POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Manusia Dianggap Tak Lagi Perlu, AI Mengambil Alih

Siti HajarOleh Siti Hajar
May 28, 2025
Ketika Manusia Dianggap Tak Lagi Perlu, AI Mengambil Alih
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Siti Hajar

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah postingan di Instagram, yang entah kenapa terus terbayang sampai sekarang. Seorang programmer di Amerika Serikat, sudah 20 tahun bekerja di perusahaan yang sama. Bayangkan, dua puluh tahun. Dia membangun sistem, menulis ribuan baris kode, ikut dalam perjalanan perusahaan itu sejak masih kecil hingga besar. Tapi akhirnya… dia dipecat. Hanya karena pekerjaannya sekarang bisa digantikan oleh AI.

Katanya, keputusan itu datang begitu saja. Bukan karena dia tak kompeten, bukan karena masalah etika kerja. Tapi karena perusahaan ingin lebih cepat dan lebih murah. AI bisa melakukan semuanya, katanya. Lebih rapi, lebih hemat. Jadi, mereka tak butuh dia lagi.

Setelah itu, dia melamar ke 800 lebih perusahaan. Tapi belum ada satu pun yang menerima. Akhirnya dia jadi kurir makanan. Naik motor, antar pesanan, kerja fisik. Dia bilang, “Pekerjaanku sekarang nggak butuh otak. Hanya butuh tenaga dan kendaraan.”

Dan itu… bikin hati saya sesak, sedih. 

Dia saja yang pintar (seorang Programmer) bisa dikalahkan oleh kecerdasan buatan. Apalagi saya, dan kamu? Memiliki ilmu pas-pasan.

Dulu keadaan ini hanya sekadar kekhawatiran bahwa itu mungkin akan terjadi. Kata mungkin di sini bisa saja terjadi, tapi bisa juga tidak. Namun, ini sekarang sudah terjadi, ini sudah di depan mata. Dan beberapa sudah mengalaminya. 

Lihat saja perang Rusia dan Ukraina yang saat ini masih berlangsung. Bahkan tidak ada yang bisa memprediksi kapan ini akan berakhir. 

Bagaimana para tentara memainkan drone pengintai kemudian menembaki musuh tepat sasaran. Pun demikian yang terjadi di Gaza-Palestina. Drone dengan ukuran yang hanya sebesar lalat dari gambar udara, bahkan bisa masuk ke gorong-gorong, ke tempat-tempat persembunyian.

Konon lagi warga yang nampak langsung, sedang di dapur umum, sedang mengantri makanan, dengan mudah menjadi titik tembak drone yang dikendalikan ribuan kilometer jaraknya. 

Warga rentan Palestina, perempuan dan anak-anak dengan mudah mereka sasar, bahkan rumah sakit pun menjadi target tentara terkutuk- Isra*l. Lihatlah bagaimana AI dan robot mengambil alih tentara, yang ke-akuratannya kalah jauh dengan dengan drone. Mereka adalah tentara-tentara tanpa darah. 

Apakah ini masa depan yang kita tuju? Dunia di mana manusia perlahan dianggap tidak penting lagi karena semua bisa diganti mesin?

Selama ini kita bangga dengan kemajuan teknologi. Kagum lihat AI bisa buat desain, nulis artikel, bahkan bantu nyusun lagu. Tapi pernah nggak kita berhenti sejenak dan tanya: siapa yang tersingkir dalam proses ini?

Karena di balik semua itu, ada manusia-manusia yang perlahan tergeser. Bukan karena malas, tapi karena sistem sudah tak memberi ruang.

Tentu kita, kamu dan saya bukan orang yang anti teknologi. Semua percaya bahwa kecerdasan buatan seharusnya membuat hidup manusia lebih baik—bukan bikin manusia merasa nggak berguna. Saya membayangkan betapa perihnya hati si programmer itu. Dia bukan cuma kehilangan pekerjaan, tapi juga kehilangan harga diri. Seolah-olah dua puluh tahun hidupnya dianggap sia-sia.

Dan dia bukan satu-satunya. Kasus seperti ini mulai terjadi di banyak tempat. Bukan hanya programmer. Pekerjaan kreatif, administratif, bahkan tentara pun perlahan digantikan robot dan sistem otomatis. Dunia memang sedang berubah. Tapi sayangnya, tidak semua manusia siap dan tidak semua diberi kesempatan untuk beradaptasi.

Kita bisa membayangkan ke depan makin banyak perusahaan yang mem-PHK karyawannya dengan alasan efisiensi, mengurangi beban perusahaan, juga menghindari menghadapi protes dari pekerja yang tidak puas soal gaji dan rasa kemanusiaan yang dikebiri. 

📚 Artikel Terkait

Bahlil yang Bergeming

RA Kartini di Era Artificial Intelligence

MEMBATIK MEMBENTUK KARAKTER SANTRI DI PESANTREN THAWALIB GUNUANG

Aryos: Politik Uang Jebakan Batman Buat Rakyat

Saya menulis ini bukan karena saya punya solusi besar. Saya juga masih belajar. Tapi saya percaya, kita harus mulai bicara soal ini. Mulai sadar bahwa di balik layar-layar canggih, ada manusia yang bisa saja sedang kehilangan arah.

