Dengarkan Artikel
KEBUDAYAAN PERANG
Budhi dan daya
Kata nurani
Fikiran manusiawi
Apakah sampai
Pada ketegaan
Genosida kehidupan
Jika demikian
Anda bukan
Ciptaan Tuhan
Dari mana?
Rasanya kalian
Keturunan setan
Cipta membentuk
Karsa berkendak
Rasa memerindah
Kehidupan damai
Tanpa resah
Jika tiba tiba
Negara mencaplok negara
Tentara membentak anak anak
Membungkam supaya diam
Tembok hunian diruntuhkan
Anda bukan dari Tuhan
Mungkin alien planet Iblis
Nyatanya Anda bengis
Jika perjanjian
Berkali diingkari
Olehmu sendiri
Lantas dimana
Arti damai
Isu pelanggaran
Mensahkan pembalasan
Lebih kejam
Padahal tentaramu sendiri
Memang bernaluri
Praktekan strategi
Percobaan ngeri
Senjata terbaru
Dagangan kematian
Memang inilah
Marwah hidupmu
Kemakmuran setan
Haus terus menerus
Meminum darah
Makhluk Tuhan
Kalah berjatuhan
Silahkan bangga
Keberhasilan uji coba
Karena belum waktunya
Tuhan bertindak
Lehermu dicekik-Nya
Ditarik miring
Masukkan tungku
Api menyala
Nyawa kalian
Tetap abadi
Tidak mati mati
Di atas tungku
Api Abadi
Kebudayaan perang
Lucifer menantang
Eksistensi Tuhan
Iman kemakhlukan
Digenting goyangkan
Orang-orang berkepentingan
Mulai berwacana
Berwajah bersih
Meski hatinya kelabu
Pemimpin menjadi bijaksana
Oposan menari nari
Menyusup berbagai lini
Rakyat bingung
Menunggu gong
Berbunyi dengung
Siapa saja
Paling nyaring
Banyak pengikut
Meski giginya
Tajam bertaring
Inilah dunia
Makin tua
Oka Swastika Mahendra
Mimpi keluar bumi
Negara, Bali 21 Mei 2025
JIKA
Jika mungkin
Aku mohon
Dunia terbuka
Negara bernama sama
Semua sudut
Milik bersama
Tanpa batas
Tanpa dinding
Cinta dan kasih sayang
Hanya satu satunya
Mengalir bebas
Tanpa cela
Aku rindu
Semua bersatu
Harmoni keselarasan
Tanpa perbedaan
Tanpa saling mencela
Penyembahan bernama
Kesetiaan kehidupan
Jika mungkin
Aku mohon
Agama dan budaya
Bukan perintang
Menjadi penghalang
Bagi cinta dan kasih sayang
Jika mungkin
Sangat mohon
Dunia tanpa kekerasan
Tanpa peperangan
Tanpa darah
Hanya cinta dan kasih sayang
Jika mungkin aku mohon
Manusia saling
Mengerti
Menghargai
Mencintai
Dalam keselarasan dan harmoni
📚 Artikel Terkait
Jika mungkin
Tuhan bersedia
Isi dunia
Menjadi surga
Di mana cinta dan kasih sayang
Mengalir bebas
Tanpa cela
Mohon ini
Mungkin mimpi
Tidak akan pernah
Terwujud sepenuhnya
Tetapi setidaknya
Kita bisa berusaha Menciptakan dunia
Nir sengsara
Bebas culas
Harmoni saja
Penuh cinta
Oka Swastika Mahendra
Mimpi sebelum matahari terbit
Negara, Bali, 21 Mei 2025
*PERSETAN PERDAMAIAN*
_jika oleh serigala berbulu domba_
Palestina siapa peduli!
Persetan perdamaian
Jika yang menjabat tangan
Masih menggenggam bayonet
Bom di belakang punggung
Jika yang tersenyum
Pada meja perundingan
Baru saja
Kejam membakar
Rumah seorang ibu
Bergaya manusiawi
Menyisakan mainan anaknya
Terkubur di bawah tembok beton.
