Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Peneliti Isu-isu Pendidikan dan Kebudayaan
Di tengah derasnya arus globalisasi dan gemerlapnya janji-janji kehidupan di negeri orang, kita kerap melihat fenomena yang kian menguat: anak bangsa lebih percaya akan masa depan di luar negeri ketimbang di tanah air sendiri. Tak sedikit yang rela menjual tanah warisan keluarga, menggadaikan masa depan demi “sekadar kabur sejenak”, mencari nafkah, pendidikan, atau pelarian dari realitas Indonesia yang dianggap sumpek dan tidak menjanjikan. Namun benarkah “kabur” adalah solusi, dan negeri asing adalah jawaban?
Fenomena ini perlu dikaji lebih dalam, bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menyadarkan. Kita hidup di sebuah negeri yang oleh bangsa luar dianggap sebagai harta karun geopolitik dan geoekonomi. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman hayati yang tidak tertandingi, kekayaan budaya yang tak lekang oleh zaman, serta pasar domestik yang besar dan menggiurkan. Eropa pernah menyeberangi lautan hanya untuk rempah-rempah Nusantara. Kini, negara-negara besar seperti Cina, Amerika, Jepang, bahkan Timur Tengah berlomba-lomba menanam investasi dan menjejakkan kepentingannya di bumi pertiwi.
Ironisnya, kita yang lahir dan besar di tanah ini sering kali merasa seperti orang asing di negeri sendiri. Birokrasi yang kaku, ketimpangan ekonomi yang mencolok, dan tata kelola yang tidak berpihak pada rakyat kecil membuat sebagian dari kita merasa kalah sebelum bertanding. Maka, muncullah narasi “lebih baik cari hidup di luar negeri”, seolah negeri ini tak lagi layak diperjuangkan.
Padahal, negeri sendiri adalah seperti ibu kandung—mungkin tidak sempurna, tapi tetap darah dan daging kita. Negeri orang, meski penuh fasilitas dan kemewahan, tetaplah seperti ibu tiri—menampung kita atas dasar kebutuhan, bukan cinta.
📚 Artikel Terkait
Kita perlu mengubah cara pandang. Pergi ke luar negeri untuk belajar atau bekerja tentu tidak salah. Namun menjadikannya pelarian dan meninggalkan negeri sendiri tanpa kontribusi balik adalah kehilangan besar. Kita kehilangan pemuda-pemuda cerdas, pemikir-pemikir tajam, dan tenaga produktif yang seharusnya membangun desa-desa, kota-kota, serta peradaban bangsa dari dalam.
Bayangkan jika dana yang dikeluarkan untuk “kabur sejenak” dialihkan untuk membangun usaha lokal, mengembangkan pertanian organik, mendirikan sekolah berbasis nilai-nilai kebangsaan, atau mengembangkan teknologi berbasis kearifan lokal. Dengan semangat gotong royong dan keberanian untuk mencintai tanah sendiri, semua itu sangat mungkin terjadi. Indonesia bukan negeri yang miskin potensi—yang sering absen adalah keberanian untuk memelihara, mengelola, dan merawatnya dengan visi kebangsaan.
Peran negara dalam hal ini sangat penting. Pemerintah harus lebih hadir—bukan hanya dalam bentuk regulasi dan pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga dalam memelihara harapan rakyat. Pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pasar kerja, tetapi juga pada pembentukan karakter kebangsaan yang kuat. Kebijakan ekonomi yang tidak hanya memanjakan investor besar, tetapi juga membina UMKM, petani, nelayan, guru, dan buruh sebagai fondasi sejati kemandirian bangsa.
Demikian pula media, akademisi, seniman, dan tokoh masyarakat punya tanggung jawab kolektif membentuk narasi kebangsaan yang positif dan memberdayakan. Kita perlu menyebarluaskan kisah sukses anak bangsa yang memilih untuk membangun dari desa, dari komunitas, dari nol, tetapi berhasil mengubah wajah lingkungannya. Kisah-kisah ini akan menjadi bahan bakar inspirasi, yang menggerakkan, bukan sekadar menghibur.
Kita juga harus sadar bahwa “bahagia” tidak selalu hadir dalam bentuk materi. Bahagia adalah saat seseorang merasa hidupnya bermakna, berdaya, dan berdampak. Dan tidak ada tempat yang lebih berharga untuk itu selain negeri sendiri, tempat sejarah, identitas, dan masa depan kita terukir.
Hari ini, lebih dari sebelumnya, kita butuh anak bangsa yang berani mencintai Indonesia secara aktif. Mencintai bukan berarti menerima semuanya tanpa kritik, tapi justru berani mengkritik untuk memperbaiki. Seperti anak yang ingin menyembuhkan ibunya yang sakit, bukan meninggalkannya demi kenyamanan sementara. Negeri ini bukan beban, ia adalah amanah. Negeri ini bukan milik segelintir elit, ia adalah warisan berjuta tangan petani, guru, pejuang, dan pemimpi yang tak pernah lelah membangun harapan.
Maka, wahai anak bangsa, jangan kabur dari ibu kandungmu. Jika negeri ini terasa gelap, jangan pergi—nyalakan lilin. Jika sistem terasa tak adil, jangan menghindar—bangun sistem baru yang lebih adil. Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukan saat kita berhasil menjadi warga kelas dua di negeri orang, tetapi ketika kita berhasil mengubah tanah kelahiran kita menjadi tempat yang layak untuk dihuni, dicintai, dan diwariskan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






