• Latest
Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini - 2025 05 19 09 54 04 | # Bedah Puisi | Potret Online

Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini

Mei 19, 2025
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini - 1001348646_11zon | # Bedah Puisi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini - 1001353319_11zon | # Bedah Puisi | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini - 1001361361_11zon | # Bedah Puisi | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
de2293cc-7c03-4d26-8a68-a4db3f4d65b4

Sinergi Fiskal Syariah: Navigasi Zakat Perdagangan di Era Mata Uang Modern

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini

Redaksi by Redaksi
Mei 19, 2025
in # Bedah Puisi, #Polisemi, Apresiasi Sastra
Reading Time: 12 mins read
0
Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini - 2025 05 19 09 54 04 | # Bedah Puisi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Menikmati Satu di antara Puisi Penyair Tabrani Yunis

Oleh: Atik Bintoro

Mengenal Penyair Tabrani Yunis, dan Puisi Gerimis Pagi ini

Baca Juga
  • Pujangga Lama dan Pujangga Baru Punah, Karena Tidak Mendapat Tempat Dalam Negara Sistem Republik
  • Tabrani Yunis dan Puisi yang Menghidupkan Ghirah Ibadah

Menurutlaman https://potretonline.com/2025/05/13/gerimis-pagi-ini/, PenyairTabrani Yunis, lahir di Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh. Dia seorang guru bahasa Inggris, sudah menulis di media sejak tahun 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini, essay dan puisi. Menerbitkan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan”. Tabrani Yunis juga aktif di gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). 

Pada kesempatan ini Penulis sebagai Penikmat Puisi, akan menikmati Puisi berjudul Gerimis Pagi ini, Karya Penyair Tabrani Yunis. Adapun Puisinya tayang seperti di bawah ini [1].

Baca Juga
  • Slow Productivity
  • Di Balik Romantisme Hujan: Diskusi Kajian Semiotika dan Feminis Cerpen Fileski di Madiun

Gerimis Pagi ini

Gerimis pagi ini turun berembun pagi 

Baca Juga
  • Ketika Sastra Alpa dari Bangku Sekolah
  • Memperkuat Identitas Bangsa Lewat Bahasa dan Sastra di Sekolah

Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi

Burung-burung diam bersembunyi 

Senyap tanpa ada lantunan suara nyanyi

Pagi ini gerimis bernyanyi sendiri

Berlari-lari mengitari udara pagi

Menyebarkan sensasi 

Menyambut terbitnya sang matahari

Gerimis pagi ini terus bernyanyi

Membelah sepi

Mengurai sunyi

Mengiringi gerak gadis kecil menari

Gerimis pagi terus menari

Menghibur hati nan sedang sendiri

Menikmati pagi dengan secangkir kopi

Anugerah ilahi yang sangat berarti

Gerimis pagi belum reda berhenti 

Basahi pagi sebelum fajar beranjak pergi

Janganlah gusar hadapi hari

Gerimis turun membawa rezeki dari Ilahi

Gerimis pagi ini masih enggan berhenti

Sebelum rintik dan rinainya disusun rapi

Terurai dalam sebait puisi

Gerimis pagi ini

Menelusuri Puisi Gerimis Pagi Ini

Puisi berjudul /Germis Pagi ini/, karya Penyair Tabrani Yunis seperti yang tertulis di atas, akan disusun ulang agar memudahkan di dalam menikmati Puisi tersebut. Puisi disusun seperti di bawah ini.

Gerimis Pagi ini

1.

Gerimis pagi ini turun berembun pagi (1)

Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi (2)

Burung-burung diam bersembunyi (3)

Senyap tanpa ada lantunan suara nyanyi (4)

2.

Pagi ini gerimis bernyanyi sendiri (1)

Berlari-lari mengitari udara pagi (2)

Menyebarkan sensasi (3)

Menyambut terbitnya sang matahari (4)

3.

Gerimis pagi ini terus bernyanyi (1)

Membelah sepi (2)

Mengurai sunyi (3)

Mengiringi gerak gadis kecil menari (4)

4.

Gerimis pagi terus menari (1)

Menghibur hati nan sedang sendiri (2)

Menikmati pagi dengan secangkir kopi (3)

Anugerah ilahi yang sangat berarti (4)

5.

