Dengarkan Artikel
Oleh: Muhamad Ihwan
Di tengah puing dan genangan air laut yang belum surut sepenuhnya, seorang pria berjas safari berdiri menatap kosong ke arah horizon. Waktu itu awal 2005, tak lama setelah gelombang maha dahsyat menyapu Aceh dan sebagian Nias. Namanya Kuntoro Mangunsubroto, Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD–Nias (BRR). Di pundaknya, negara menitipkan amanat: membangun kembali daerah yang luluh lantak. Namun ia tahu, membangun rumah dan jalan bukan satu-satunya pekerjaan besar. Ia menyadari, ada satu hal yang tidak boleh ikut hilang dalam bencana: ingatan.
Banyak orang memulai rekonstruksi dengan adukan semen dan tiang pancang. Kuntoro memulainya dengan kertas-kertas. Di tengah hiruk-pikuk distribusi logistik, tender pembangunan, dan pendirian ribuan rumah, ia meminta stafnya menginventarisasi semua dokumen kegiatan BRR. Ia tahu, pekerjaan besar yang dijalankan lembaganya tidak hanya perlu pertanggungjawaban administratif, tetapi juga harus menjadi pelajaran bagi masa depan.
“Jangan sampai apa yang kita kerjakan hari ini lenyap tanpa jejak,” begitu kira-kira pesan yang acap ia ulang kepada para deputi dan direktur di BRR. Kuntoro tidak ingin lembaga yang dipimpinnya hanya dikenal sebagai mesin pelaksana pembangunan. Ia ingin ada warisan nonfisik yang bisa dibaca anak cucu kelak: bagaimana bangsa ini bangkit dari reruntuhan.
Langkah itu menjadi titik balik dalam sejarah kearsipan kebencanaan Indonesia. Menjelang masa akhir tugas BRR pada 2009, Kuntoro menggagas Nota Kesepahaman tiga pihak: BRR, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dan Pemerintah Aceh. Dalam nota itu, pembagian tugas dibuat dengan sangat terstruktur: ANRI bertanggung jawab pada sistem pengelolaan arsip dan tenaga ahli; Pemerintah Aceh menyediakan lahan; BRR mengalokasikan anggaran dan membangun gedung penyimpanan arsip.
Hasilnya adalah lahirnya pusat penyelamatan dan pengelolaan arsip BRR NAD–Nias di Aceh, yang kini berkembang menjadi Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI Aceh (BAST ANRI Aceh) satu-satunya pusat studi arsip kebencanaan di Indonesia.
Apa yang dilakukan Kuntoro saat itu terbilang langka. Dalam tradisi birokrasi Indonesia, sedikit sekali lembaga yang secara sadar mengelola arsip sebagai warisan peradaban. Umumnya, arsip hanya dianggap sebagai penumpukan dokumen untuk laporan pertanggungjawaban, yang segera dilupakan setelah masa kerja usai. Namun Kuntoro punya cara pandang berbeda. Baginya, arsip adalah suara sunyi dari kerja kolektif yang seharusnya tidak dilupakan.
📚 Artikel Terkait
Langkah Kuntoro terbukti jauh melampaui zamannya. Arsip BRR yang ia selamatkan, setelah melalui kurasi dan seleksi ketat, akhirnya diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari Register Memory of the World (MoW). Sebuah pengakuan global yang menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara lain yang telah lama menjadikan arsip sebagai instrumen diplomasi budaya dan kemanusiaan.
Kini, lebih dari dua dekade sejak bencana itu datang, ruang-ruang penyimpanan di BAST ANRI Aceh menyimpan ribuan folder dan kotak arsip. Ada dokumen pembangunan rumah korban, relokasi desa, rehabilitasi jalan, hingga data psikososial anak-anak penyintas. Dokumen-dokumen ini kini menjadi rujukan para peneliti, mahasiswa, pegiat kemanusiaan, dan lembaga donor yang ingin belajar dari pengalaman Indonesia.
Yang lebih penting, arsip-arsip itu telah mengubah cara kita memahami bencana: dari sekadar cerita duka, menjadi narasi pemulihan dan harapan.
Kuntoro tidak sering tampil di acara publik membanggakan hal ini. Ia dikenal sebagai birokrat pendiam, tetapi keras dalam prinsip. Ia tidak suka gembar-gembor, tetapi pekerjaannya meninggalkan jejak panjang. Dalam banyak kesempatan, ia lebih sering berbicara soal transparansi dan efisiensi. Namun di balik itu semua, ia adalah tokoh penting dalam sejarah kearsipan kebencanaan nasional yang pantas dikenang.
Pada Hari Kearsipan Nasional 2025 ini, ketika dunia kearsipan mencari sosok panutan dan figur inspiratif, nama Kuntoro Mangunsubroto patut diajukan sebagai penerima Penghargaan Kearsipan Nasional. Penghargaan ini bukan hanya untuk menghormati jasanya di masa lalu, tetapi juga untuk mengirim pesan ke masa depan: bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak membiarkan jejak sejarahnya hilang tertelan waktu.
Di BAST ANRI Aceh hari ini, para arsiparis muda bekerja di antara rak-rak tinggi yang sunyi. Mereka tidak sedang membangun jembatan atau rumah. Tapi pekerjaan mereka sama pentingnya. Mereka sedang merawat ingatan. Ingatan tentang ribuan keluarga yang kehilangan, tentang birokrat yang bekerja tanpa pamrih, tentang relawan yang datang tanpa diminta. Dan di antara semua itu, ada jejak tangan dingin seorang pria yang memulainya dari reruntuhan: Kuntoro Mangunsubroto.
Dengan ketekunan, keberanian, dan visi jauh ke depan, ia telah membuktikan bahwa membangun bangsa bukan hanya soal beton dan baja, tetapi juga tentang menjaga warisan tak kasat mata: arsip.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






