformasi diri yang dituntut oleh ritual kurban.
Idul Adha dan Psikologi Pelepasan (Detachment)
Metafora Kurban sebagai Proses Psikologis: Perintah Allah kepada Ibrahim untuk “mengurbankan” Ismail (QS. As-Saffat: 102) dapat ditafsirkan secara psikologis sebagai ujian pelepasan (detachment) tertinggi.
Yang diuji bukan nyawa fisik Ismail, melainkan ikatan emosional dan rasa kepemilikan absolut Ibrahim terhadap apa yang paling berharga baginya.
“Ismail” Modern dan Keterikatan (Attachment):Dalam konteks sekarang ini, “Ismail” kita mewujud dalam berbagai bentuk: ambisi karier, kekayaan materi, status sosial, pengakuan, bahkan identitas ego dan keyakinan dogmatis.
Momentum Idul Adha mengajak kita untuk melakukan “dekonstruksi psikologis” terhadap keterikatan berlebihan ini. Perintah berqurban ini bukan cuma ritual menyembelih hewan kurban menjadi simbol fisik dari penyembelihan metaforis atas rasa kepemilikan mutlak kita terhadap hal-hal duniawi.
Kepemilikan sebagai Amanah (Trusteeship): Pandangan bahwa segala sesuatu pada hakikatnya milik Allah dan dititipkan kepada manusia (QS. Al-Hadid: 7) merupakan dasar filosofis Islam tentang kepemilikan.
Idul Adha memperkuat kesadaran ini. Mengurbankan hewan (aset bernilai) adalah latihan konkret melepaskan sesuatu yang kita “miliki” secara fisik demi kepatuhan yang lebih tinggi, menginternalisasi konsep amanah.
Dwi Teladan: Loyalitas Transendental dan Ikhlas tanpa Harap
Nabi Ibrahim: Arketipe Loyalitas Transendental (Transcendent Loyalty): Loyalitas nabi Ibrahim ini bukanlah ketaatan buta, melainkan hasil dari hubungan transendental yang mendalam, kepatuahan dan keimanan yang haqqul yakin dengan Allah, dibangun melalui pencarian intelektual-spiritual (QS. Al-An’am: 74-79).
📚 Artikel Terkait
Loyalitasnya yang melampaui batas-batas rasionalitas manusiawi dan ikatan duniawi paling kuat (keluarga). Idul Adha mengajak kita meneladani loyalitas yang memprioritaskan nilai-nilai Ilahiah dan universal (keadilan, kebenaran, pengorbanan untuk kebaikan bersama) di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Sementara teladan dari Nabi Ismail As : Model Ikhlas Radikal (Radical Acceptance):Respon nabi Ismail, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu…” (QS. As-Saffat: 102), menunjukkan tingkat keikhlasan dan penyerahan diri (tawakkal) yang luar biasa. Ia melepaskan hak atas hidupnya sendiri dengan penuh kesadaran dan penerimaan.
Dalam konteks “Ismail” metaforis kita, keikhlasan Ismail mengajarkan penerimaan tanpa syarat terhadap proses pelepasan yang mungkin menyakitkan (kehilangan jabatan, harta, pengakuan ego), percaya bahwa ada hikmah dan rencana yang lebih besar di baliknya.
Aplikasi dalam Kehidupan Modern: Dari Ritual ke Transformasi Sosial.
Dalam kontek berkehidupan sosial ada beberapa hal yang perlu kita cermati bersama yaitu: Berkurban atas nama “Ego”: Aplikasi paling relevan adalah “mengurbankan” ego – keangkuhan, keserakahan, prasangka, dan kebutuhan untuk selalu benar. Ini berarti mengembangkan kerendahan hati (humility), empati, dan kesediaan untuk berkompromi demi kebaikan bersama.
Dan berkurban atas Materialisme: Dalam masyarakat konsumeristik, Idul Adha mengajak evaluasi hubungan dengan harta. Berkurban hewan (dan mendistribusikannya) adalah tindakan nyata melawan materialisme, mengalihkan fokus dari akumulasi ke berbagi dan keadilan sosial (QS. Al-Hajj: 28, 36).
Nilai kurban terletak pada niat pelepasan dan kedermawanan, bukan pada nilai nominal hewannya. Serta yang terakhir berkurban atas Ambisi Buta:Jabatan dan pangkat adalah amanah.
Idul Adha mengingatkan bahwa loyalitas tertinggi harus pada etika dan nilai-nilai kemanusiaan universal, bukan pada atasan atau sistem yang korup. Keikhlasan berarti menjalankan amanah dengan integritas, meskipun tidak populer atau menghambat promosi.
Dari momentum sakral ini dapat diharapkan terbangun kesadaran pribadi sehingga terbentuk Komunitas Berbasis Kesalehan dan Keikhlasan:
Semangat Idul Adha, jika diinternalisasi secara kolektif, dapat membentuk masyarakat yang lebih adil dan peduli.
Loyalitas pada kebenaran dan keikhlasan dalam berbagi sumber daya menjadi fondasi sosial yang kokoh, melampaui loyalitas kesukuan, golongan, atau kepentingan ekonomi sempit.
Sebagai renungan kita bersama dari akhir tulisan Refleksi Idul Adha melalui metafora “Setiap kita adalah Ibrahim” dan “Ismail kita adalah…” bukan sekadar renungan spiritual, melainkan kerangka kerja untuk transformasi diri dan sosial yang mendalam. Esensinya terletak pada dekonstruksi psikologis terhadap rasa kepemilikan absolut dan pembangunan loyalitas transendental (kepada Allah dan nilai-nilai universal kebaikan) serta keikhlasan dalam melepaskan keterikatan duniawi.
Ritual kurban menjadi simbol dan katalis untuk proses internal ini. Panggilan Idul Adha adalah panggilan untuk menjadi “Ibrahim modern” – yang berani menguji loyalitas tertingginya, dan “Ismail kontemporer” – yang ikhlas melepaskan “dirinya” (ego, harta, jabatan) demi nilai yang lebih luhur.
Dengan menginternalisasi kesalehan Ibrahim dan keikhlasan Ismail, Idul Adha menjadi momentum untuk membangun kehidupan individual dan kolektif yang lebih bermakna, adil, dan berorientasi pada nilai-nilai transenden, jauh melampaui sekadar ritual tahunan. Semoga anugerah kesalehan dan keikhlasan itu benar-benar menyinari jalan hidup kita.dalam keseharian.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






