Dengarkan Artikel
MenikmatiĀ SatuĀ di antaraĀ PuisiĀ PenyairĀ TabraniĀ Yunis
Oleh: Atik Bintoro
Mengenal Penyair Tabrani Yunis, dan Puisi Gerimis Pagi ini
Menurutlaman https://potretonline.com/2025/05/13/gerimis-pagi-ini/, PenyairTabrani Yunis, lahir di Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh. Dia seorang guru bahasa Inggris, sudah menulis di media sejak tahun 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini, essay dan puisi. Menerbitkan buku antologi puisi ā Kulukis Namamu di Awanā. Tabrani Yunis juga aktif di gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013).
Pada kesempatan ini Penulis sebagai Penikmat Puisi, akan menikmati Puisi berjudul Gerimis Pagi ini, Karya Penyair Tabrani Yunis. Adapun Puisinya tayang seperti di bawah ini [1].
Gerimis Pagi ini
Gerimis pagi ini turun berembun pagi
Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi
Burung-burung diam bersembunyi
Senyap tanpa ada lantunan suara nyanyi
Pagi ini gerimis bernyanyi sendiri
Berlari-lari mengitari udara pagi
Menyebarkan sensasi
Menyambut terbitnya sang matahari
Gerimis pagi ini terus bernyanyi
Membelah sepi
Mengurai sunyi
Mengiringi gerak gadis kecil menari
Gerimis pagi terus menari
Menghibur hati nan sedang sendiri
Menikmati pagi dengan secangkir kopi
Anugerah ilahi yang sangat berarti
Gerimis pagi belum reda berhenti
Basahi pagi sebelum fajar beranjak pergi
Janganlah gusar hadapi hari
Gerimis turun membawa rezeki dari Ilahi
Gerimis pagi ini masih enggan berhenti
Sebelum rintik dan rinainya disusun rapi
Terurai dalam sebait puisi
Gerimis pagi ini
Menelusuri Puisi Gerimis Pagi Ini
Puisi berjudul /Germis Pagi ini/, karya Penyair Tabrani Yunis seperti yang tertulis di atas, akan disusun ulang agar memudahkan di dalam menikmati Puisi tersebut. Puisi disusun seperti di bawah ini.
Gerimis Pagi ini
1.
Gerimis pagi ini turun berembun pagi (1)
Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi (2)
Burung-burung diam bersembunyi (3)
Senyap tanpa ada lantunan suara nyanyi (4)
2.
š Artikel Terkait
Pagi ini gerimis bernyanyi sendiri (1)
Berlari-lari mengitari udara pagi (2)
Menyebarkan sensasi (3)
Menyambut terbitnya sang matahari (4)
3.
Gerimis pagi ini terus bernyanyi (1)
Membelah sepi (2)
Mengurai sunyi (3)
Mengiringi gerak gadis kecil menari (4)
4.
Gerimis pagi terus menari (1)
Menghibur hati nan sedang sendiri (2)
Menikmati pagi dengan secangkir kopi (3)
Anugerah ilahi yang sangat berarti (4)
5.
Gerimis pagi belum reda berhenti (1)
Basahi pagi sebelum fajar beranjak pergi (2)
Janganlah gusar hadapi hari (3)
Gerimis turun membawa rezeki dari Ilahi (4)
6,
Gerimis pagi ini masih enggan berhenti (1)
Sebelum rintik dan rinainya disusun rapi (2)
Terurai dalam sebait puisi (3)
Gerimis pagi ini (4)
Puisi berjudul /Germis Pagi ini/, karya Penyair Tabrani Yunis di atas akan dinikmati menggunakan peralatan pemindaian: rasa, logika dan makna; berdasarkan pendekatan dari sisi: makna bahasa, praduga metafora, keterkaitan dengan diksi diksi pada satu dua puisi yang sudah beredar di masa sebelumnya, dan bantuan analisisberbasis aplikasi kecerdasan buatan semisal Meta AI.
