Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Di ruang-ruang kuliah yang dingin oleh pendingin buatan, di antara dinding perpustakaan yang bisu dan mata laptop yang tak pernah tidur, para pemikir muslim modern menyusun kalimat demi kalimat—abstrak, metodologi, hasil, diskusi. Mereka kejar reputasi, indeksasi, akreditasi, dan apresiasi. Namun di sudut paling sunyi dalam dirinya, ada suara yang perlahan merintih: “Mengapa aku tidak lagi merasa damai meski telah menulis berjilid-jilid kebenaran?”
Zaman ini adalah zaman di mana sufisme dikebiri oleh sistem. Sebuah sistem yang mengukur kualitas intelektual dengan jumlah kutipan, bukan kedalaman makna. Sebuah ekosistem yang memuliakan skor SINTA tapi melupakan zikr, fikir, dan tadabbur. Ilmu menjelma jadi angka, bukan lagi lentera jiwa. Kita telah mengganti tasbih dengan turnitin, muraqabah dengan Google Scholar, dan ikhlaq dengan impact factor.
Kita sedang kehilangan keseimbangan itu.
Padahal, sejarah Islam bukan lahir dari laboratorium yang steril dari ruh. Ia tumbuh di taman sunyi para pemikir yang juga sufi—Ibnu Sina yang merenung di tengah malam, Al-Ghazali yang menulis “Ihya” setelah krisis eksistensialnya, bahkan Muhammad Iqbal yang mendamba kebangkitan Timur lewat pemurnian rohani. Mereka menulis tidak untuk ranking dunia, tapi karena mereka tahu bahwa kebenaran, bila disampaikan dengan jiwa yang bersih, akan menemukan jalannya sendiri.
Namun hari ini?
Kita hidup di dunia yang mencintai kecepatan, tapi kehilangan arah. Produktivitas intelektual dijadikan slogan dalam peradaban akademik yang keropos di dalam. Negara menggiring dosen dan peneliti untuk menghasilkan ratusan artikel, tetapi lupa bahwa satu zikir yang tulus bisa menenangkan dunia. Kita dibayar untuk berpikir, tapi tidak diajar untuk merasa. Kita diajari metodologi, tapi lupa adab. Kita dipaksa menulis, tapi tidak sempat membaca batin sendiri.
📚 Artikel Terkait
Spiritualitas itu bukan pelengkap, tapi pondasi.
Krisis ketenangan di kalangan cendekiawan muslim bukan sekadar masalah mental health. Ia adalah krisis epistemologi. Kita terjebak dalam positivisme sempit dan membuang epistemologi fitrah. Kita berpikir secara linear, padahal hakikat pengetahuan adalah spiral: dari Allah, oleh Allah, dan kembali kepada Allah. Tidak semua kebenaran dapat ditimbang dengan regresi. Tidak semua makna dapat diuji dengan uji-F. Ada yang hanya bisa dikecap lewat diam, tunduk, dan tawadhu.
Tradisi sufistik dalam dunia ilmu bukan nostalgia. Ia adalah pelampung bagi jiwa yang tenggelam.
Tentu, kita tidak anti publikasi. Kita tidak menolak modernitas. Tetapi kita menolak kesombongan ilmu yang kehilangan kemanusiaan. Kita menolak sistem yang menjadikan pengetahuan sebagai mesin industri. Kita menginginkan ruang bagi para pemikir muslim untuk bernapas dalam keheningan yang penuh makna, bukan hanya dalam kecepatan yang mematikan.
Sebab jika ilmu tak lagi menghadirkan kedamaian, untuk apa kita mengejarnya?
Mari kita renungkan kembali: Di tengah gemuruh kemajuan, apakah kita masih mengenali suara Tuhan di balik ayat-ayat akademik kita?
Jika tidak, mungkin sudah waktunya kita kembali.
Kembali ke sunyi. Kembali ke dzikir. Kembali ke diri.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






