Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Hanya di negeri ini persoalan ijazah selalu heboh. Ijazah Jokowi saja sudah membuat negeri ini bak sinetron yang tidak ada ujungnya. Ini tambah lagi ijazah karyawan yang ditahan pihak perusahaan. Sebelumnya terjadi di Surabaya, kali ini di Pekanbaru Riau. Siapkan kopi lagi wak, karena sinetron ijazah selalu enak dinikmati.
Inilah babak terbaru dari epos panjang Ijazah Tersandera: Wamenaker vs Sanel Tour & Travel, volume dua, tayang di Pekanbaru, Riau. Rabu, 14 Mei 2025, Wakil Menteri Tenaga Kerja, Immanuel Ebenezer Gerungan yang kita kenal akrab sebagai Noel, kembali menjejakkan kaki ke kantor Sanel. Ini perusahaan travel yang tampaknya lebih lihai dalam urusan hilang-menghilang dari Naruto dalam mode bayangan. Kedatangan ini bukan tanpa sebab. Ini adalah ziarah kenegaraan demi misi suci, menyelamatkan ijazah 47 mantan karyawan yang ditahan lebih erat dari rahasia negara.
Noel tidak datang sendiri. Ia menggandeng Gubernur Riau Abdul Wahid dan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, Kombes Ade Kuncoro Ridwan. Mereka datang bukan untuk minum kopi atau booking paket umrah, tapi untuk bertemu Santi, pemilik perusahaan. Sayangnya, Santi sedang berada di Kuala Lumpur. Di Malaysia. Di luar negeri. Seolah negeri ini tidak cukup jauh dari logika hukum yang sehat.
Sang Wamenaker duduk menunggu di kantor itu, penuh harap, penuh cinta hukum, selama satu jam. Tapi yang datang bukan Santi, melainkan sunyi. Tak ada pemilik perusahaan. Tak ada penjelasan. Tak ada martabak pun yang disuguhkan. Satu jam yang terasa seperti pengulangan skripsi bab tiga yang terus direvisi. Ini adalah kali kedua Noel datang dan tetap gagal bertemu. Maka keluarlah kalimat paling manusiawi dari seorang pejabat negara, “Kesal banget.” Ini bukan sekadar ekspresi. Ini adalah tangisan batin negara yang merasa diludahi oleh entitas yang bahkan tak tahu apa itu etika.
📚 Artikel Terkait
Akhirnya, demi menegakkan wibawa negara yang sudah remuk redam oleh ketidakhadiran seorang Santi, Noel memerintahkan, tutup perusahaannya. Tidak pakai dalil filsafat, tidak pakai kajian Pancasila, tidak pakai seminar. Tutup. Selesai. Karena, katanya, “Ini sangat tidak menghargai negara.” Negara, wak, telah dilukai bukan dengan senjata, tapi dengan ketidakhadiran pemilik travel.
Tentu, Santi tak tinggal diam. Dalam wawancara dengan Kompas.com, ia mengaku tidak tahu kalau tamunya adalah wakil menteri. “Jujur, kami tidak tahu bapak yang datang itu wakil menteri,” katanya. Pernyataan ini adalah mahakarya post-truth. Sebuah pengakuan yang melebihi absurditas karya-karya Kafka. Santi bahkan mengaku kaget karena suasana kurang kondusif. Mungkin ia pikir yang datang itu debt collector. Atau tetangga yang pinjam galon.
Ironisnya, Santi juga membantah telah menahan ijazah. Menurutnya, 12 karyawan yang sebelumnya mengadu, bukan karyawannya. Sekarang, jumlah korban melonjak jadi 47. Sungguh evolusi konflik yang cepat. Dari dua belas ke empat puluh tujuh. Ini bukan pertambahan, ini ledakan populasi ijazah yang tersandera. Bahkan KPU tidak secepat ini dalam rekapitulasi suara.
Di negeri ini, untuk mengambil ijazahmu sendiri, kau harus mengadu ke media, memanggil polisi, menunggu kedatangan pejabat pusat, dan berharap pemilik perusahaan tidak sedang jalan-jalan ke luar negeri. Jika Tuhan menciptakan hukum untuk menegakkan keadilan, maka manusia di negeri ini menciptakan birokrasi untuk menjadikannya parodi.
Selamat datang di Indonesia, tanah air beta. Tempat di mana ijazah bisa ditahan seperti napi korupsi, ijazah bisa disidangkan, ijazah diforensik, dan hukum ketenagakerjaan berubah jadi opera sabun tanpa sabun.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