Diksi pada judul /Gerimis Pagi ini/ mengingatkan pada fenomena Gerimis dan Pagi. Gerimis adalah hujan kecil kecil atau hujan ringan. Pada umumnya bulatan air gerimis berukuran diameter lebih kecil dari 0.5 mm. Kapasitas air gerimis yang jatuh belum memungkinkan menjadi hujan deras [2]. Sedangkan diksi pagi pada umumnya untuk Waktu Indonesia Bagian barat (WIB) berlaku beberapa isitilah, yaitu: Dini hari dari Jam 00.01s/d 02.00, Pagi buta dari Jam 02.01 s/d 04.00, Pagi pagi dari Jam 04.01 s/d 06.00, Pagi hari dari Jam 06.01 s/d 08.00. Diksi /Pagi ini/ berpotensi terjadi pada jam 06.01 s/d 08.00.
Penyair Tabrani Yunis rupa rupamya berhasil mengungkapkan: logika, makna, dan rasa keindahan yang menyangkut suasana pagi bergerimis, melalui gaya ungkap apa adanya, hampir tanpa metafora rumit. Meskipun kadang ada sedikit tanya dari penikmat puisi yang mungkin memperhatikan detail suasana, misalnya di bait 1, baris 1 & 2.
/Gerimis pagi ini turun berembun pagi (1)
Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi (2)/
Pada bait (1) diksi /Gerimis/, dan /pagi/ secara sekilas sudah disampaikan di uraian di atas. Sedangkan diksi /berembun/ mengingatkan pada embun, yang biasanya turun di waktu malam hari, karena kondensasi udara atau uap, kemudian membentuk embun berupa butiran air. Embun seringkali menempel bergelayut di daun dan di rerumputan.
Pada pagi hari bersamaan dengan gerimis yang membawa hawa dingin, bisa timbul kondensasi udara pagi, kemudian mengembun di permukaan yang dingin, misalnya di kaca mobil bagian luar, atau pun di meja dan kursi yang berada di luar ruangan. Semua permukaan terasa basah oleh embun, termasuk mampu /Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi (2)/.
Dari baris (1) dan (2) ini, sepertinya Sang Penyair berusaha memanfaatkan makna ganda kata kata dalam ranah multi tafsir alias Polisemi [3], sehingga berpotensi hampir tidak ketahuan kalau kalimatnya mengandung polisemi, kecuali bagi penikmat yang mulai punya naluri mengerti tentang Polisemi.
Bagaimana tidak, embun yang biasanya turun di malam hari, dan kadang tidak selalu berbarengan dengan gerimis, di tangan Penyair Tabrani Yunis menjadi bagai pedang bermata seribu. Hal ini memungkinkan bagi beragam penikmat bisa leluasa: merasakan, memaknai, dan melogikakan setiap pindaian kata yang terendus di benak penikmat. Misalnya ada yang mengajukan pertanyaan: mengapa diksi /gerimis pagi/ selalu tayang di hampir setiap bait? Apakah diksi ini semacam metafora yang diperluas, simbol tesembunyi, atau kah diksi terang benderang yang bermakna apa adanya, tanpa harus menafsirkan arti misteri apa yang ada di balik diksi.Beragam tanya dari beragam penikmat berpotensi bisa menikmati tanya jawab mengenai masing masing kandungan diksi.
Jawabannya pun bisa beragam, sesuai latar belakang atau latar depan penikmat puisi. Misal jawaban bisa mengarah pada pikiran bahwa diksi tersebut merupakan metafora yang diperluas memasuki ranah makna batin dan spiritual dari diksi yang sudah disampaikan [4], sekaligus bisa dibaca berulang dari bait demi bait, dari baris ke baris, naik turun, atau pun turun naik; dari bawah ke atas, atau sebaliknya. Sehingga penikmat bisa mendapatkan fenomena intertekstual di antara beberapa barisnya [5], tanpa harus membandingkan dengan puisi lain karya Sang Penyair Tabrani Yunis sendiri, maupun karya Penyair lain.
