Dengarkan Artikel
Mimpi di Pabrik Kenyataan
Di pabrik tua di pinggir kota,
mimpi-mimpi dilahirkan seperti barang cacat,
tanpa jaminan mutu, tanpa nomor seri.
Ada mimpi yang kepalanya patah,
ada mimpi yang kakinya pendek sebelah,
dan ada mimpi yang bahkan lupa bagaimana caranya bermimpi.
Para pekerja berbaris rapi,
menggiling harapan menjadi debu halus.
Supervisor berdiri di atas mimbar,
berteriak lantang:
“Kecepatan adalah segalanya!
Hanya yang tercepat yang akan selamat.”
Tapi siapa yang peduli selamat?
Kita semua hanya boneka
yang lupa bagaimana caranya pulang.
Di negeri ini, mimpi adalah barang mewah.
Hanya boleh dimiliki oleh mereka
yang punya kartu anggota elite.
Sementara kita,
yang hidup di bawah bayang-bayang,
hanya boleh bermimpi lewat televisi tua
yang gambarnya sering bersemut.
Aku pernah mencoba mencuri mimpi,
dari seorang anak kecil di pinggir jalan.
Ia memeluk bola plastik
dan berkata sambil tersenyum:
“Ini mimpiku jadi pemain bola,
tapi lapangannya cuma ada di kepala.”
Aku tertawa,
bukan karena lucu,
tapi karena pahit rasanya
melihat mimpi sebesar itu
dikurung dalam tubuh sekecil itu.
Di pabrik kenyataan,
ada ruangan khusus
untuk mimpi-mimpi yang gagal lolos sensor.
Mimpi tentang revolusi,
mimpi tentang cinta yang tak berlabel,
dan mimpi tentang matahari
yang berani terbit tanpa izin.
Ruangan itu terkunci rapat,
dan kuncinya dipegang oleh penjaga malam
yang setiap harinya lupa bangun.
Aku mengetuk pintu itu,
tapi jawabannya hanya gema:
“Tidurlah, Nak.
Mimpi-mimpi seperti ini
hanya untuk mereka yang berani mati.”
Dan aku pun terjaga,
menatap langit yang kosong,
seperti halaman buku yang sengaja tak ditulis.
Mungkin, di pabrik kenyataan ini,
kita semua hanyalah robot—
diprogram untuk berjalan,
tanpa pernah belajar bermimpi.
Ponorogo, 20 Desember 2024
Mimpi yang Diumumkan di Balai Kota
Di balai kota, mimpi diumumkan:
“Mulai hari ini,
bermimpi hanya boleh dilakukan
antara pukul satu hingga pukul tiga dini hari.
Luar jam itu, mimpi dianggap tindak pidana!”
Para pemimpi berbondong-bondong
mencatatkan diri di loket resmi,
menyerahkan fotokopi KTP,
dan mengisi formulir bertanda tangan:
“Mimpi saya hanya setinggi ini,
tidak akan membahayakan negara.”
Ada yang mengajukan mimpi jadi petani,
tapi tanahnya sudah dijual ke pemilik modal.
📚 Artikel Terkait
Ada yang bermimpi jadi penyair,
tapi puisinya dilarang karena terlalu jujur.
Ada juga yang bermimpi jadi bintang,
tapi langit sudah penuh dengan reklame.
Di negeri ini,
mimpi adalah lelucon yang tak pernah lucu.
Setiap malam,
mimpi digiling bersama beras raskin
dan dimasak tanpa garam.
Kita makan mimpi itu sambil tersedak,
lalu tertidur di lantai beton yang dingin.
Aku pernah mencoba bermimpi tanpa izin,
tapi mimpi itu ditangkap di perbatasan pagi.
Petugas berkata:
“Mimpi liar seperti ini tak boleh dibiarkan!
Bisa-bisa kau menciptakan harapan,
dan harapan adalah musuh stabilitas.”
Malam itu aku terjaga,
melihat mimpiku digiring ke meja interogasi.
Mereka bertanya:
“Siapa yang menginspirasimu?
Apa kau bekerja untuk revolusi?”
Mimpi itu diam.
Dan aku tahu, ia akan dihukum mati.
Kini aku hanya bermimpi kecil,
mimpi tentang makan tiga kali sehari,
mimpi tentang langit tanpa debu,
dan mimpi tentang senyuman
yang tidak perlu dibayar dengan utang.
Tapi bahkan mimpi kecil itu,
seperti lilin di tengah badai,
padam sebelum sempat menyala.
Ponorogo, 18 Desember 2024
Mimpi Adalah Dosa yang Tumbuh di Kepala
Malam melemparkan bayang-bayang ke dinding,
seperti siluet cerita yang lupa caranya pulang.
Di antara retakan cahaya,
mimpi menjelma ular,
melata, melingkar di leherku,
mengajarkan bagaimana bernapas
dengan kesakitan.
“Apa yang kau cari?”
bisiknya, seperti api kecil
yang tak pernah padam meski hujan.
Aku tak menjawab.
Mulutku sudah disumpal oleh angan
yang terbuat dari tulang belulang harapan.
