HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Trauma dan Syair Smong Pengingat Saat Gempa

Redaksi by Redaksi
Mei 12, 2025
in Artikel
Reading Time: 6 mins read
0
Trauma dan Syair Smong Pengingat Saat Gempa
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: Siti Hajar


Aku menulis ini karena Qadarullah. Kemarin sore saat kami sedang bersantai menikmati kopi sore, tiba-tiba dikejutkan dengan gempa. Lantai tempat kami berpijak terasa bergoyang. 
Seketika itu juga kami keluar rumah, menghindari bahaya reruntuhan yang mungkin saja terjadi. Suamiku sudah bersiap dengan tas emergency dan kunci kendaraan di tangan—siap-siap mengungsi jika situasi memburuk. 

Kami baru sedikit tenang setelah mendapat informasi yang beredar cepat di grup-grup WhatsApp: seberapa besar kekuatan gempa, di mana titik pusatnya, dan berapa jaraknya dari tempat tinggal kami. Begitulah kami, masyarakat Aceh, bereaksi ketika bumi kembali berguncang. Karena kami tahu, rasa trauma itu masih tinggal di tubuh dan jiwa kami. Kami yang pernah merasakan langsung dahsyatnya bencana gempa dan tsunami Aceh pada Desember 2004, akan selalu punya alarm waspada yang menyala lebih dulu dibanding yang lain.

Baca Juga

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026


Trauma adalah luka. Bukan luka di kulit yang bisa sembuh dalam hitungan hari, tapi luka di dalam jiwa yang kadang tak kasat mata, namun nyata terasa. Dalam psikologi, trauma merujuk pada respons emosional seseorang terhadap peristiwa yang sangat menegangkan, menakutkan, atau menyakitkan secara mendalam.


Trauma bisa hadir tiba-tiba, menyeruak dalam ingatan, bahkan ketika kita merasa telah melupakannya. Trauma adalah jejak dari peristiwa yang begitu besar, yang mengoyak rasa aman dan mengubah cara seseorang melihat dunia.


Mengapa kita bisa trauma? Karena manusia memiliki naluri dasar untuk bertahan. Ketika kenyataan hidup tiba-tiba menjadi ancaman, seperti kecelakaan, kehilangan orang tercinta, kekerasan, atau bencana alam, otak kita mencatat semuanya sebagai sinyal bahaya.

Sistem saraf simpatis bereaksi: jantung berdebar kencang, napas memburu, tubuh bersiaga. Kita melawan, lari, atau membeku. Tapi saat tubuh selamat, jiwa belum tentu demikian. 


Sebagian dari kita membawa pulang kenangan itu dalam bentuk bayangan yang terus menghantui, ketakutan yang tak wajar, atau kewaspadaan berlebihan yang tak kunjung reda. Inilah yang kita sebut trauma psikologis.


Dua puluh tahun yang lalu, masyarakat Aceh mengalami luka kolektif yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 tak hanya meruntuhkan rumah dan kota, tetapi juga mencabik-cabik rasa aman, memisahkan keluarga, dan meninggalkan duka mendalam yang menahun. Saat itu, dalam hitungan menit, laut yang biasa menjadi sumber penghidupan berubah menjadi dinding air yang menggulung apa saja yang ada di hadapannya. Ratusan ribu jiwa melayang, dan yang selamat, menyisakan cerita yang akan terus hidup dalam ingatan generasi.


Kini, dua dekade berselang, saat tanah kembali bergetar, ingatan itu bangkit. Di sebagian orang, rasa panik seketika menguasai tubuh. Di sebagian lainnya, kewaspadaan muncul seperti refleks yang tak diajarkan. Antara panik dan siaga satu, dua reaksi itu menyatu dalam tubuh-tubuh yang dulunya pernah bertahan. Trauma membuat mereka tak bisa tenang, tapi juga tak bisa diam.

ADVERTISEMENT

Mereka bergerak, berjaga, memastikan pintu terbuka dan anak-anak dalam dekapan.
Trauma mungkin tak pernah benar-benar pergi. Ia akan muncul ketika pemicunya datang. Namun, karena pernah trauma-lah, manusia menjadi lebih peka, lebih siap, dan sering kali lebih kuat dari yang mereka kira.
Seperti masyarakat Aceh, yang dari reruntuhan bisa kembali berdiri, membangun, dan melanjutkan hidup, meski dengan jiwa yang tak lagi stabil.


Trauma tidak untuk dipelihara dalam bentuk ketakutan yang membatu. Ia perlu disembuhkan—pelan-pelan, dengan dukungan, penerimaan, dan pengakuan bahwa luka itu nyata.


Proses penyembuhan trauma seringkali melibatkan terapi psikologis, ruang aman untuk bercerita, hingga pendekatan spiritual atau budaya yang menenangkan jiwa. Komunitas yang saling menguatkan juga punya peran besar dalam proses ini. Saat orang tidak merasa sendiri dalam lukanya, ia mulai belajar berdamai, bukan melupakan, tetapi menerima bahwa luka itu bagian dari perjalanan hidupnya. 


Menariknya, trauma juga bisa diwariskan. Tapi bukan selalu dalam bentuk luka, melainkan dalam bentuk ingatan kolektif dan kewaspadaan. Anak-anak yang lahir setelah tsunami sering kali tumbuh mendengar cerita orang tuanya—tentang bunyi sirene, tentang ombak raksasa, tentang bagaimana mereka selamat. 