Badebah
Apa artinya “gencatan senjata”
Jika bau mesiu tetap bersiaga
Karena jeda hanyalah waktu
Untuk tetap kembali
Mengisi ulang peluru kebencian
Jangan khotbahi kami
Tentang cinta
Rasa kemanusiaan
Tentang dialog
Jika mikrofon internasional
Hanya berpihak pada penjajah
Tampak gagah
Duduk di kursi konferensi
Adalah makelar
Aktor berdasi
Penjual tanah leluhur kami
Demi tepuk tangan dunia
“Perdamaian” kata kalian
Ah badebah
Sementara desa kami
Kalian jadikan peta investasi
Kalian beri pilihan
Anak-anak kami
Untuk mati, mengungsi, atau lupa sejarahnya
Aku sangsi
Ingkar berkali kali
Maka kini
Jangan tawarkan kesepakatan
Yang selalu ditulis dengan tinta kolonial
Engkau tandatangani dengan darah kami
_Ah gombal_
Kami sudah hafal
Setiap surat perjanjian
Adalah perang baru dengan wajah diplomasi
Serigala berbulu domba
Datang membawa janji dan persenjataan
Mengajak duduk di meja bundar
Sementara tanah kami
Kalian potong potong
Menjadi kotak-kotak penjara
Keadilan tak pernah tumbuh
Jika akar kompromi busuk
Damai tak akan lahir
Dari rahim penindasan yang terus dibiarkan
Jadi, persetan perdamaian
jika itu berarti diam,
jika itu berarti lupa,
jika itu berarti kami harus berdamai
dengan luka yang tak pernah diobati.
Kami tidak butuh perdamaian
Yang menjadikan kami budak
Di negeri kami sendiri.
Kami ingin kemerdekaan
Bukan belas kasihan
Oka Swastika Mahendra
Mimpi dini hari
Negara, Bali 21 Mei 2025
ANAK-ANAK PALESTINA
Belajar merasa
Tentang kemanusiaan
Siapa yang mencintai
Anak anak terlunta
Tanah air Palestina
Saat malam
Mereka terlelap
Kedalam liang
Hangat meringkuk
Dalam pelukan ibu
Tak lebih dari batu nisan
Ketika langit
Bukan pelangi
Melainkan logam
Panas yang melesat
Dari dendam
Mereka tertidur
Dalam doa
Mulut tersendat
Mata terbuka
Makin dinihari
Tak lagi sempat
Menutup cerita
Ketika tergempur
Di antara reruntuhan
Boneka kehilangan nama
Sekolah berubah
Menjadi puing
Pelajaran luka
Siapa lagi
Bersedia beri
Saputangan kasih
Mengusap air mata
Makin habis
Tak sempat jatuh?
Karena hujan pun takut
Menimpa tubuh-tubuh kecil itu
Dunia menatap sedih
Sambil menggulung layar
Mengganti kanal
Bum bum bum
Lalu diam
Apakah cinta
Telah lupa
Jalan ke Gaza?
Kita semua
Harus bertanya
Apakah belas kasih
Kini buta arah
Tersesat di lorong diplomasi
Sampai sekarang
Masih berdebu
Namun lihatlah
Anak anak ini
Dari jari kecil
Meraba puing-puing
Lahir secercah cahaya
Bukan harapan murahan
Tetapi keberanian abadinya
Tidak bisa dihancurkan
Anak-anak itu
Sangat murni
Mereka tidak alpa
Masih setia
Menyebut nama Tuhan
Lidahnya tidak gentar
Meski berdarah
Mereka tetap
Masih bermain
Bukan karena
Perang itu hilang
Tapi karena jiwa mereka terlalu hidup
Menolak dikubur oleh kebencian
Siapa mencintai?
Anak-anak Palestina
Mungkin bukan kita
Karna hanya menulis puisi.
Tapi semoga
Kata-kata ini
Menjadi saksi
Bahwa pernah ada
Suara kecil
Sedang mencoba
Menamai luka
Anak anak Palestina
Dengan cinta
Oka Swastika Mahendra
Mimpi tengah malam
Negara, Bali 21 Mei 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






