• Latest
TELAGA AIRMATA

Menyelamatkan Ingatan di Tengah Reruntuhan

April 24, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Menyelamatkan Ingatan di Tengah Reruntuhan

Redaksiby Redaksi
April 24, 2025
Reading Time: 3 mins read
TELAGA AIRMATA
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Muhamad Ihwan

Di tengah puing dan genangan air laut yang belum surut sepenuhnya, seorang pria berjas safari berdiri menatap kosong ke arah horizon. Waktu itu awal 2005, tak lama setelah gelombang maha dahsyat menyapu Aceh dan sebagian Nias. Namanya Kuntoro Mangunsubroto, Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD–Nias (BRR). Di pundaknya, negara menitipkan amanat: membangun kembali daerah yang luluh lantak. Namun ia tahu, membangun rumah dan jalan bukan satu-satunya pekerjaan besar. Ia menyadari, ada satu hal yang tidak boleh ikut hilang dalam bencana: ingatan.

Banyak orang memulai rekonstruksi dengan adukan semen dan tiang pancang. Kuntoro memulainya dengan kertas-kertas. Di tengah hiruk-pikuk distribusi logistik, tender pembangunan, dan pendirian ribuan rumah, ia meminta stafnya menginventarisasi semua dokumen kegiatan BRR. Ia tahu, pekerjaan besar yang dijalankan lembaganya tidak hanya perlu pertanggungjawaban administratif, tetapi juga harus menjadi pelajaran bagi masa depan.

Baca Juga

Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
AI dan Embrio Liberalisme

AI dan Embrio Liberalisme

Maret 8, 2026

“Jangan sampai apa yang kita kerjakan hari ini lenyap tanpa jejak,” begitu kira-kira pesan yang acap ia ulang kepada para deputi dan direktur di BRR. Kuntoro tidak ingin lembaga yang dipimpinnya hanya dikenal sebagai mesin pelaksana pembangunan. Ia ingin ada warisan nonfisik yang bisa dibaca anak cucu kelak: bagaimana bangsa ini bangkit dari reruntuhan.

Langkah itu menjadi titik balik dalam sejarah kearsipan kebencanaan Indonesia. Menjelang masa akhir tugas BRR pada 2009, Kuntoro menggagas Nota Kesepahaman tiga pihak: BRR, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dan Pemerintah Aceh. Dalam nota itu, pembagian tugas dibuat dengan sangat terstruktur: ANRI bertanggung jawab pada sistem pengelolaan arsip dan tenaga ahli; Pemerintah Aceh menyediakan lahan; BRR mengalokasikan anggaran dan membangun gedung penyimpanan arsip.

Hasilnya adalah lahirnya pusat penyelamatan dan pengelolaan arsip BRR NAD–Nias di Aceh, yang kini berkembang menjadi Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI Aceh (BAST ANRI Aceh) satu-satunya pusat studi arsip kebencanaan di Indonesia.

Apa yang dilakukan Kuntoro saat itu terbilang langka. Dalam tradisi birokrasi Indonesia, sedikit sekali lembaga yang secara sadar mengelola arsip sebagai warisan peradaban. Umumnya, arsip hanya dianggap sebagai penumpukan dokumen untuk laporan pertanggungjawaban, yang segera dilupakan setelah masa kerja usai. Namun Kuntoro punya cara pandang berbeda. Baginya, arsip adalah suara sunyi dari kerja kolektif yang seharusnya tidak dilupakan.

Langkah Kuntoro terbukti jauh melampaui zamannya. Arsip BRR yang ia selamatkan, setelah melalui kurasi dan seleksi ketat, akhirnya diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari Register Memory of the World (MoW). Sebuah pengakuan global yang menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara lain yang telah lama menjadikan arsip sebagai instrumen diplomasi budaya dan kemanusiaan.

Kini, lebih dari dua dekade sejak bencana itu datang, ruang-ruang penyimpanan di BAST ANRI Aceh menyimpan ribuan folder dan kotak arsip. Ada dokumen pembangunan rumah korban, relokasi desa, rehabilitasi jalan, hingga data psikososial anak-anak penyintas. Dokumen-dokumen ini kini menjadi rujukan para peneliti, mahasiswa, pegiat kemanusiaan, dan lembaga donor yang ingin belajar dari pengalaman Indonesia.

Yang lebih penting, arsip-arsip itu telah mengubah cara kita memahami bencana: dari sekadar cerita duka, menjadi narasi pemulihan dan harapan.

Kuntoro tidak sering tampil di acara publik membanggakan hal ini. Ia dikenal sebagai birokrat pendiam, tetapi keras dalam prinsip. Ia tidak suka gembar-gembor, tetapi pekerjaannya meninggalkan jejak panjang. Dalam banyak kesempatan, ia lebih sering berbicara soal transparansi dan efisiensi. Namun di balik itu semua, ia adalah tokoh penting dalam sejarah kearsipan kebencanaan nasional yang pantas dikenang.

Pada Hari Kearsipan Nasional 2025 ini, ketika dunia kearsipan mencari sosok panutan dan figur inspiratif, nama Kuntoro Mangunsubroto patut diajukan sebagai penerima Penghargaan Kearsipan Nasional. Penghargaan ini bukan hanya untuk menghormati jasanya di masa lalu, tetapi juga untuk mengirim pesan ke masa depan: bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak membiarkan jejak sejarahnya hilang tertelan waktu.

Di BAST ANRI Aceh hari ini, para arsiparis muda bekerja di antara rak-rak tinggi yang sunyi. Mereka tidak sedang membangun jembatan atau rumah. Tapi pekerjaan mereka sama pentingnya. Mereka sedang merawat ingatan. Ingatan tentang ribuan keluarga yang kehilangan, tentang birokrat yang bekerja tanpa pamrih, tentang relawan yang datang tanpa diminta. Dan di antara semua itu, ada jejak tangan dingin seorang pria yang memulainya dari reruntuhan: Kuntoro Mangunsubroto.

Dengan ketekunan, keberanian, dan visi jauh ke depan, ia telah membuktikan bahwa membangun bangsa bukan hanya soal beton dan baja, tetapi juga tentang menjaga warisan tak kasat mata: arsip.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Perempuan Yang Tak Lagi Jadi Tulang Rusuk

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com