Dengarkan Artikel
Oleh Sindi Hazirah
Ada saat-saat ketika aku hanya duduk diam, memandang sesuatu yang tampaknya biasa, deretan rumah di pegunungan, misalnya, namun hatiku mulai berbisik dengan suara yang dalam. Rumah-rumah itu berdiri tenang, tapi pikiranku mulai berjalan. Ada kehidupan di sana, bisikku dalam hati. Ada keluarga, tawa, tangis, perjuangan, dan mimpi.
Lalu aku sadar, manusia memang sebanyak itu. Di setiap sudut bumi, bahkan di pelosok yang jauh dari jangkauan cahaya kota, ada kehidupan yang tak kutahu. Dan semua itu nyata. Manusia, tujuh miliar lebih, hidup berdampingan di bumi kecil yang—anehnya—masih cukup luas untuk menampung begitu banyak cerita.
Dari satu manusia pertama, Nabi Adam, umat manusia menyebar seperti cabang tak berujung. Bumi, yang katanya hanya titik debu dibandingkan bintang lain, sanggup menampung begitu banyak rasa: cinta, benci, rindu, harapan. Lalu aku berpikir, jika manusia saja sudah sebanyak ini, bagaimana dengan hewan-hewan yang ada? Tumbuhan? Mikroorganisme? Semua bergerak, semua hidup, semua terhubung.
📚 Artikel Terkait
Dan di balik semua itu, ada satu tangan yang menggenggam semuanya. Allah. Dia mengatur tidak hanya aku, atau kamu, atau keluarga kita. Tapi semua. Planet-planet, bintang-bintang, galaksi yang berputar jutaan tahun cahaya jauhnya. Semua dalam kendali-Nya. Dan aku, yang hanya sebutir debu di tengah semesta luas ini, merasa… kecil. Tapi bukan tidak berarti.
Karena jika Allah berkenan menaruh pikiranku di tempat sekecil ini, dan membiarkanku merenung tentang hal-hal sebesar itu, berarti ada maksud. Mungkin untuk menulis. Mungkin untuk mengingat. Atau mungkin untuk sekadar bersaksi: bahwa aku pernah terpukau oleh kebesaran-Nya.
Dan aku tak ingin lupa.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