Mungkin sekarang saatnya kita tanya ulang: Teknologi ini sebenarnya untuk siapa? Kalau bukan untuk menjaga martabat manusia, lalu untuk apa?

Tulisan ini adalah bentuk kecil dari keresahan saya. Mungkin belum sempurna. Tapi semoga bisa jadi pengingat, bahwa di dunia yang makin sibuk mengejar efisiensi, kita tak boleh lupa memperjuangkan kemanusiaan.

Ketika Manusia Dianggap Tak Lagi Perlu

Tapi keresahan saya nggak berhenti di kisah si programmer itu. Beberapa hari setelahnya, saya duduk memperhatikan Dara anak saya belajar. Ada tugas sekolah yang cukup sulit, dan dengan santainya dia buka ponsel dan langsung bertanya ke ChatGPT. “Biar cepet, Aja,” katanya.

Atau bahkan saya sendiri saat Dara bertanya dan saya tidak terlalu paham apa yang menjadi pertanyaannya, otomatis saya langsung mengarahkannya ke Chat GPT.

”Cari di Chat GPT, aja.” Bukan karena malas berpikir, tetapi ada alat yang bisa digunakan dengan mudah dan cepat.

Iya, anak-anak sekarang sangat paham, ada yang bisa lebih cepat dan tepat menjawab soal daripada orang tua, bahkan gurunya.

Dan di situlah saya mulai bertanya dalam hati: Jika anak-anak sudah bisa mudah belajar dari AI, tentu suatu saat guru bahkan dosen akan tergantikan?

Ketika logika berjalan, saya kemudian memahami bahwa guru dan dosen bukan sekadar profesi. Mereka adalah pendidik, pembimbing, pengarah jalan. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa hari ini banyak siswa lebih percaya pada Google, YouTube, atau ChatGPT daripada pada penjelasan di kelas.

Apakah Guru Juga Akan Tergantikan?

Secara teknis, mungkin iya. Sudah ada video pembelajaran interaktif, simulasi AI, kelas daring otomatis. Bahkan sekarang banyak perusahaan teknologi mengembangkan “robot guru” yang bisa menjawab soal, mengevaluasi jawaban, bahkan mengenali ekspresi wajah murid.

Namun, kita harus tetap percaya, ada hal-hal yang tidak bisa diajarkan mesin. Mesin bisa menjelaskan, tapi tidak bisa memahami keresahan siswa. Mesin bisa memberi jawaban, tapi tidak bisa memberi semangat saat murid hampir menyerah. Mesin bisa mengoreksi, tapi tidak bisa memeluk dengan kata, “Kamu sudah berusaha, itu yang penting.”

Itu semua hanya bisa dilakukan oleh manusia. Oleh guru. Oleh Dosen. Oleh orang yang benar-benar hadir, bukan hanya secara data, tapi secara hati.

Saya menulis ini bukan untuk mengutuk teknologi. Justru saya merasa kita harus berdamai dengannya. Tapi berdamai bukan berarti menyerah. Kita perlu merebut kembali makna profesi-profesi yang perlahan mulai tergeser. Kita perlu menciptakan ruang di mana manusia tetap menjadi pusatnya.

Guru dan dosen mungkin akan dibantu oleh AI. Tapi jangan sampai mereka digantikan.

Saya juga tidak setuju, jika hari ini banyak guru dan dosen yang menghindari keberadaan AI, Chat GPT, atau assistant AI lainnya. Kita tidak bisa menutup mata. Saat semua mata tertuju bagaimana memanfaatkan AI untuk kemudahan belajar, sementara kita tetap kekeuh menolaknya, ini salah. 

Harusnya kita mulai beradaptasi dengan teknologi ini. Sudah menjadi hukum alam, siapa yang tidak mampu beradaptasi, maka dia akan punah.

Mungkin nanti tugas guru bukan lagi menjelaskan pelajaran seperti dulu, karena siswa bisa belajar dari berbagai sumber. Tapi guru tetap dibutuhkan sebagai pendamping belajar, sebagai penjaga semangat, sebagai orang yang mengajarkan nilai-nilai hidup yang tidak bisa diunduh dari internet.

Menjaga Api Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Dingin

Saya menulis ini sebagai bentuk kejujuran. Saya juga sedang belajar memahami zaman. Kadang saya takut, kadang saya semangat. Tapi yang pasti, saya tidak ingin dunia ini berubah terlalu cepat sampai-sampai kita kehilangan arah.

Saya ingin teknologi berkembang, iya. Tapi saya juga ingin anak-anak kita tumbuh dengan nilai-nilai yang diajarkan manusia, bukan sekadar informasi dari mesin.

Saya percaya, selama masih ada hati yang peduli, selama masih ada guru yang mau mendengar dan bukan cuma mengajar, selama masih ada manusia yang memilih untuk hadir sepenuhnya—maka dunia ini masih punya harapan.

Oleh karena itu saya mengajak pembaca, mari secara bijak memahami, beradaptasi dan memanfaatkan AI ini secara bijak. Wallahu’alam Bisshawab. []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
BENGKEL OPINI RAKyat

BENGKEL OPINI RAKyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00