Gerimis pagi belum reda berhenti (1)

Basahi pagi sebelum fajar beranjak pergi (2)

Janganlah gusar hadapi hari (3)

Gerimis turun membawa rezeki dari Ilahi (4)

6,

Gerimis pagi ini masih enggan berhenti (1)

Sebelum rintik dan rinainya disusun rapi (2)

Terurai dalam sebait puisi (3)

Gerimis pagi ini (4)

Puisi berjudul /Germis Pagi ini/, karya Penyair Tabrani Yunis di atas akan dinikmati menggunakan peralatan pemindaian: rasa, logika dan makna; berdasarkan pendekatan dari sisi: makna bahasa, praduga metafora, keterkaitan dengan diksi diksi pada satu dua puisi yang sudah beredar di masa sebelumnya, dan bantuan analisisberbasis aplikasi kecerdasan buatan semisal Meta AI.

Diksi pada judul /Gerimis Pagi ini/ mengingatkan pada fenomena Gerimis dan Pagi. Gerimis adalah hujan kecil kecil atau hujan ringan. Pada umumnya bulatan air gerimis berukuran diameter lebih kecil dari 0.5 mm. Kapasitas air gerimis yang jatuh belum memungkinkan menjadi hujan deras [2]. Sedangkan diksi pagi pada umumnya untuk Waktu Indonesia Bagian barat (WIB) berlaku beberapa isitilah, yaitu: Dini hari dari Jam 00.01s/d 02.00, Pagi buta dari Jam 02.01 s/d 04.00, Pagi pagi dari Jam 04.01 s/d 06.00, Pagi hari dari Jam 06.01 s/d 08.00. Diksi /Pagi ini/ berpotensi terjadi pada jam 06.01 s/d 08.00.

Penyair Tabrani Yunis rupa rupamya berhasil mengungkapkan: logika, makna, dan rasa keindahan yang menyangkut suasana pagi bergerimis, melalui gaya ungkap apa adanya, hampir tanpa metafora rumit. Meskipun kadang ada sedikit tanya dari penikmat puisi yang mungkin memperhatikan detail suasana, misalnya di bait 1, baris 1 & 2.

/Gerimis pagi ini turun berembun pagi (1) 

Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi (2)/

Pada bait (1) diksi /Gerimis/, dan /pagi/ secara sekilas sudah disampaikan di uraian di atas. Sedangkan diksi /berembun/ mengingatkan pada embun, yang biasanya turun di waktu malam hari, karena kondensasi udara atau uap, kemudian membentuk embun berupa butiran air. Embun seringkali menempel bergelayut di daun dan di rerumputan. 

Pada pagi hari bersamaan dengan gerimis yang membawa hawa dingin, bisa timbul kondensasi udara pagi, kemudian mengembun di permukaan yang dingin, misalnya di  kaca mobil bagian luar, atau pun di meja dan kursi yang berada di luar ruangan. Semua permukaan terasa basah oleh embun, termasuk mampu /Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi (2)/.

Dari baris (1) dan (2) ini, sepertinya Sang Penyair berusaha  memanfaatkan makna ganda kata kata dalam ranah multi tafsir alias Polisemi [3], sehingga berpotensi hampir tidak ketahuan kalau kalimatnya mengandung polisemi, kecuali bagi penikmat yang mulai punya naluri mengerti tentang Polisemi. 

Bagaimana tidak, embun yang biasanya turun di malam hari, dan kadang tidak selalu berbarengan dengan gerimis, di tangan Penyair Tabrani Yunis menjadi bagai pedang bermata seribu. Hal ini memungkinkan bagi beragam penikmat bisa leluasa: merasakan, memaknai, dan melogikakan setiap pindaian kata yang terendus di benak penikmat. Misalnya ada yang mengajukan pertanyaan: mengapa diksi /gerimis pagi/ selalu tayang di hampir setiap bait? Apakah diksi ini semacam metafora yang diperluas, simbol tesembunyi, atau kah diksi terang benderang yang bermakna apa adanya, tanpa harus menafsirkan arti misteri apa yang ada di balik diksi.Beragam tanya dari beragam penikmat berpotensi bisa menikmati tanya jawab mengenai masing masing kandungan diksi.

Jawabannya pun bisa beragam, sesuai latar belakang atau latar depan penikmat puisi. Misal jawaban bisa mengarah pada pikiran bahwa diksi tersebut merupakan metafora yang diperluas memasuki ranah makna batin dan spiritual dari diksi yang sudah disampaikan [4], sekaligus bisa dibaca berulang dari bait demi bait, dari baris ke baris, naik turun, atau pun turun naik; dari bawah ke atas, atau sebaliknya. Sehingga penikmat bisa mendapatkan fenomena intertekstual di antara beberapa barisnya [5], tanpa harus membandingkan dengan puisi lain karya Sang Penyair Tabrani Yunis sendiri, maupun karya Penyair lain. 

