Dengarkan Artikel
Oleh Muslimin Lamongan
Seorang teman guru sekaligus bendahara sekolah swasta mengeluhkan seretnya pembayaran siswa. Bukan iuran bulanan atau SPP. Hanya tanggungan untuk kegiatan siswa itu sendiri. Sekolah tingkat SMP itu tidak memungut biaya pendaftaran. Tidak menarik uang gedung. Bahkan saat pendaftaran siswa baru, calon siswa diberi 3 stel seragam baru dan tas sekolah. Bagi siswa yang tidak mampu pun diberi keringanan biaya.
Sang guru penasaran apakah fenomena seperti itu hanya terjadi di sekolahnya. Apakah sekolah lain juga sama mengalaminya. Apakah ini pertanda tingkat pendapatan ekonomi rakyat turun drastis. Tidak juga, kata sang teman. Orang tua siswa, katanya, terutama ibu-ibu, gawai atau hapenya bagus-bagus. Motornya sudah tidak ada tahun 70-80an. Matic baru, tidak tahu kontan atau kredit. Kalau pertemuan orang tua, busananya juga tidak murahan dan terlihat masih baru.
Lalu saya bilang pada sang teman bahwa ekonomi memang sedang lesu. Banyak PHK terjadi di mana-mana. Perikanan dan peternakan tak membaik. Pertanian, pupuk dan obat harganya mahal, bila panen harga gabah anjlok. Lalu terbayang kelingan waktu saya sekolah SMP dan SMA dulu. Zaman Orde Baru, bapak saya tukang becak dan mak buruh tani. Menyekolahkan saya dan 4 adik saya. Betapa berat rasanya menanggung beban. Namun saya tidak pernah mendengar keluhan beliau berdua. Apalagi air mata tangis kepiluan.
Untuk urusan biaya sekolah, mak dan bapak selalu sigap bertandang. Kalau memang tidak punya sama sekali, rela berutang ke keluarga atau tetangga. Nanti kalau ada rezeki baru dilunasi. Tidak heran bila hari raya saya dan adik-adik sering tidak berbaju baru. Untung paman dan bibi sering memberi, meski bekas terpakai, tetapi masih terlihat baru. Uang saku sekolah pun kami dilatih prihatin. Waktu SMP uang saku saya 50 rupiah selama 3 tahun. Waktu SMA naik 100 rupiah selama 3 tahun juga.
📚 Artikel Terkait
Kembali ke keluhan sang teman tadi. Rasanya juga tidak salah dugaannya. Banyak orang tua siswa, yang relatif masih muda-muda, terjangkit hidup menggaya. Dengan masifnya tayangan stereotipe tampilan fisik yang memesona, banyak orang terlena. Mendahulukan gebyar raga, tampil narsis untuk dilihat banyak orang, menjadi keinginan yang mendera.
Akhir-akhir ini, fenomena itu menggurita, menjadi kejaran baru yang menggairah. Tidak peduli kondisi berbanding terbalik dengan ambisi. Yang penting orang tahu dia wah, padahal hidupnya payah. Padahal sebenarnya mereka sadar: dunia tipu-tipu bisa terjerumus dan layu. Tetapi ya sudahlah, yang penting sekarang like dan notifikasi bertambah.
Dengan demikian, perlu adanya edukasi medsos yang bijak. Perlu adanya sosialisasi pentingnya mendahulukan pendidikan anak. Oleh dinas pendidikan terkait terutama kepada sekolah swasta. Semoga……
Lamongan, 5 Mei 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