Cerita-cerita ini menanamkan kehati-hatian yang mendalam dalam benak mereka. Mereka belajar sejak dini tentang pentingnya jalur evakuasi, tentang tanda-tanda alam, tentang tidak bermain terlalu dekat ke laut jika air tiba-tiba surut.


Inilah bentuk warisan trauma yang sehat—saat luka menjadi pelajaran, dan pelajaran menjadi kesiapsiagaan. Dalam masyarakat yang hidup di daerah rawan bencana, seperti Aceh, Sumatera Barat, Nusa Tenggara, atau Sulawesi, budaya siaga bencana menjadi warisan yang sangat penting. 


Bencana alam gempa bumi, badai tropis, tanah longsor, hingga banjir bandang—semua menjadi bagian dari kemungkinan yang harus dihadapi dengan kepala dingin dan langkah terencana.


Mewariskan kewaspadaan adalah bagian dari mencintai generasi berikutnya. Kita tidak bisa menghindarkan mereka dari gempa, dari angin yang mengamuk, atau air bah yang datang tiba-tiba. Tapi kita bisa menguatkan jiwa generasi kita.


Kita dapat membekali mereka dengan pengetahuan, kesadaran, dan keberanian untuk menghadapi bencana—dengan tetap berpijak pada harapan, Insyaallah pertolongan Allah sangatlah dekat.


Di balik trauma yang mendalam, selalu ada kekuatan besar yang tidak semua kita menyadarinya yaitu kemampuan manusia untuk pulih, untuk bangkit, dan untuk menjaga kehidupan agar terus berjalan, dalam segala keterbatasannya. 

Di tengah segala duka dan trauma akibat tsunami Aceh 2004, tersimpan sebuah pelajaran penting dari masyarakat Seumuleung (Seumulu), sebuah pulau kecil di Kabupaten Simeulue, Aceh. Jauh sebelum istilah “tsunami” dikenal luas di tanah air, masyarakat di sana sudah lebih dulu mewarisi pengetahuan tentang bahaya gelombang besar laut yang mereka sebut dengan istilah “smong” atau “sumong”.


Smong bukan sekadar istilah lokal, melainkan bagian dari kearifan turun-temurun yang hidup dalam lagu, cerita rakyat, dan petuah orang tua. Bagi masyarakat Simeulue, setiap kali terjadi gempa yang kuat disertai surutnya air laut secara tiba-tiba, mereka tahu: itu tanda smong akan datang. Maka tanpa menunggu instruksi resmi, mereka segera berlari ke tempat yang lebih tinggi, menyelamatkan diri.

Salah satu warisan budaya itu tertuang dalam syair tradisional yang selalu dilantunkan oleh Masyarakat pulau simeulu turun temurun, mari kita simak syairnya sebagai berikut;

Longola amba curito
(Dengarlah sebuah cerita)

Pado zaman nafe’e
(Pada zaman dahulu)

Tobanam amba desa
(Tenggelam satu desa)

Nak daya feila la curitokan
(Begitulah mereka ceritakan)

Ya lunen afe dulu
(Diawali oleh gempa)

Lentuk bakat yu ekhi eba
(Disusul ombak yang besar sekali)

Tobanam amban gampung
(Tenggelam seluruh negeri)

Tibo–tibo amak
(Tiba-tiba saja)

Bo dulu ni abe le
(Jika gempanya kuat)

Idane yu ata’a
(Disusul air yang surut)

Rongkap akhuli
(Segeralah cari)

Banuami yu ala wa
(Tempat kalian yang lebih tinggi)

Nak daya emong deini
(Itulah smong namanya)

Curito nenek moyang ta
(Sejarah nenek moyang kita)

Enuge ekhi–ekhi
(Ingatlah ini baik-baik)

Amanah afe nasehatla
(Pesan dan nasihatnya)

Syair ini diajarkan sejak kecil, menjadi kata-kata pengingat yang akan warisan dan peringatan dini berbasis budaya kepada generasinya.


Berkat kearifan ini, saat tsunami 26 Desember 2004 melanda Aceh, korban jiwa di Pulau Simeulue hanya sedikit. Sementara daerah-daerah lain yang tidak memiliki pengetahuan lokal semacam itu mengalami korban dalam jumlah sangat besar. Ini menjadi bukti nyata bahwa pengetahuan lokal yang diwariskan secara konsisten dari generasi ke generasi bisa menjadi benteng awal perlindungan terhadap bencana alam.


Kita bisa belajar banyak dari masyarakat Simeulue. Bahwa dalam menghadapi ancaman alam, tak selamanya teknologi jadi satu-satunya penyelamat. Kadang, ingatan kolektif, cerita nenek moyang, dan nilai-nilai yang dijaga dalam tradisi lokal justru menjadi penyelamat pertama. Oleh karena itu, penting bagi kita, masyarakat Aceh dan Indonesia secara umum, untuk menggali kembali dan merawat kearifan lokal dalam menghadapi bencana—dengan tetap membuka diri pada sains dan teknologi modern. []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 209x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 176x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 143x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

#Ekonomi

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis
#Korban Bencana

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa
#Perempuan Hebat

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 16, 2026
Next Post
Elegi Negeri Nan Gelap Padam

Elegi Negeri Nan Gelap Padam

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com