POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jutaan Doa Mengiringi Wafatnya Ustaz Yahya Waloni

RedaksiOleh Redaksi
June 7, 2025
Jutaan Doa Mengiringi Wafatnya Ustaz Yahya Waloni
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Tulisan saya berjudul “Ustaz Yahya Waloni Wafat di Mimbar Khutbah Jumat” telah dibaca 1,2 juta, dikomentari 7.931, dan dibagikan 3,9 ribu. Hal yang membuat saya merinding, hampir semua mengucapkan “innalillahi wainna ilaihi rojiun” alias mendoakan kepergian beliau. Baru kali ini saya menulis tokoh yang meninggal sampai jutaan orang mendoakan almarhum. Subhanallah. Mari kita ungkap lebih dalam di balik wafatnya sang ustaz muallaf itu.

Hari itu langit tampak seperti menunduk. Awan seolah menggigil, dan waktu terasa melambat di antara takbir yang bersahutan dan desir angin yang membawa aroma Iduladha. Masjid ramai, para jamaah duduk rapi, sebagian menahan kantuk, sebagian lagi menunduk khusyuk. Lalu terdengar suara lantang, suara yang dikenal banyak orang, penuh tenaga, kadang tajam, kadang lucu, kadang membakar semangat. Suara itu adalah milik Uztaz Yahya Waloni.

Tak ada yang menyangka, khutbah Jumat siang itu akan menjadi khutbah terakhirnya. Bukan terakhir di masjid itu. Tapi terakhir di dunia ini. Di tengah kalimat yang mungkin baru setengah ayat, tubuh beliau limbung, jatuh perlahan, disambut matras masjid, disambut keheningan yang menampar. Masjid seketika sunyi. Mikrofon masih menyala, tapi tak ada lagi suara. Hanya detak jantung para jamaah yang kini tak beraturan.

Uztaz Yahya Waloni wafat. Di mimbar. Saat khutbah. Di hari Jumat. Di hari raya. Di rumah Allah. Di tengah umat. Sungguh, alur yang terlalu sempurna untuk sebuah kematian. Seolah naskahnya ditulis langsung oleh malaikat.

Berita itu menyebar lebih cepat dari angin. Media sosial berubah jadi lautan takbir dan doa. Warganet yang biasanya nyinyir kini mendadak khusyuk. Yang dulu mencela, kini menunduk. Yang pernah debat kusir dengannya, kini kirim Al-Fatihah. Dalam hitungan jam, tulisan tentang wafatnya dibaca lebih dari sejuta orang. Ribuan komentar membanjiri, hampir semuanya mengucap innalillahi. Sebagian tak percaya, sebagian menangis, sebagian iri. Iri karena beliau pergi dalam keadaan yang sulit ditandingi.

📚 Artikel Terkait

Ekonomi Keuangan Syariah Terus Meningkat Dalam 5 Tahun Terakhir

Adab Before Knowledge: A Disconnect Between Principle and Practice

Tentang Indah dan Tari

Bangsa yang Jangan Sampai Ketiduran

Tak sedikit yang berkata, “Andai aku bisa wafat seperti itu…” Tapi jujur saja, kebanyakan dari kita bahkan belum siap mati dalam keadaan bersih dari utang kuota. Kita ingin akhir seperti beliau, tapi hidup kita masih seperti sinetron tanpa naskah, penuh drama, minim amal.

Jenazah beliau tersenyum. Foto-foto beredar, dan senyum itu lebih menohok dari ceramah mana pun. Senyum damai dari tubuh yang tak lagi bersuara, tapi kini lebih banyak didengar daripada saat hidup. Itu bukan senyum biasa. Itu seperti pengakuan bahwa beliau pergi dengan damai, dan Allah sudah memberi isyarat: “Kau pulang, dalam keadaan Aku ridha.”

Dunia kehilangan seorang dai yang tak selalu benar, tapi juga tak pernah berhenti mengingatkan. Seorang manusia biasa yang naik ke mimbar bukan karena suci, tapi karena merasa bertanggung jawab. Allah yang Maha Mengetahui isi hati, memilih menjemputnya di tempat yang paling suci, pada waktu yang paling mulia.

Kita semua akan mati. Tapi tidak semua dari kita akan mati di atas mimbar. Tidak semua dari kita akan wafat dengan mikrofon di tangan, khutbah di bibir, dan masjid sebagai saksi. Kita hanya bisa berharap, semoga meski bukan di hari Jumat, bukan di masjid, bukan saat khutbah… kita masih bisa wafat dalam keadaan membawa iman, dan disambut malaikat dengan senyum yang sama.

Uztaz Yahya Waloni telah selesai. Tamat dengan husnul khatimah. Sementara kita… masih sibuk mencari likes, sambil menunda tobat. Mari berdoa, wafatkanlah di tempat bersih dan suci, jangan di tempat kotor (maksiat).

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalabr

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Wukuf yang Usai, Derita yang Dimulai

Wukuf yang Usai, Derita yang Dimulai

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00