• Latest

Mereka Menemukan Cinta dan Menikah Dalam Komunitas Puisi Esai

Mei 12, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mereka Menemukan Cinta dan Menikah Dalam Komunitas Puisi Esai

Redaksiby Redaksi
Mei 12, 2025
Reading Time: 7 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Teringat Kisah Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir

Oleh Denny JA

Aqilah dan Dion.
Dua insan dari Gen Z yang menulis puisi esai.

Namun kisah cinta mereka—bermula dari karya, berjumpa, saling jatuh cinta, lalu menikah—telah menjelma menjadi puisi esai itu sendiri.

Puisi ini tak hanya terdiri dari bait dan baris. Tapi dari tatapan, pelukan, dan keputusan untuk melangkah bersama. Mereka bukan sekadar pencipta puisi esai. Mereka hidup di dalamnya.

Pada tanggal 17 Mei 2025, mereka akan menikah. Undangan telah tersebar.

Membaca undangan itu, saya diliputi haru. Komunitas puisi esai kini tak hanya melahirkan Festival Puisi Esai ASEAN ke-4, atau menerbitkan lebih dari 180 buku. Ia juga telah menjadi ruang pertemuan dua jiwa, dan kini tempat bagi lahirnya sebuah keluarga.

-000-

Aqilah lahir di Cilacap, besar di Yogyakarta. Tubuhnya dibentuk oleh musik klasik, pikirannya disiram feminisme yang tenang namun kuat.

Dion berasal dari pesisir pantai utara Madura. Ia dibesarkan dalam bayang carok, dan dilindungi oleh doa seorang ibu yang tak pernah putus.

Dua dunia.
Dua langit.
Tapi mereka tak bertemu di tengah keindahan. Mereka bertemu dalam luka.

Di ruang komunitas puisi esai asuhan Dhenok Kristianti, setiap kata menjadi jembatan. Setiap puisi adalah peluang untuk melihat jiwa yang lain.

Tanpa disadari, di antara bait dan diskusi, tumbuh getar halus yang sulit dinamai. Namun para penyair menyebutnya: cinta.

Apa itu cinta? Dan apa makna mencintai?
Rainer Maria Rilke pernah menulis, “Mencintai manusia lain adalah tugas paling sulit dari semua tugas.”

Dan mereka memilih menjalani tugas itu. Tanpa skenario. Tanpa naskah. Tanpa sutradara.
Hanya mereka, dan kejujuran.

Namun bagi kebanyakan dari kita, mencintai tampak mudah. Ia seperti bunga yang tumbuh dari dalam. Kita hanya perlu membiarkannya berkembang, dan merawatnya.

-000-

Membaca puisi esai karya Aqilah atau Dion, bukan seperti membaca puisi remaja tentang rembulan yang kasmaran.

Mereka menulis puisi yang menembus dunia sosial yang keras.

Dion menulis “Bulan di Pangkuan Ibu”, kisah tentang carok berdarah yang membasahi tanah Madura dengan dendam dan kehormatan. Tentang Hasan, yang bangkit dari pangkuan ibunya dengan celurit di tangan.

“Doa-doa ibu mengasah celurit itu menjadi tajam…
sebab surga tak lebih luas dari ruas telapak kakinya.”

Aqilah menulis “Menyingkap Retak”, tentang seorang perempuan yang terperangkap dalam kekerasan rumah tangga, bertahan demi anak-anak, lalu suatu hari berkata: cukup.

“Rantai sudah terlepas.
Hari-harimu kembali waras.”

Namun selalu ada keindahan dalam kisah sekeras apa pun, selama ia ditulis dari hati. Selama ia lahir dari perenungan.

-000-

Dalam sejarah, kisah cinta yang lahir dari karya dan komunitas bukanlah hal baru.

Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir menjadi contoh. Sepasang filsuf yang cinta dan pemikirannya membentuk sejarah filsafat dan sastra dunia.

Tahun 1929 di Paris, dua mahasiswa duduk berhadapan di taman kampus École Normale Supérieure. Mereka tengah menanti hasil ujian filsafat nasional. Pemuda berkacamata bundar, dengan wajah kurus tapi mata menyala itu: Jean-Paul Sartre.

Perempuan yang tenang, dengan buku di tangan dan pandangan tajam: Simone de Beauvoir.

Mereka belum tahu, hari itu akan menjadi awal dari cinta yang akan mengubah sejarah pemikiran modern.

Simone menjadi perempuan pertama yang lulus dari ujian filsafat bergengsi itu. Sartre di peringkat pertama, Simone kedua. Tapi sejak awal, dalam cinta dan pemikiran, mereka berdiri setara.

Mereka tak menikah, tak tinggal serumah, tak punya anak. Namun saling mencintai lebih dari lima puluh tahun. Mereka membangun kontrak kebebasan yang revolusioner. Saling jujur, namun tak saling mengikat secara eksklusif.

