POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jangan Kabur dari Ibu Kandung: Saatnya Kembali Membangun Indonesia

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
May 28, 2025
Jangan Kabur dari Ibu Kandung: Saatnya Kembali Membangun Indonesia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Peneliti Isu-isu Pendidikan dan Kebudayaan

Di tengah derasnya arus globalisasi dan gemerlapnya janji-janji kehidupan di negeri orang, kita kerap melihat fenomena yang kian menguat: anak bangsa lebih percaya akan masa depan di luar negeri ketimbang di tanah air sendiri. Tak sedikit yang rela menjual tanah warisan keluarga, menggadaikan masa depan demi “sekadar kabur sejenak”, mencari nafkah, pendidikan, atau pelarian dari realitas Indonesia yang dianggap sumpek dan tidak menjanjikan. Namun benarkah “kabur” adalah solusi, dan negeri asing adalah jawaban?

Fenomena ini perlu dikaji lebih dalam, bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menyadarkan. Kita hidup di sebuah negeri yang oleh bangsa luar dianggap sebagai harta karun geopolitik dan geoekonomi. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman hayati yang tidak tertandingi, kekayaan budaya yang tak lekang oleh zaman, serta pasar domestik yang besar dan menggiurkan. Eropa pernah menyeberangi lautan hanya untuk rempah-rempah Nusantara. Kini, negara-negara besar seperti Cina, Amerika, Jepang, bahkan Timur Tengah berlomba-lomba menanam investasi dan menjejakkan kepentingannya di bumi pertiwi.

Ironisnya, kita yang lahir dan besar di tanah ini sering kali merasa seperti orang asing di negeri sendiri. Birokrasi yang kaku, ketimpangan ekonomi yang mencolok, dan tata kelola yang tidak berpihak pada rakyat kecil membuat sebagian dari kita merasa kalah sebelum bertanding. Maka, muncullah narasi “lebih baik cari hidup di luar negeri”, seolah negeri ini tak lagi layak diperjuangkan.

Padahal, negeri sendiri adalah seperti ibu kandung—mungkin tidak sempurna, tapi tetap darah dan daging kita. Negeri orang, meski penuh fasilitas dan kemewahan, tetaplah seperti ibu tiri—menampung kita atas dasar kebutuhan, bukan cinta.

📚 Artikel Terkait

Pentingnya Menghadirkan Pendidikan Pengambilan Keputusan Finansial dalam Kurikulum

Kreativitas Tidak Bergantung Pada Teknologi: Penulis Akan Tetap Menulis Dengan Atau Tanpa AI

Mengulik Melemahnya Gerakan Sipil dan “Student Movement”

Transformasi Kompetensi Guru di Era AI

Kita perlu mengubah cara pandang. Pergi ke luar negeri untuk belajar atau bekerja tentu tidak salah. Namun menjadikannya pelarian dan meninggalkan negeri sendiri tanpa kontribusi balik adalah kehilangan besar. Kita kehilangan pemuda-pemuda cerdas, pemikir-pemikir tajam, dan tenaga produktif yang seharusnya membangun desa-desa, kota-kota, serta peradaban bangsa dari dalam.

Bayangkan jika dana yang dikeluarkan untuk “kabur sejenak” dialihkan untuk membangun usaha lokal, mengembangkan pertanian organik, mendirikan sekolah berbasis nilai-nilai kebangsaan, atau mengembangkan teknologi berbasis kearifan lokal. Dengan semangat gotong royong dan keberanian untuk mencintai tanah sendiri, semua itu sangat mungkin terjadi. Indonesia bukan negeri yang miskin potensi—yang sering absen adalah keberanian untuk memelihara, mengelola, dan merawatnya dengan visi kebangsaan.

Peran negara dalam hal ini sangat penting. Pemerintah harus lebih hadir—bukan hanya dalam bentuk regulasi dan pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga dalam memelihara harapan rakyat. Pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pasar kerja, tetapi juga pada pembentukan karakter kebangsaan yang kuat. Kebijakan ekonomi yang tidak hanya memanjakan investor besar, tetapi juga membina UMKM, petani, nelayan, guru, dan buruh sebagai fondasi sejati kemandirian bangsa.

Demikian pula media, akademisi, seniman, dan tokoh masyarakat punya tanggung jawab kolektif membentuk narasi kebangsaan yang positif dan memberdayakan. Kita perlu menyebarluaskan kisah sukses anak bangsa yang memilih untuk membangun dari desa, dari komunitas, dari nol, tetapi berhasil mengubah wajah lingkungannya. Kisah-kisah ini akan menjadi bahan bakar inspirasi, yang menggerakkan, bukan sekadar menghibur.

Kita juga harus sadar bahwa “bahagia” tidak selalu hadir dalam bentuk materi. Bahagia adalah saat seseorang merasa hidupnya bermakna, berdaya, dan berdampak. Dan tidak ada tempat yang lebih berharga untuk itu selain negeri sendiri, tempat sejarah, identitas, dan masa depan kita terukir.

Hari ini, lebih dari sebelumnya, kita butuh anak bangsa yang berani mencintai Indonesia secara aktif. Mencintai bukan berarti menerima semuanya tanpa kritik, tapi justru berani mengkritik untuk memperbaiki. Seperti anak yang ingin menyembuhkan ibunya yang sakit, bukan meninggalkannya demi kenyamanan sementara. Negeri ini bukan beban, ia adalah amanah. Negeri ini bukan milik segelintir elit, ia adalah warisan berjuta tangan petani, guru, pejuang, dan pemimpi yang tak pernah lelah membangun harapan.

Maka, wahai anak bangsa, jangan kabur dari ibu kandungmu. Jika negeri ini terasa gelap, jangan pergi—nyalakan lilin. Jika sistem terasa tak adil, jangan menghindar—bangun sistem baru yang lebih adil. Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukan saat kita berhasil menjadi warga kelas dua di negeri orang, tetapi ketika kita berhasil mengubah tanah kelahiran kita menjadi tempat yang layak untuk dihuni, dicintai, dan diwariskan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Gastronomi dan Keajaiban Tanah Priangan

Gastronomi dan Keajaiban Tanah Priangan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00