• Latest

Surat Yasin Terakhir

Mei 3, 2025
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Surat Yasin Terakhir - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Surat Yasin Terakhir

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Mei 3, 2025
in Cerpen, Kisah Hidup, Kisah Nyata
Reading Time: 3 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

(True Story)

Malam itu, langit Desa Antibar seperti ikut berkabung. Tidak ada bintang. Tidak ada angin. Hanya diam yang tebal menyelimuti rumah kayu itu, rumah yang selama puluhan tahun menjadi saksi cinta paling tulus, paling sederhana, dan paling suci antara Salim dan Suherni.

Tepat pukul 00.05 WIB, Salim pergi.

Dengan tenang, tanpa suara. Di depan istrinya sendiri. Nafas terakhirnya keluar begitu saja, perlahan, seolah tak ingin menyakiti siapa pun, seolah minta maaf karena harus meninggalkan perempuan yang selalu menemaninya, dalam gelap dan terang, dalam lapar dan kenyang.

Suherni hanya menatap. Tak menjerit. Tak mengutuk takdir. Ia tahu waktunya sudah dekat. Tapi tahu… tidak pernah cukup untuk membuat kehilangan terasa ringan. Ia duduk bersimpuh di sisi jasad suaminya, membuka mushaf kecil yang telah lusuh dipegang berpuluh tahun. Dengan suara parau, ia mulai melantunkan Surat Yasin.

“Yaa Siin…” suaranya pecah, seolah satu-satu huruf itu harus ditarik langsung dari dasar dadanya yang remuk.

Tangis anak-anak mereka terdengar samar di sudut ruangan. Tapi Suherni terus membaca, menyeka air mata dengan ujung mukena, memeluk kehilangan dengan ayat-ayat yang selama ini mereka percaya akan menjadi penghubung di akhirat nanti.

Karena cinta mereka… memang tidak pernah niat untuk berhenti di dunia.

Tiga jam kemudian. Pukul 03.05.

Suherni sampai pada ayat ke-58:

“Salāmun, qawlan min Rabbir-Rahīm.”

(Selamat sejahtera, ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang.)

Ayat itu selesai. Tapi hidupnya, ikut selesai.

Tangannya gemetar. Bibirnya terdiam. Matanya memandang wajah suaminya untuk terakhir kalinya… lalu ia jatuh. Tubuhnya rebah di atas jenazah Salim, seperti ingin memeluknya sekali lagi, sebelum dunia benar-benar melepaskan mereka.

Semua orang panik. Tapi hatinya sudah tenang. Ia sudah memilih. Ia tidak mau dunia tanpa Salim. Mungkin… Tuhan pun setuju.

Di puskesmas, dokter hanya mengangguk pelan. “Ia pergi dalam keadaan terbaik. Mulutnya masih basah dengan ayat suci,” ucap perawat sambil meneteskan air mata.

Suherni menyusul Salim, dengan cara paling agung yang pernah disaksikan bumi, wafat saat membaca Surat Yasin, di hadapan jenazah lelaki yang ia cintai seumur hidupnya.

Pagi harinya, dua liang lahat berdampingan di pemakaman muslim Desa Antibar. Warga berduyun-duyun. Tangis tak bisa ditahan. Bahkan langit pun tak sanggup menahan gerimisnya.

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
PPPK

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026

“Belum pernah aku lihat cinta seperti itu,” ujar Aryadi, mantan kepala desa, dengan mata sembab. “Itu bukan kematian. Itu pertemuan. Dua ruh yang tidak ingin dipisahkan oleh dunia.”

Anak-anak mereka berdiri mematung. Kecil. Bingung. Sunyi. Dalam waktu tiga jam, mereka jadi yatim piatu. Tapi cinta yang membesarkan mereka, cinta yang tak pernah ditulis di buku, tak pernah viral di layar kaca, telah menjadi legenda.

Salim dan Suherni dimakamkan berdampingan. Tidak perlu batu nisan mewah. Karena cinta mereka cukup jadi tanda abadi. Saksi bahwa kesetiaan itu nyata. Bahwa cinta yang berakar pada iman… mampu mengalahkan maut.

Mungkin, ketika malaikat datang, mereka berkata, “Wahai Salim, wahai Suherni… kalian telah selesai. Pulanglah. Bersama.”

Cinta mereka bukan cerita. Cinta mereka adalah pelajaran. Bahwa yang paling setia tidak selalu yang paling lantang. Tapi yang tetap bertahan, sampai akhir, bahkan setelah nafas terakhir.

ADVERTISEMENT

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Baca Juga

feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
Next Post

Chairil Anwar Anak Punk?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com