Dari potensi fenomena intertekstual ini, puisi /Gerimis Pagi ini/ bisa disusun ulang lagi menjadi semacam kalimat majemuk setara [6] yang hanya menampilkan diksi /Gerimis pagi ini/ cukup sekali dua kali saja, karena dipandang bisa mewakili makna keseluruhan, dan memungkinkan tidak terjadi perubahan: rasa, makna, dan logika puisi. Adapun kalimat puisi yang dimaksud yang kata /Gerimis Pagi ini/ nya dua kali saja, di awal, dan di akhir kalimat, adalah:

Gerimis pagi ini turun berembun pagi, Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi, 

Burung-burung diam bersembunyi, Senyap tanpa ada lantunan suara nyanyi, bernyanyi sendiri,  Berlari-lari mengitari udara pagi, Menyebarkan sensasi, Menyambut terbitnya sang matahari, terus bernyanyi, Membelah sepi, Mengurai sunyi, Mengiringi gerak gadis kecil menari, terus menari, Menghibur hati nan sedang sendiri, Menikmati pagi dengan secangkir kopi, Anugerah ilahi yang sangat berarti, belum reda berhenti, Basahi pagi sebelum fajar beranjak pergi, Janganlah gusar hadapi hari, Gerimis turun membawa rezeki dari Ilahi, pagi ini masih enggan berhenti, Sebelum rintik dan rinainya disusun rapi, Terurai dalam sebait puisi Gerimis pagi ini.

Dari kalimat puisi yang telah disusun ulang seperti di atas, dapat dinikmati bahwa kalimat kalimat puisinya dapat diduga sebagai beberapa pernyataan deskripsi dari induk kalimat /Gerimis Pagi ini/.

Masing masing pernyataan tersebut hampir tidak ada hubungan deduksi induksi ala silogisme Aristoteles [7]. Sehingga jika dihilangkan satu kalimat pernyataannya, akan tidak mempengaruhi pernyataan yang lain, karena mereka saling lepas, dan sanggup berdiri sendiri sendiri.Di sisi lain, juga bisa timbul tanya: Bagaimana hubungan dksi /Gerimis Pagi ini/ yang ada di setiap bait, saling bergantung atau kah saling lepas, dalam arti terjadi di pagi hari yang sama, atau berbeda?

Rupa rupanya di sinilah kelihaian Sang Penyair dalam bermain fenomena polisemi dalam baris baris puisi. Adapun tafsir puisi dari aplikasi kecerdasan dalam bentuk gambar adalah di bawah ini [8].

Tafsir Puisi Gerimis Pagi ini dalam bentuk gambar dari Aplikasi Kecerdasan Buatan

Mungkin sambil ngopi, Penyair pun menikmati pagi, meski tanpa gerimis sekali pun, dan sedang membayangkan para Penikmat puisinya bertanya tanya: Masa sich begitu, jangan jangan: makna, rasa, dan logika; puisi ini begini ini.Hm…

Selamat berpusi

dan teruslah berpuisi!

DAFTAR PUSTAKA

1. Tabrani Yunis, 2025, Gerimis Pagi ini, Potret Online

Gerimis Pagi ini

2. Gerimis, 2025, Wikipedia Ensklopedi Bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Gerimis

3. Regina Riamoriska Kolin, I Putu Dewa Wijana, 2025, Polisemi Leksem Heart: Kajian  

   Semantik, Jurnal Pendidikan Indonesia, p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920  

   Vol. 6 No. 4 April 2025

4.  Nurdiana simbolon1, Irma Suryani2, Julisah Izar, 2023, Analisis Struktur Fisik dan Batin Pada Puisi “Membenci Tuhan Dan Aliran Pedang” Karya Gus Ubab, Kajian Linguistik dan Sastra P-ISSN 2963-8380, Vol 1, No 3, Januari 2023

https://online-journal.unja.ac.id/kal

5. Septoriana Maria Nino, 2023, Intertekstualitas Puisi “Di Jembatan Mirabeau” karya Agus R. Sarjono dan Le Pont Mirabeau karya Guillaume Apollinaire, NUSA, Vol. 15 No. 3 Agustus 2020

6. Hamsiah Djafar, 2017, Penggunaan Kalimat Majemuk Dalam Karya Tulis Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 – Desember 2017

7. Imron Mustofa, 2016, endela Logika dalam Berfikir: Deduksi dan Induksi sebagai Dasar Penalaran Ilmiah, EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, Volume 6, Nomor 2, Juli-Desember 2016

8. Gemini Flash 0.2, https://gemini.google.com/app

Penulis: Atik Bintoro atau sering dikenal sebagai Kek Atek

Penikmat Puisi tinggal di Rumpin, Kab. Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
Pegiat Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Sudah di Luar Nurul, Nenek 92 Tahun pun Disidang di Pengadilan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com