Dari potensi fenomena intertekstual ini, puisi /Gerimis Pagi ini/ bisa disusun ulang lagi menjadi semacam kalimat majemuk setara [6] yang hanya menampilkan diksi /Gerimis pagi ini/ cukup sekali dua kali saja, karena dipandang bisa mewakili makna keseluruhan, dan memungkinkan tidak terjadi perubahan: rasa, makna, dan logika puisi. Adapun kalimat puisi yang dimaksud yang kata /Gerimis Pagi ini/ nya dua kali saja, di awal, dan di akhir kalimat, adalah:
Gerimis pagi ini turun berembun pagi, Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi,
Burung-burung diam bersembunyi, Senyap tanpa ada lantunan suara nyanyi, bernyanyi sendiri, Berlari-lari mengitari udara pagi, Menyebarkan sensasi, Menyambut terbitnya sang matahari, terus bernyanyi, Membelah sepi, Mengurai sunyi, Mengiringi gerak gadis kecil menari, terus menari, Menghibur hati nan sedang sendiri, Menikmati pagi dengan secangkir kopi, Anugerah ilahi yang sangat berarti, belum reda berhenti, Basahi pagi sebelum fajar beranjak pergi, Janganlah gusar hadapi hari, Gerimis turun membawa rezeki dari Ilahi, pagi ini masih enggan berhenti, Sebelum rintik dan rinainya disusun rapi, Terurai dalam sebait puisi Gerimis pagi ini.
Dari kalimat puisi yang telah disusun ulang seperti di atas, dapat dinikmati bahwa kalimat kalimat puisinya dapat diduga sebagai beberapa pernyataan deskripsi dari induk kalimat /Gerimis Pagi ini/.
Masing masing pernyataan tersebut hampir tidak ada hubungan deduksi induksi ala silogisme Aristoteles [7]. Sehingga jika dihilangkan satu kalimat pernyataannya, akan tidak mempengaruhi pernyataan yang lain, karena mereka saling lepas, dan sanggup berdiri sendiri sendiri.Di sisi lain, juga bisa timbul tanya: Bagaimana hubungan dksi /Gerimis Pagi ini/ yang ada di setiap bait, saling bergantung atau kah saling lepas, dalam arti terjadi di pagi hari yang sama, atau berbeda?
Rupa rupanya di sinilah kelihaian Sang Penyair dalam bermain fenomena polisemi dalam baris baris puisi. Adapun tafsir puisi dari aplikasi kecerdasan dalam bentuk gambar adalah di bawah ini [8].

Tafsir Puisi Gerimis Pagi ini dalam bentuk gambar dari Aplikasi Kecerdasan Buatan
Mungkin sambil ngopi, Penyair pun menikmati pagi, meski tanpa gerimis sekali pun, dan sedang membayangkan para Penikmat puisinya bertanya tanya: Masa sich begitu, jangan jangan: makna, rasa, dan logika; puisi ini begini ini.Hmā¦
Selamat berpusi
dan teruslah berpuisi!
DAFTAR PUSTAKA
1. Tabrani Yunis, 2025, Gerimis Pagi ini, Potret Online
2. Gerimis, 2025, Wikipedia Ensklopedi Bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Gerimis
3. Regina Riamoriska Kolin, I Putu Dewa Wijana, 2025, Polisemi Leksem Heart: Kajian
Semantik, Jurnal Pendidikan Indonesia, p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920
Vol. 6 No. 4 April 2025
4. Nurdiana simbolon1, Irma Suryani2, Julisah Izar, 2023, Analisis Struktur Fisik dan Batin Pada Puisi āMembenci Tuhan Dan Aliran Pedangā Karya Gus Ubab, Kajian Linguistik dan Sastra P-ISSN 2963-8380, Vol 1, No 3, Januari 2023
5. Septoriana Maria Nino, 2023, Intertekstualitas Puisi āDi Jembatan Mirabeauā karya Agus R. Sarjono dan Le Pont Mirabeau karya Guillaume Apollinaire, NUSA, Vol. 15 No. 3 Agustus 2020
6. Hamsiah Djafar, 2017, Penggunaan Kalimat Majemuk Dalam Karya Tulis Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 – Desember 2017
7. Imron Mustofa, 2016, endela Logika dalam Berfikir: Deduksi dan Induksi sebagai Dasar Penalaran Ilmiah, EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, Volume 6, Nomor 2, Juli-Desember 2016
8. Gemini Flash 0.2, https://gemini.google.com/app
Penulis: Atik Bintoro atau sering dikenal sebagai Kek Atek
Penikmat Puisi tinggal di Rumpin, Kab. Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
Pegiat Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek
š„ 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





