Dengarkan Artikel
Oleh : Dayan Abdurrahman
Dalam perjalanan hidup, tidak semua orang mampu melanjutkan pendidikan formal hingga ke tingkat tertinggi. Ada yang terhenti karena keterbatasan dana, kesibukan hidup, tidak adanya guru, atau bahkan karena lembaga pendidikan tidak lagi membuka pintu.
Di Aceh, di berbagai wilayah Indonesia, dan di banyak negara lain, realitas ini menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika sosial. Namun, perlu dipahami bahwa berhenti sekolah bukan berarti berhenti belajar. Justru, dalam konteks perubahan zaman yang sangat cepat ini, belajar menjadi kebutuhan yang semakin mendesak untuk menjaga keberlangsungan hidup.
Tanpa ilmu, hidup ini akan menjadi jalan buntu. Tanpa peta yang tepat, manusia mudah tersesat dalam ketidakpastian. Oleh sebab itu, dalam kondisi apapun, kita harus siap berburu ilmu dari berbagai sumber yang tak terbatas, melampaui batas ruang kelas, melampaui batas formalitas.
Pendidikan: Hakikat Bukan Sekadar Gelar
Secara akademik, para pemikir seperti John Dewey menegaskan bahwa pendidikan adalah proses berkelanjutan yang membentuk kehidupan itu sendiri. Bukan sekadar akumulasi pengetahuan di ruang kelas, tetapi transformasi pribadi untuk menghadapi tantangan zaman. Dalam konteks Indonesia, termasuk Aceh sebagai bagian yang kental dengan tradisi keilmuan Islam, konsep pendidikan lebih luas dari sekadar ijazah: ia adalah perjalanan ruhani dan sosial.
Dari sisi religi, Islam memandang menuntut ilmu sebagai kewajiban sepanjang hayat. Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah). Al-Qur’an pun berulang kali memerintahkan umat manusia untuk berpikir, merenung, dan memahami fenomena kehidupan (QS. Al-Ghasyiyah: 17-20). Maka, pendidikan sejati bukanlah sekadar produk sekolah atau kampus, tetapi merupakan proses mendalam membangun hubungan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta.
Sayangnya, dalam realitas saat ini, banyak lembaga pendidikan formal justru terjebak dalam logika pasar. Tidak sedikit yang lebih mengejar keuntungan finansial daripada memberikan nilai tambah kepada mahasiswa. Banyak institusi berdiri hanya demi menarik biaya tinggi, namun gagal memberikan pendidikan yang membentuk karakter, keahlian, dan visi hidup.
Oleh karena itu, kita perlu cerdas memilih dan membelah mana pendidikan yang betul-betul membangun, mana yang hanya menjadi ilusi semata. Pendidikan formal tetap penting, namun tidak boleh menjadi satu-satunya tolak ukur keberhasilan atau jalan kebenaran.
📚 Artikel Terkait
Realitas Dunia Tanpa Batas
Kini, dunia telah berubah drastis. Era digital menawarkan berjuta-juta sumber belajar terbuka: kuliah online, jurnal ilmiah gratis, platform video edukatif, hingga komunitas daring berbasis minat. Di Indonesia, banyak inisiatif seperti Ruangguru, Zenius, bahkan kursus online berbasis komunitas yang tumbuh dari semangat berbagi ilmu.
Di tingkat global, platform seperti Coursera, edX, Khan Academy, hingga program-program sertifikasi Google menghapus batasan tradisional dalam pendidikan.
Ini menuntut kita mengubah pola pikir: dari school-centered menjadi self-directed learning. Belajar tidak lagi bergantung pada keberadaan guru atau silabus formal. Dunia adalah kelas, pengalaman adalah guru, kesalahan adalah ujian, dan refleksi diri adalah metode evaluasi.
Di Aceh, kita punya warisan Dayah dan Pesantren yang dahulu menjadi sentra pendidikan masyarakat tanpa tergantung kepada struktur pendidikan modern. Di negara lain, model lifelong learning atau pembelajaran seumur hidup telah menjadi norma. Finlandia, misalnya, menempatkan prinsip “belajar sepanjang hayat” sebagai fondasi pembangunan bangsa. Di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, sertifikasi keahlian kini lebih dihargai daripada gelar panjang yang tidak aplikatif.
Tantangan dan Solusi Realistis
Namun, perjalanan belajar mandiri tentu tidak tanpa tantangan. Ada rasa kesepian intelektual, keterbatasan akses praktik, hingga stigma sosial. Oleh karena itu, solusi realistis perlu disusun dengan cermat:
- Belajar Terstruktur (Structured Self-Learning)
Tetapkan tujuan jelas, susun kurikulum pribadi, dan patuhi disiplin belajar mandiri layaknya seorang pelajar formal. - Mencari Sertifikasi Alternatif
Ikuti kursus singkat bersertifikat yang relevan, seperti coding, desain grafis, bahasa asing, atau manajemen bisnis digital. Hal ini penting untuk membuka pintu profesional.- Bangun Portofolio Nyata
Fokus bukan hanya pada teori, tetapi menghasilkan karya: tulisan, proyek teknologi, karya seni, inovasi sosial. Portofolio kini sering lebih dihargai daripada transkrip nilai.- Gunakan Teknologi untuk Membangun Jejaring
Ikut komunitas, webinar, diskusi daring untuk menambah koneksi intelektual, profesional, dan bahkan spiritual. Integrasikan Ilmu dengan Nilai Religius Jadikan belajar sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar alat mencari nafkah. Dengan niat yang lurus, ilmu akan melahirkan keberkahan, bukan sekadar kebanggaan semu.
Pendidikan Sebagai Spirit, Bukan Status
Sejarah mencatat banyak ulama dan ilmuwan besar yang tumbuh tanpa jalur formal. Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Ibnu Sina belajar dari guru ke guru, dari pengalaman ke pengalaman, dengan dorongan cinta kepada ilmu dan kepada kebenaran. Aceh sendiri pernah melahirkan ulama-ulama besar seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani, yang belajar bukan karena dibatasi gedung atau silabus, melainkan karena semangat mencari hakikat hidup.
Pendidikan sejati adalah gerak ruhani. Ia tidak berhenti pada penerimaan ijazah, melainkan berlanjut pada aktualisasi nilai, pemurnian akhlak, dan kontribusi nyata kepada umat manusia.
Penutup
Maka, jangan pernah berkecil hati jika jalan pendidikan formal terasa tertutup. Dunia hari ini, termasuk di Aceh dan Indonesia secara umum, menyediakan jalan lain yang tak kalah mulia untuk terus belajar.
*Penulis adalah peminat isu pendidikan sosial budaya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






