Dengarkan Artikel
Oleh: Tabrani Yunis
Bhoi Morica merupakan inovasi pangan fungsional berbasis kue tradisional Aceh yang dikembangkan sebagai solusi lokal untuk mengatasi dua masalah kesehatan yang krusial, yaitu stunting dan infeksi cacing parasit. Produk ini menggabungkan nilai budaya dan potensi nutrisi dari bahan-bahan lokal seperti tepung biji pepaya, tepung daun kelor, dan gula aren, menjadikannya sebagai camilan bergizi dengan manfaat kesehatan yang telah didukung oleh kajian teoretis dan potensi terapeutik yang menjanjikan.
Di balik tampilan Bhoi Morica yang sederhana dan tradisional, tersimpan misi besar yang melampaui sekadar kenikmatan rasa. Produk ini lahir dari inisiatif tiga mahasiswa Universitas Syiah Kuala, yaitu Nelli Desianti, Sarah Salsabil, dan Putri Salsabila Rinaldi yang ingin membuktikan bahwa pangan lokal dapat menjadi suatu agen perubahan. Bagi tim ini, setiap potong Bhoi Morica bukan hanya sekadar makanan, melainkan simbol harapan, harapan seorang ibu untuk melihat anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan tangguh, meskipun di tengah keterbatasan.
Ketiga mahasiswa ini memegang peran penting dalam mengembangkan Bhoi Morica, tidak hanya sebagai pencetus ide, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam setiap tahap proses dari riset ilmiah, formulasi resep yang kaya gizi, hingga penyusunan strategi pemasaran sosial. Mereka aktif mengikuti kompetisi inovasi dan meraih berbagai penghargaan, menjalin kerja sama dengan komunitas ibu-ibu lokal, serta mempresentasikan produk ini dalam berbagai forum nasional. Komitmen mereka membawa Bhoi Morica dari sebuah ide sederhana menjadi representasi Aceh di panggung global, sekaligus memperkuat posisi generasi muda sebagai agen perubahan berbasis sains dan budaya.
Bhoi Morica diciptakan secara cermat, bukan hanya untuk memuaskan selera, tetapi juga untuk memberikan manfaat fungsional yang nyata. Kombinasi bahan-bahan aktif dalam produk ini dirancang untuk meningkatkan asupan gizi, mendukung sistem imun, serta membantu mencegah stunting dan infeksi cacing. Visi ini selaras dengan upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting nasional, yang masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah di Indonesia.
Lebih dari sekadar inovasi pangan, Bhoi Morica juga mengusung semangat pemberdayaan ekonomi dan sosial. Dalam proses produksinya, ibu-ibu lokal dilibatkan secara aktif, mulai dari pelatihan pengolahan bahan, produksi, hingga pengemasan produk secara mandiri. Dari dapur-dapur sederhana, lahirlah produk lokal yang kini siap tampil di kancah internasional, membawa semangat kemandirian dan keberlanjutan.
Inovasi ini secara konkret mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain:
📚 Artikel Terkait
SDG 2: Tanpa Kelaparan,
SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
SDG 5: Kesetaraan Gender,
SDG 9: Inovasi dan Infrastruktur Berkelanjutan, serta
SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Dengan tujuan-tujuan tersebut, Bhoi Morica siap diusungkan sebagai solusi stunting dan cacingan global di kegiatan Korea International Women’s Invention Exposition (KIWIE) 2025. Menurut data WHO tahun 2022, terdapat sekitar 149 juta anak balita di dunia mengalami stunting, dengan hampir setengah dari angka kematian anak terkait dengan malnutrisi. Di Indonesia, tingkat infeksi cacing masih tinggi, berkisar antara 2,5% hingga 62%, sebagaimana tercatat dalam PERMENKES RI tahun 2023. Kondisi ini menunjukkan pentingnya intervensi gizi dan kesehatan yang lebih tepat sasaran, terutama melalui pendekatan berbasis pangan lokal.
Penelitian terhadap Bhoi, kue tradisional asal Aceh, menunjukkan kandungan protein sebesar 0,96% dan karbohidrat sebesar 69,97%, menjadikannya sumber energi yang potensial. Inovasi Bhoi Morica memperkaya nilai gizi tersebut dengan biji pepaya (Carica papaya L.) yang mengandung senyawa aktif seperti benzyl isothiocyanate (BITC), sinigrin, myrosin, dan carpasein yang dikenal memiliki efek antibakteri dan anthelmintik. Sementara itu, tepung daun kelor (Moringa oleifera L.) ditambahkan sebagai antioksidan kuat yang berpotensi mencegah stres oksidatif, salah satu penyebab stunting. Gula aren, sebagai pemanis alami, berkontribusi pada peningkatan asupan mikronutrien penting, khususnya bagi wanita dan anak-anak.
Inovasi cemilan Bhoi Morica menawarkan solusi preventif infeksi cacingan dan stunting berbasis pangan lokal yang aman, berkelanjutan, dan ramah lingkungan dan memperkuat kesehatan ibu sebagai kunci utama dalam memutus siklus malnutrisi dengan berdampak signifikan bagi anak-anak dan calon Ibu yang membutukan nutrisi lebih dan mencegah cacingan dan stunting pada anak tanpa efek samping. Bhoi Morica juga membuka peluang ekonomi bagi perempuan melalui produksi skala komunitas, menjadikannya inovasi yang mendukung peran perempuan dalam kesehatan, pemberdayaan, dan ketahanan pangan keluarga, sehingga produk inovasi ini berhasil lulus pada pihak penyelenggara INNOPA dan bisa dilanjutkan untuk tahapan selanjutnya pada kompetisi KIWIE 2025.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






