Dengarkan Artikel
Bukankah sejatinya hidup ini tentang melepas apa yang paling kita genggam?
Oleh: Yoss Prabu
Anda tahu, Iduladha itu seperti sebuah kenangan yang selalu kembali, dengan wajah yang lebih matang dan cerita yang kian dalam, mengingatkan kita pada arti pengorbanan, makna memberi, dan betapa sering kita merasa tak cukup padahal sebenarnya kita memiliki lebih dari yang kita sadari.
Bahkan saat sapi dan kambing antre di lapak jagal, kita masih sempat berkeluh kesah soal rezeki yang katanya tak seberapa.
Ah, betapa manusia itu makhluk paling dramatis, paling gemar membandingkan daging kurban tetangga, paling getol menghitung berapa kantong plastik yang diterima. Kadang saya heran, kita ini bersyukur atau hitung-hitungan? Seperti menimbang dosa dan pahala, tapi lupa menakar hati yang sering bocor.
Tapi di balik tawa sinis itu, ada sesuatu yang bikin saya jatuh cinta pada Iduladha, momen ketika kita belajar melepaskan. Bukankah sejatinya hidup ini tentang melepas apa yang paling kita genggam? Lihatlah Nabi Ibrahim, yang rela menyerahkan putranya demi perintah Tuhan. Kalau cinta saja butuh bukti, apalagi iman. Dan di situ letak romantisnya Iduladha, ketika pengorbanan jadi bukti cinta paling nyata, bukan sekadar janji di status WhatsApp yang basi.
Saya membayangkan jika Ibrahim hidup di zaman sekarang, mungkin dia akan viral di TikTok dengan hastag #PengorbananSejati atau #BapakOfTheYear. Atau, dia akan diwawancarai di podcast motivasi, “Pak Ibrahim, bagaimana rasanya hampir menyembelih anak sendiri?” Lalu dia menjawab, “Itulah puncak cinta, Nak. Mengalahkan ego, menundukkan rasa memiliki.” Dan para host akan manggut-manggut, pura-pura paham.
Tapi di balik semua drama itu, ada filosofi yang dalam. Bahwa syukur itu bukan sekadar ucapan terima kasih yang kita rapalkan sambil menunggu giliran potong kambing. Syukur itu adalah keikhlasan menerima bahwa hidup tak selalu sesuai dengan wishlist Shopee kita. Syukur itu saat kita sadar bahwa di balik daging kurban yang kita bagi, ada jiwa yang sedang belajar ikhlas, bahwa memberi bukan tentang sisa, tapi tentang rasa cukup yang membuatmu mau berbagi.
Melankolisnya Iduladha itu begini, saat pagi tiba, takbir berkumandang, dan kita berdiri di lapangan terbuka, di antara orang-orang yang (katanya) setara. Tapi di antara kerumunan itu, ada yang matanya sayu, pikirannya keruh, hatinya masih bergelayut pada beban hidup yang entah kapan terangkat. Mungkin mereka teringat cicilan, atau cinta yang tak kesampaian, atau mimpi yang masih tertahan. Iduladha mengingatkan, semua itu fana. Yang kekal hanyalah keikhlasan kita untuk berbagi dan berserah.
Lucu ya, betapa manusia seringkali terjebak pada tampilan luar, sapi yang gemuk, kambing yang montok, baju baru yang wangi. Padahal, Tuhan cuma ingin melihat hati kita, apakah ikhlas itu sungguh atau cuma formalitas belaka. Sungguh, Iduladha ini seperti cermin yang memantulkan segala kepalsuan yang kita banggakan. Kadang bikin ketawa miris, kadang bikin hati nyeri.
Jadi, mari kita syukuri Iduladha ini. Syukur yang bukan sekadar caption Instagram, tapi syukur yang bergetar di dada, yang meneteskan air mata saat tangan kita menyalurkan daging kurban. Syukur yang membuat kita sadar, semua ini hanya titipan, semua ini hanya latihan untuk ikhlas melepas. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar daging yang empuk, tapi hati yang lapang.
Dan di tengah semua tawa dan air mata ini, saya ingin Anda tahu, Iduladha bukan tentang siapa yang paling banyak memberi atau paling banyak menerima. Iduladha adalah tentang siapa yang paling siap mengikhlaskan. Dan di sanalah, syukur itu menemukan rumahnya.
*
Jakarta, 05 Juni 2025
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






