• Latest
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Ketika Kritik Dipenjara

Mei 29, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Kritik Dipenjara

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Mei 29, 2025
in #Arsip, #Kritik, Artikel, kritik sosi
Reading Time: 4 mins read
0
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Menimbang Ulang Batas antara Kritik, Hinaan, dan Demokrasi yang Sehat

Oleh: Dayan Abdurrahman

Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan fenomena yang mengusik nurani demokrasi: sejumlah aktivis dan warga sipil dijerat pasal penghinaan terhadap presiden dan simbol negara. Dalam banyak kasus, kritik—yang mestinya menjadi bagian vital dari demokrasi—dijawab dengan pelaporan, pengadilan, bahkan pemenjaraan. Ini bukan hanya soal hukum, tapi soal arah demokrasi, kebebasan akademik, dan kesadaran publik.

Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia berdasarkan jumlah pemilih. Kita berbangga dengan Pemilu langsung, partisipasi politik, dan kebebasan pers. Namun, apakah demokrasi hanya tentang memilih dalam lima tahun sekali? Demokrasi sejati hidup dari ruang diskusi, kritik, dan refleksi—bahkan jika itu menyakitkan bagi yang berkuasa.

Kritik vs Hinaan: Masihkah Kita Bisa Bedakan?

Dalam negara demokrasi yang sehat, kritik bukanlah kejahatan. Kritik adalah cermin bagi kekuasaan dan napas bagi perubahan. Tapi belakangan, tafsir atas kritik semakin menyempit. Beberapa kalimat yang ditulis di media sosial, unggahan video, atau orasi di jalan raya, langsung dibingkai sebagai “penghinaan terhadap presiden” atau “mengganggu ketertiban umum”.

Pasal 218 dan 219 KUHP baru yang mengatur tentang penghinaan terhadap presiden memang telah menghidupkan kembali semangat pasal karet. Amnesty International mencatat bahwa sejak 2019 hingga 2023, terdapat lebih dari 80 kasus pelaporan warga yang dianggap menghina presiden atau pejabat publik, terutama melalui media sosial. Sementara Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) menyatakan bahwa kecenderungan kriminalisasi terhadap ekspresi meningkat sejak 2020, seiring dengan penguatan otoritarianisme simbolik.

Perspektif Akademik dan Demokrasi

Dalam ranah akademik, kita diajarkan bahwa ilmu tumbuh dari perdebatan dan kritik. Ketika suatu pandangan dianggap mutlak dan tak bisa dikritik, maka lahirlah dogma, bukan ilmu. Dalam pendidikan tinggi, mahasiswa dan dosen seharusnya dilatih untuk berpikir kritis, menyampaikan gagasan, bahkan melawan arus jika diperlukan. Tapi bagaimana mungkin kita mendidik generasi kritis jika negara sendiri menakut-nakuti warga yang mengkritik?

Demokrasi bukanlah sistem yang nyaman bagi kekuasaan. Justru, demokrasi menempatkan kekuasaan dalam posisi yang terus-menerus harus terbuka terhadap kritik. Di negara seperti Amerika Serikat, presiden dikritik oleh media, seniman, dan warga sipil tanpa ancaman hukum. Di Inggris, satire politik menjadi budaya populer. Bahkan di India, meskipun mengalami kemunduran demokrasi, aktivisme sipil tetap hadir dan membentuk tekanan sosial terhadap kebijakan.

Keadilan dan Ketimpangan Perlakuan

Ketika warga biasa dipenjara karena kata-kata di media sosial, sementara elit politik bebas mencaci dan memanipulasi tanpa hukuman, Di situlah keadilan sosial dipertanyakan. Hukum seolah tajam ke bawah, tumpul ke atas. Kita seakan kembali ke era feodalisme modern, di mana penguasa dilindungi seperti raja, dan rakyat harus tunduk tak bersuara.

Padahal dalam UUD 1945, pasal 28E ayat (3) menyatakan bahwa “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” Ketika pasal ini dikalahkan oleh tafsir sepihak terhadap stabilitas dan ketertiban, maka kita tidak hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga kepercayaan.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Wewenang yang Tidak Boleh Kebablasan

Wewenang memang penting untuk menjaga ketertiban dan kestabilan negara. Namun, kekuasaan yang tidak diawasi akan mudah tergelincir menjadi otoritarian. Ketika kritik dianggap ancaman, maka negara mulai melihat rakyat sebagai musuh. Inilah benih dari represi.

Menariknya, negara justru akan lebih kuat ketika ia terbuka terhadap kritik. Seperti tubuh yang bisa sembuh karena tahu luka di mana, negara pun akan lebih sehat jika tahu di mana titik lemahnya. Dalam logika demokrasi, justru para pengkritik adalah bagian dari penyembuh.

Menuju Indonesia yang Lebih Bermartabat

Kita mencintai Indonesia, bukan sebagai slogan kosong, tetapi sebagai cita-cita kolektif. Kita ingin negeri ini tumbuh sebagai bangsa yang berani, bukan bangsa yang takut pada suara berbeda. Demokrasi yang tumbuh dengan kritik akan menghasilkan pemimpin yang kuat, bukan pemimpin yang disanjung tanpa dasar.

ADVERTISEMENT

Pendidikan demokrasi seharusnya tidak berhenti di bangku sekolah atau kampus, tetapi hidup dalam ruang publik, media, komunitas, dan keluarga. Ketika anak muda melihat bahwa berbicara jujur bisa membuat orang dipenjara, maka mereka akan belajar diam. Dan dari generasi yang diam, lahirlah bangsa yang pasif.

Mari kita jaga negeri ini, bukan dengan membungkam, tetapi dengan mendengar. Kritik bukanlah ancaman. Ia adalah tanda bahwa rakyat masih peduli.

Indonesia tidak kekurangan cinta. Tapi cinta yang dewasa adalah cinta yang berani mengingatkan, bukan hanya memuja. Demokrasi sejati bukan hanya diukur dari pilpres dan pileg, tetapi dari seberapa aman rakyatnya mengkritik pemimpinnya.


Akhir kata, semoga kita bisa terus menyalakan obor demokrasi, agar Indonesia Raya benar-benar menjadi negeri yang lebih bermartabat, lebih adil, dan lebih terbuka. Karena hanya dengan itulah, kita benar-benar mencintai bangsa ini.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 332x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 291x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 246x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 236x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Puisi - puisi Anies Septivirawan

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com