Dengarkan Artikel
Oleh Guree Aceh, Bireun
“ Guru yang baik bukan hanya pengajar, tapi juga teladan”. Sebuah ungkapan yang menarik dan sangat berkesan disampaikan oleh Abdul Hamid, S.Pd, M.Pd, Kepala Dinas Pendidikan wilayah Kabupaten Bureun, dalam acara pertemuan dengan seluruh Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMA, SMK, dan SLB se-Bireuen. Pertemuan yang digelar dalam rangka membahas harapan pendidikan masa depan serta strategi memperkuat kualitas pembelajaran, khususnya menjelang Ujian Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT).
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen, Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd., juga menekankan bahwa pembentukan karakter siswa harus dimulai dari karakter gurunya.Saat ini sangat penting bagi guru dan aekolah membentuk karakter siswa.
Tentu saka harus melalui perbaikan karakter guru sebagai panutan utama di lingkungan sekolah. Dikatakan demikian, kareba Guru yang baik bukan hanya pengajar, tapi juga teladan. Pembentukan karakter siswa harus dimulai dari karakter gurunya.
Selain itu juga penting mengaktifkan kembali peran MGMP sebagai wadah pelatihan berkelanjutan bagi guru. Pelatihan yang dilakukan oleh MGMP adalah bentuk pengembangan profesional paling hemat biaya, namun tetap membutuhkan dukungan dana operasional.
“Oleh karena itu, kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB diharapkan untuk mengalokasikan dana BOS untuk kegiatan MGMP. Penggunaan dana BOLS Ini sudah dibolehkan sesuai surat edaran dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah,” Oleh sebab itu, ini adalah momentum yang tepat dan baik, untuk meningkatkan kapasitas guru lewat kegiatan MGMP.
📚 Artikel Terkait
Hal lain yang tidak kalah penting dilakukan adalah penguatan karakter dan profesionalisme guru. Apalagi saat ini kita sedang menyiapkan peserta didik untuk mampu bersaing di kancah UTBK-SNBT 2025, maka pertemuan ini juga fokus pada tantangan UTBK-SNBT 2025, khususnya pada soal Literasi Bahasa Indonesia (LBI) dan Literasi Bahasa Inggris (LBE). Para guru sebagai pengajar dan teladan harus mampu menyiapkan para siswa di ajang ini. Apalagi para guru mengatakan bahwa di sejumlah sekolah menunjukkan bahwa soal LBI tahun ini dirasa sangat menantang oleh para siswa.
Jadi “soal LBI tidak lagi sekadar membaca dan memahami teks, melainkan menuntut pemahaman multidisiplin, karena teks yang diujikan banyak mengandung materi sains seperti fisika, kimia, biologi, hingga ekonomi,”.
Kemudian yang harus kita sadari bahwa banyak siswa merasa kesulitan karena pertanyaan yang muncul justru menuntut pemahaman konsep dan istilah ilmiah yang tidak langsung tersedia dalam teks. “Ini bukan ujian bahasa Indonesia, melainkan ujian literasi dalam bahasa Indonesia. Begitu juga dengan Literasi Bahasa Inggris, kontennya bisa dari ilmu apa saja.
Untuk itu, Kacabdin Bireuen mendorong MGMP Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk fokus meluruskan pemahaman guru terkait konsep LBI dan LBE yang sebenarnya. “Guru harus tahu bahwa literasi yang diujikan bukan soal kebahasaan, melainkan soal kemampuan memahami teks ilmiah dalam bahasa tertentu. Guru perlu menyampaikan ini kepada siswa kelas XII,”
Agar semua ini bisa diwujudkan, diperlukan komitmen bersama untuk memperkuat peran MGMP sebagai garda depan peningkatan mutu pendidikan di Bireuen. Tentu saja, dengan kolaborasi yang erat antara guru, kepala sekolah, dan Cabdin, diharapkan lulusan SMA/SMK/SLB di Kabupaten Bireuen mampu bersaing secara nasional dalam berbagai seleksi pendidikan tinggi. Semoga
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