Yang istimewa dari cinta mereka bukan romansa, tapi dialog. Pertemuan dua pikiran yang terus saling menantang, memperluas, dan mengasah.

Mereka bukan sekadar kekasih. Mereka adalah cermin satu sama lain.
Cinta mereka lahir bukan dari hasrat untuk memiliki, tapi dari kerinduan untuk memahami.

ADVERTISEMENT

Sartre, sang eksistensialis, percaya bahwa manusia harus menciptakan maknanya sendiri. Ia menemukan dalam Simone kebebasan yang hidup.
Simone, bersama Sartre, menulis The Second Sex, yang menjadi pondasi feminisme modern.

Mereka menjadikan cinta sebagai ruang perjuangan dan pembebasan.

Sartre menjalin relasi dengan perempuan lain. Simone pun demikian, dengan pria dan wanita. Namun satu hal tak pernah berubah: mereka selalu kembali satu sama lain.

Mereka menulis surat, berdiskusi berjam-jam, duduk di kafe Deux Magots, menyusuri Paris sambil membicarakan Tuhan yang absen, absurditas hidup, dan cinta yang melampaui bentuk.

Ketika Sartre wafat tahun 1980, Simone menulis, “Kehidupan saya tanpa Sartre adalah kehilangan cahaya.” Ia tak meratap. Ia menulis. Sebab ia tahu: cinta mereka lebih luas dari tubuh dan waktu.

Simone pun dikuburkan di samping Sartre, di Pemakaman Montparnasse.
Kini mereka sunyi di tanah, namun percakapan mereka abadi—dalam buku, dalam pikiran, dalam cinta yang tak tunduk pada norma.

Apa yang istimewa dari dua intelektual yang saling mencintai?

Mereka tak hanya berpelukan dalam malam.
Mereka menyusun dunia bersama.
Dengan pikiran.
Dengan tulisan.
Dengan cinta yang bertahan—bahkan ketika tubuh tak lagi ada.

-000-

Kisah Sartre dan Simone hanya referensi bagi cinta Aqilah dan Dion. Mereka hidup di zaman dan kultur yang berbeda.

Aqilah dan Dion bukan filsuf Prancis 1929. Mereka lahir di Indonesia, di tengah dunia Gen Z yang cepat, bising, dan sering kali dangkal.

Namun justru di tengah riuh itu, mereka memilih jalan yang sepi: menulis puisi esai.

Bukan puisi cinta yang mengawang-awang.
Tapi puisi yang menembus luka sosial, tubuh yang disakiti, harga diri yang dirampas.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026

Dan di situlah mereka bertemu:
Bukan di pesta.
Bukan di perayaan algoritma.
Tetapi di ruang kata-kata yang jujur,
di layar handphone tempat puisi kini dibaca,
di mata yang membaca bait seperti menatap jiwa.

Kisah mereka mengingatkan kita:
Cinta sejati tak butuh gemuruh.
Ia hadir di ruang-ruang sunyi.
Ia tumbuh dari keberanian membuka diri.

Seperti Sartre dan Simone yang menyusun ulang filsafat kebebasan lewat cinta mereka, Aqilah dan Dion tengah menyusun ulang makna cinta di dunia sastra Gen Z.

Cinta itu menjadi ruang belajar bersama.
Bukan sekadar untuk saling mengisi,
tapi juga saling menantang, saling menjaga keutuhan jiwa satu sama lain.

Aqilah membawa ke dalam rumah tangganya keberanian perempuan yang pernah menulis luka.
Dion membawa kelembutan lelaki yang pernah menulis darah dan doa.

Dan semoga kelak,
di kamar mereka yang sederhana,
di antara buku dan draf puisi,
mereka terus menyebut nama satu sama lain—
bukan hanya dengan suara,
tapi juga dengan tulisan.

Sebab pasangan yang menulis bersama
tak hanya membangun rumah.
Mereka membangun makna.

-000-

Maka kepada Aqilah dan Dion, izinkan kami mengucap:

Semoga cinta kalian seperti puisi esai terbaik—
lahir dari kejujuran,
tumbuh dalam keheningan,
dan tetap abadi, bahkan setelah dibaca berulang kali.

Di dunia yang serba cepat ini,
kalian memilih menulis.
Kalian memilih mencinta.
Dan kalian membuktikan:
dua hal itu bisa berjalan beriringan.

Kalian bukan hanya penyair.
Kalian akan menjadi sepasang suami-istri.
Dan hidup kalian—
adalah puisi esai terindah
yang pernah kalian tulis bersama. ***

Jakarta, 12 Mei 2025

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/19atpzLbMb/?mibextid=wwXIfr

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Masa Depan Indonesia: Optimisme di Tengah Guncangan Global

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com