• Latest
Jangan Kabur dari Ibu Kandung: Saatnya Kembali Membangun Indonesia

Jangan Kabur dari Ibu Kandung: Saatnya Kembali Membangun Indonesia

Mei 28, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Jangan Kabur dari Ibu Kandung: Saatnya Kembali Membangun Indonesia

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Mei 28, 2025
in #Tagar Kabur aja dulu, Artikel, Luar negeri, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Jangan Kabur dari Ibu Kandung: Saatnya Kembali Membangun Indonesia
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dayan Abdurrahman

Peneliti Isu-isu Pendidikan dan Kebudayaan

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Di tengah derasnya arus globalisasi dan gemerlapnya janji-janji kehidupan di negeri orang, kita kerap melihat fenomena yang kian menguat: anak bangsa lebih percaya akan masa depan di luar negeri ketimbang di tanah air sendiri. Tak sedikit yang rela menjual tanah warisan keluarga, menggadaikan masa depan demi “sekadar kabur sejenak”, mencari nafkah, pendidikan, atau pelarian dari realitas Indonesia yang dianggap sumpek dan tidak menjanjikan. Namun benarkah “kabur” adalah solusi, dan negeri asing adalah jawaban?

Fenomena ini perlu dikaji lebih dalam, bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menyadarkan. Kita hidup di sebuah negeri yang oleh bangsa luar dianggap sebagai harta karun geopolitik dan geoekonomi. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman hayati yang tidak tertandingi, kekayaan budaya yang tak lekang oleh zaman, serta pasar domestik yang besar dan menggiurkan. Eropa pernah menyeberangi lautan hanya untuk rempah-rempah Nusantara. Kini, negara-negara besar seperti Cina, Amerika, Jepang, bahkan Timur Tengah berlomba-lomba menanam investasi dan menjejakkan kepentingannya di bumi pertiwi.

Ironisnya, kita yang lahir dan besar di tanah ini sering kali merasa seperti orang asing di negeri sendiri. Birokrasi yang kaku, ketimpangan ekonomi yang mencolok, dan tata kelola yang tidak berpihak pada rakyat kecil membuat sebagian dari kita merasa kalah sebelum bertanding. Maka, muncullah narasi “lebih baik cari hidup di luar negeri”, seolah negeri ini tak lagi layak diperjuangkan.

Padahal, negeri sendiri adalah seperti ibu kandung—mungkin tidak sempurna, tapi tetap darah dan daging kita. Negeri orang, meski penuh fasilitas dan kemewahan, tetaplah seperti ibu tiri—menampung kita atas dasar kebutuhan, bukan cinta.

Kita perlu mengubah cara pandang. Pergi ke luar negeri untuk belajar atau bekerja tentu tidak salah. Namun menjadikannya pelarian dan meninggalkan negeri sendiri tanpa kontribusi balik adalah kehilangan besar. Kita kehilangan pemuda-pemuda cerdas, pemikir-pemikir tajam, dan tenaga produktif yang seharusnya membangun desa-desa, kota-kota, serta peradaban bangsa dari dalam.

Bayangkan jika dana yang dikeluarkan untuk “kabur sejenak” dialihkan untuk membangun usaha lokal, mengembangkan pertanian organik, mendirikan sekolah berbasis nilai-nilai kebangsaan, atau mengembangkan teknologi berbasis kearifan lokal. Dengan semangat gotong royong dan keberanian untuk mencintai tanah sendiri, semua itu sangat mungkin terjadi. Indonesia bukan negeri yang miskin potensi—yang sering absen adalah keberanian untuk memelihara, mengelola, dan merawatnya dengan visi kebangsaan.

Peran negara dalam hal ini sangat penting. Pemerintah harus lebih hadir—bukan hanya dalam bentuk regulasi dan pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga dalam memelihara harapan rakyat. Pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pasar kerja, tetapi juga pada pembentukan karakter kebangsaan yang kuat. Kebijakan ekonomi yang tidak hanya memanjakan investor besar, tetapi juga membina UMKM, petani, nelayan, guru, dan buruh sebagai fondasi sejati kemandirian bangsa.

Demikian pula media, akademisi, seniman, dan tokoh masyarakat punya tanggung jawab kolektif membentuk narasi kebangsaan yang positif dan memberdayakan. Kita perlu menyebarluaskan kisah sukses anak bangsa yang memilih untuk membangun dari desa, dari komunitas, dari nol, tetapi berhasil mengubah wajah lingkungannya. Kisah-kisah ini akan menjadi bahan bakar inspirasi, yang menggerakkan, bukan sekadar menghibur.

Kita juga harus sadar bahwa “bahagia” tidak selalu hadir dalam bentuk materi. Bahagia adalah saat seseorang merasa hidupnya bermakna, berdaya, dan berdampak. Dan tidak ada tempat yang lebih berharga untuk itu selain negeri sendiri, tempat sejarah, identitas, dan masa depan kita terukir.

Hari ini, lebih dari sebelumnya, kita butuh anak bangsa yang berani mencintai Indonesia secara aktif. Mencintai bukan berarti menerima semuanya tanpa kritik, tapi justru berani mengkritik untuk memperbaiki. Seperti anak yang ingin menyembuhkan ibunya yang sakit, bukan meninggalkannya demi kenyamanan sementara. Negeri ini bukan beban, ia adalah amanah. Negeri ini bukan milik segelintir elit, ia adalah warisan berjuta tangan petani, guru, pejuang, dan pemimpi yang tak pernah lelah membangun harapan.

Maka, wahai anak bangsa, jangan kabur dari ibu kandungmu. Jika negeri ini terasa gelap, jangan pergi—nyalakan lilin. Jika sistem terasa tak adil, jangan menghindar—bangun sistem baru yang lebih adil. Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukan saat kita berhasil menjadi warga kelas dua di negeri orang, tetapi ketika kita berhasil mengubah tanah kelahiran kita menjadi tempat yang layak untuk dihuni, dicintai, dan diwariskan.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 332x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 291x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 246x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 236x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Gastronomi dan Keajaiban Tanah Priangan

Gastronomi dan Keajaiban Tanah Priangan

HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025
Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com