POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

AI: Inovasi yang Menantang Hakikat Pemikiran Kritis

RedaksiOleh Redaksi
May 21, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Asrianda

Kecerdasan buatan (AI) hari ini bukan sekadar alat bantu teknologis, melainkan telah menjadi entitas budaya baru yang mengusik ruang-ruang berpikir, termasuk dalam ranah akademik dan jurnalisme. Ia hadir membawa kemudahan sekaligus kegelisahan—khususnya bagi para pemikir kritis, penulis ilmiah, dan pelaku editorial yang selama ini menjadikan kedalaman analisis dan orisinalitas sebagai nilai utama.

AI menjadi perbincangan global, bukan hanya karena kecanggihannya, tetapi juga karena pertanyaan filosofis yang ditimbulkannya: apakah AI merupakan berkah atau musibah bagi dunia intelektual? Di satu sisi, ia mempercepat akses informasi, merumuskan ide awal, hingga membantu menyusun tulisan dalam hitungan menit. Namun di sisi lain, muncul dilema etis dan intelektual—apakah pemikiran masih lahir dari proses perenungan, atau telah direduksi menjadi sekadar hasil algoritma?

Bagi kalangan editorial, terutama yang berkecimpung dalam dunia berita dan publikasi ilmiah, AI ibarat pedang bermata dua. Ia mampu menghasilkan draf berita atau abstrak akademik yang cukup rapi. Tetapi dalam proses itu, nuansa, konteks, dan kepekaan terhadap realitas kerap menghilang. Editorial bukan hanya soal merangkai kalimat, tetapi juga tentang tanggung jawab intelektual dan kepekaan terhadap makna. Di sinilah kecerdasan manusia—bukan buatan—masih menjadi pilar utama.

Yang lebih mengkhawatirkan, inovasi dan teori kini seperti barang dagangan. Dulu, merumuskan teori adalah hasil dari refleksi panjang, riset mendalam, dan keberanian berpikir berbeda. Hari ini, dengan bantuan AI, konsep dapat dirakit kapan saja—instan, cepat, dan terkadang tanpa ruh keilmuan. Apakah ini kemajuan, atau justru banalitas baru dalam dunia pemikiran?

📚 Artikel Terkait

Pelecehan Seksual Semakin Meningkat

Khamenei Akui Sendiri Jumlah Korban Mencapai Ribuan

SANG TOKOH

Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah

Pada akhirnya, AI tidak seharusnya dimusuhi, tetapi juga tidak boleh didewakan. Ia adalah alat—seperti pena, mesin cetak, atau internet—yang hanya akan sekuat dan sebijak penggunanya. Pemikir kritis dan sastrawan tidak boleh kehilangan tempatnya. Justru dalam era ini, kehadiran mereka semakin dibutuhkan untuk menjaga marwah intelektual dan memastikan bahwa makna, bukan hanya bentuk, tetap menjadi inti dari setiap karya yang dilahirkan. Ironisnya, banyak institusi pendidikan dan media justru belum siap menyikapi penetrasi AI ini secara menyeluruh. Di tengah euforia teknologi, belum ada standar etik dan metodologi yang jelas tentang bagaimana AI seharusnya digunakan dalam produksi karya ilmiah maupun jurnalistik. Celah inilah yang membuka ruang bagi penyalahgunaan, di mana karya-karya yang tampak ‘cerdas’ secara struktural, ternyata miskin makna dan tidak melalui proses berpikir mendalam.

Sebagian akademisi dan redaksi mencoba berdamai dengan kehadiran AI melalui integrasi selektif—misalnya dengan menggunakannya untuk penulisan awal atau analisis cepat. Namun tantangan terbesar tetap pada bagaimana mempertahankan kualitas nalar dan otentisitas dalam sebuah tulisan. Dalam hal ini, kecanggihan algoritma tidak bisa menggantikan nilai orisinalitas yang hanya bisa lahir dari pengalaman hidup, refleksi, dan sensitivitas terhadap konteks sosial dan budaya.

AI juga menciptakan standar baru dalam hal produktivitas. Penulis yang mampu menghasilkan puluhan artikel dalam waktu singkat kini bukan lagi hal yang mustahil. Namun, apakah kuantitas bisa dijadikan ukuran mutlak? Bukankah dunia pemikiran seharusnya lebih menghargai kedalaman daripada kecepatan? Di titik ini, kita sedang diuji: apakah kita akan menjadi masyarakat pembaca yang puas dengan kesan pintar dari teks, atau tetap menuntut kedalaman sebagai ukuran utama kualitas intelektual?

Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap risiko homogenisasi ide. Ketika banyak orang menggunakan AI dengan model dan referensi yang serupa, maka lahirlah pola pikir seragam—narasi yang repetitif dan argumen yang tidak jauh berbeda. Dunia literasi bisa terjebak dalam kebosanan intelektual, di mana inovasi hanya sebatas pengulangan dari yang sudah ada, dengan tampilan baru yang dipoles secara algoritmik.

Maka, tugas kita bukan hanya menyikapi AI sebagai teknologi, tetapi juga sebagai tantangan budaya. Bagaimana kita tetap menjaga nyala kritisisme di tengah gelombang otomatisasi? Bagaimana kita mendidik generasi baru agar tetap berpikir mendalam, menulis dengan nurani, dan menghargai proses intelektual, bukan sekadar hasil akhir? Di sinilah pentingnya etika literasi baru—sebuah panduan yang tidak hanya mengatur penggunaan AI, tetapi juga membangun kesadaran akan nilai dan makna dari setiap tulisan yang dihasilkan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Merayakan Kebangkitan Nasional di Era Artificial Intelligence

Merayakan Kebangkitan Nasional di Era Artificial Intelligence

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00