Di tepi kota,
aku melihat mimpi lain—
berjalan tanpa kaki,
menjuntai di udara seperti kain sobek
yang tak ingin jatuh ke tanah.
Ia tertawa, suaranya pecah:
“Kau ingin jadi aku,
tapi kau tak punya nyali
untuk memotong tubuhmu sendiri.”
Aku tertunduk,
menggali tanah dengan jemari gemetar.
Mimpi adalah akar
yang tumbuh ke arah yang salah.
Ia menusuk perut bumi,
mengisap habis
semua yang pernah kusebut cahaya.
Di dunia ini,
mimpi adalah dosa,
dan aku pendosa yang tak pernah berhenti berdoa.
Aku tak ingin memeluknya,
aku ingin dimakan olehnya—
tuntas,
hingga yang tersisa hanyalah namaku,
terukir di batu nisan
yang tertawa dalam senyap.
Dan saat itu tiba,
langit akan menulis cerita ini,
dengan tinta yang terbuat dari darahku sendiri:
“Mimpi bukan tujuan.
Ia adalah labirin tanpa ujung,
di mana manusia berjalan
agar tak lupa bahwa mereka masih hidup.”
Ponorogo, 2024
Sesak Di Rahim Dunia
Aku ini anak dunia,
lahir dari rahimmu yang semakin sesak
di antara bising mesin, aroma angkara,
dan mulut-mulut yang menyembur janji,
sebanyak debu di jalan raya.
Dunia,
kau dulu ibu
yang menggendongku dengan nyanyian angin,
mengayunku di dahan-dahan yang tak gentar,
tapi kini kau pengkhianat
yang menjejalkan luka di setiap isak napasku.
Aku muak!
Pada tikus-tikus berdasi,
pada gelas-gelas pesta di atas reruntuhan,
pada tawa palsu yang menelanjangi malam,
pada tangan-tangan besi yang menjual udara
lalu menggadaikan matahari.
Aku ingin muntah!
Melihat surga-surga plastik di papan iklan,
melihat laut berubah jadi kuburan,
melihat tubuh bumi yang semakin kurus
dikeruk, dikeruk, dikeruk—
tanpa ampun, tanpa sisa, tanpa nurani!
Dunia,
kau ini apa?
Bola api yang dulu megah,
kini hanya lapangan permainan para serigala.
Bahkan Tuhan sepertinya enggan
menolehkan mata-Nya ke arahmu.
Tapi aku masih di sini—
di antara reruntuhan dan sisa-sisa napas.
Meski muak, meski lelah,
aku menulis puisi
agar tanganku tak berubah jadi tangan mereka,
agar tubuhku tak ikut menggerogoti tubuhmu,
agar kau tahu, dunia,
bahwa aku masih anakmu
yang ingin kau pulih.
Pecah, pecah, pecah!
Biarkan kegelapan ini remuk
agar cahaya menemukan jalan pulangnya.
Aku ini anak dunia,
dan aku menunggu kelahiran barumu.
Ponorogo, Januari 2025
Lidah Yang Diasah Di Atas Kertas
Di atas meja kayu berdebu,
pena tergeletak, kelu.
Jenuh menulis angka dan laba,
mengarsip janji yang tumpul makna,
menghitung utang tak bernyawa.
Kertas di depanku menggigil,
bukan sebab tak tahu yang kutulis,
tapi di luar sana kata-kata jadi belati,
menikam lidah sebelum berani,
meringkus nyawa di lorong sunyi.
Aku tahu mereka—
yang suaranya dipaku di papan pengumuman,
yang puisinya dihapus dari ingatan,
yang protesnya dikubur dalam laporan.
Aku tahu mereka—
yang tangannya gemetar di depan palu,
yang bibirnya terkatup oleh temu wicara palsu,
yang langkahnya terkunci di selembar peraturan baru.
Tapi aku bukan penjual kata,
bukan pelapak mimpi di sudut kota.
Aku tak bisa diam begitu saja!
Maka kutuliskan segalanya!
Tentang mimbar yang licin kata,
tentang spanduk yang sarat dusta,
tentang kursi yang menekan dada,
tentang rakyat yang cuma angka.
Kertas ini basah oleh peluh petani,
pucat oleh sabar buruh yang terkikis,
terkatup oleh murid yang menunggu janji manis.
Dan ketika pena mulai menari,
tak ada yang bisa menghakimi,
tak ada yang bisa mengadili!
Sebab kata-kata punya akar,
dan akar tak bisa binasa,
meski diinjak sepatu penguasa,
meski tanahnya dikeringkan paksa!
Jika mereka menyobek lembaran ini,
aku akan menulisnya di udara!
Jika mereka membakar aksara ini,
aku akan menyisipkannya di dada!
Jika mereka membungkam mulut ini,
maka batu, angin, dan pohon
akan bersuara!
Ponorogo, 2024
Karya: S. Sigit Prasojo
Email: sprasojo0@gamil.com
No. Rekening: 0172-01-104790-50-0
Nomor WhatsApp: +62 831-2029-9983
Akun Instagram: @maz_prasojo
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






