Dengarkan Artikel
Refleksi dari Aceh sebagai Poros Syariah dan Kekuatan Religi Bangsa
Oleh Dayan Abdurrahman
Keterpurukan ekonomi Indonesia hari ini bukan sekadar akibat fluktuasi global atau krisis pasar. Ini adalah refleksi dari kegagalan tata kelola, kehilangan arah moral, dan ketergantungan terhadap sistem kapitalisme yang tidak lagi relevan dalam menjawab problematika keadilan sosial.
Sebagai negeri yang kaya sumber daya dan budaya religius, Indonesia sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk menawarkan solusi alternatif, salah satunya melalui nilai-nilai syariah yang telah hidup dan mengakar kuat di Aceh.
Aceh: Cahaya Syariah di Ujung Barat Nusantara
Aceh, sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum syariah secara formal, telah menjadi simbol kekuatan religi nasional. Dalam konteks ini, Aceh bukan hanya menjalankan hukum dalam pengertian sempit, tetapi mengusung prinsip-prinsip keadilan sosial, kesetaraan ekonomi, dan tanggung jawab moral dalam setiap aspek kehidupan.
Syariah di Aceh berpotensi menjadi model sistem ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Prinsip zakat, larangan riba, larangan eksploitasi, dan penguatan ekonomi komunitas adalah tawaran solutif terhadap kegagalan kapitalisme yang hanya menguntungkan segelintir elit. Dunia hari ini mulai melirik ekonomi berbasis nilai – dan Indonesia, melalui Aceh, sudah memilikinya.
Kapitalisme: Gagal Menghadirkan Kesejahteraan Global
Sistem kapitalis global telah menunjukkan wajah aslinya: memusatkan kekayaan di tangan segelintir orang, menghancurkan solidaritas sosial, dan memperparah ketimpangan. Krisis ekonomi berulang kali terjadi bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena kerakusan dan hilangnya etika ekonomi.
📚 Artikel Terkait
Dalam sistem kapitalis, manusia dinilai dari produktivitas dan konsumsi, bukan dari kontribusi moral dan sosial. Nilai spiritual dan kearifan lokal terpinggirkan. Maka, tak heran jika dunia mulai mencari alternatif sistem yang lebih manusiawi dan berkelanjutan – sistem yang bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga kemaslahatan.
Indonesia: Negeri Religius yang Belum Dimaksimalkan
Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan dengan keberagaman agama yang luar biasa, Indonesia sejatinya memiliki fondasi moral dan spiritual yang kokoh. Nilai-nilai Pancasila, kearifan lokal, serta ajaran agama-agama besar di Indonesia, semua mendorong keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara materi dan moralitas.
Namun sayangnya, tata kelola nasional sering kali abai terhadap kekuatan ini. Kebijakan ekonomi masih terjebak pada logika pertumbuhan semu dan utang luar negeri. Pembangunan dilihat dari sisi fisik, bukan dari keadilan distribusi atau kemaslahatan sosial. Di sinilah letak tanggung jawab terbesar pemimpin bangsa: gagal menggali dan menerapkan kekuatan religius dan budaya lokal sebagai pondasi pembangunan nasional.
Membangun Ulang dengan Spirit Syariah dan Keadilan Sosial
Aceh sebagai simbol syariah Indonesia bisa menjadi poros kebangkitan ekonomi moral, bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga tawaran kepada dunia. Sistem keuangan syariah, tata niaga yang adil, jaminan sosial berbasis zakat dan wakaf, serta etika produksi yang tidak eksploitatif – semuanya sudah menjadi bagian dari khazanah Islam dan tradisi lokal kita.
Penerapan nilai-nilai ini secara konsisten dan inklusif bisa menjadi penangkal dominasi sistem kapitalis yang destruktif. Jika dikembangkan lebih lanjut dengan pendekatan ilmiah dan kolaboratif, Aceh bisa menjadi “laboratorium moral ekonomi” bagi dunia yang haus akan keadilan dan keseimbangan.
Siapa yang Bertanggung Jawab, dan Apa yang Bisa Kita Lakukan
Tanggung jawab atas keterpurukan ekonomi Indonesia tidak bisa dilimpahkan pada satu pihak:
- Pemerintah Pusat dan Daerah – karena merekalah pemegang amanah dan pembuat kebijakan utama.
- Pengusaha dan Pemilik Modal – yang harus mengubah orientasi bisnis dari kapitalistik menuju ekonomi berbasis nilai.
- Pemuka Agama dan Budaya – karena mereka adalah penjaga moral kolektif dan inspirasi perubahan.
- Lembaga Pendidikan dan Intelektual – karena mereka mencetak generasi yang harus berpikir kritis dan etis.
- Rakyat Umum – karena perubahan dimulai dari bawah, dari kebiasaan, pilihan politik, dan solidaritas sosial.
Krisis ini bukan akhir, tetapi awal dari refleksi kolektif. Dunia sedang mencari arah baru, dan Indonesia – khususnya Aceh – bisa menjadi pelita. Saat kapitalisme gagal, maka nilai syariah dan kekuatan religi bangsa ini dapat menjadi jalan terang menuju kesejahteraan yang berkeadilan dan bermartabat.
Penulis adalah peminat isu-isu sosial ekonomi dan keagamaan
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






