POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bila Guru Bersikap Apatis di Era Digital

Masa depan itu begitu dekat

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
March 15, 2022
Bila Guru Bersikap Apatis di Era Digital
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Perubahan perilaku peserta didik di muka bumi di berbagai level, mulai dari PAUD hingga Universitas saat ini semakin kompleks di era digital ini. Ya, penghuni bumi  yang masih beragam yang merupakan gabungan dari generasi baby boomers, generasi X, generasi Y dan bahkan juga generasi Z serta A. Semua generasi ini  masih bisa dikatakan sebagai pemiliki era ini, walau sebenarnya  setiap zaman ada orangnya dan setiap orang, ada zamannya dan di era digital ini saat ini, namun generasi yang dominan menguasai zaman ini adalah kaum yang dikategorikan ke dalam kelompok generasi milenial. Generasi milenial alias generasi Y ini merupakan generasi yang  hidup dan diasuh dalam peradaban komputer, Internet dan bahkan kecerdasan artifisial. Generasi yang harus difahami bahwa mereka sudah tidak bisa dibedakan lagi batas bermain dan belajarnya. Generasi yang sangat mudah beradaptasi dengan perubahan yang begitu cepat, karena mereka bisa dengan cepat terhubung dengan media sosial, kapan saja, di mana saja, tanpa batas. Walau banyak yang menuding generasi ini sebagai generasi rusak-rusakan. Padahal, generasi milenial  yang hidup di bawah pengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang serba digital tersebut bergerak sangat cepat dalam hal penguasaan teknologi informasi.

Gap  Yang Besar dan Menganga

📚 Artikel Terkait

Ternyata Yayasan Sirah program Punya Talas Vokasional

Tan Malaka Pemuda Luar Biasa Yang Terlupakan Dari Tanah Sumatera Barat

Mati Rasa 20 Tahun Tsunami Aceh di Benak Generasi Alpha

Wisuda Siswa, Antara Tradisi dan Beban Orangtua

Nah, cepatnya dinamika perubahan di segala bisang dalam peradaban era milenial ini, membuat para guru yang umumnya masih banyak dari kalangan non milenial, seperti generasi X atau baby boomers kelabakan. Kecepatan generasi milenial memahami dan menggunakan segala piranti teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat telah mengalahkan gerak langkah guru dari kalangan baby boomers yang kebanyakan masih gagap teknologi, sehingga dalam bidang ini, para guru tertinggal jauh dan berada di jurang yang dalam dan menganga. Ini menjadi tantangan berat bagi para guru kini dan esok. Sebab, guru bagi kaum milenial memang harus dengan cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi internet atau teknologi digital ini. J.Sumadianta dan Wahyu Kris AW dalam bukunya “ Mendidik Generasi Z dan A, terbitan Grasindo, tahun 2018 mengingatkan kepada para pendidik bahwa “ Guru tidak boleh lagi membenamkam diri dalam belukar kertas administrasi yang sesungguhnya bukan solusi bagi dinamika murid atau siswa  zaman paperless. Pertanyaan kita, bila banyak guru dari kalangan baby boomers yang masih gaptek, bagaimana bisa mengajarkan atau melaksanakan pembelajaran tang kreatif, membangun kecerdasan emosional, kolaboratif, menyelesaikan maslah-masalah kompleks serta bersikap fleksibilitas kolektif kepada para murid atau siswa supaya mampu beradaptasi dengan peradaban milenial? Sebagaimana ditulis oleh J. Sumardianta dan Wahyu Kris AW, kelima ketrampilan itulah yang mesti diajarkan guru-guru kepada murid atau para siswa agar bisa menyesuaikan dengan peradaban milenial yang identik dengan kecerdasan buatan, karena lokasi pengetahuan abad 21 telah bergeser dari guru ke Internet.

Nah, begitu besar dan beratnya tantangan bagi guru dalam mendidik kaum milenial saat ini. Bukan hanya itu, tantangan bagi guru di era ini bukan saja terkait dengan kemampuan menguasai teknologi informasi dan komunikasi yang serba digital, namun yang paling berat adalah perubahan perilaku generasi milenial yang dengan cepat juga berubah 180 derajat. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa perilaku, watak, karakter atau sifat ikut mengalami disrupsi sepertilnya di sektor-sektor kehidupan lainnya. Perubahan perilaku dan gaya hidup yang membuat guru kalangan baby boomers bisa kalangkabut dan bahkan stress.

Yuswohadi dan kawan-kawan dalam bukunya Milenials Kill Everything, terbitan Gramedia 2019 dalam prolognya menyebutkan bahwa milenial adalah pembunuh berdarah dingin. Mereka membunuh apa pun. Mengapa milenial dikatakan menjadi generasi paling brutal dalam sejarah umat manusia? Katanya, karena otak mereka yang begitu intens terekspos teknologi dan media digital menjadikan perilaku dan preperensi mereka berubah secara ekstrim dan sama sekali berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.

Nah, dalam kondisi yang demikian, guru-guru yang mengajar dan mendidik generasi milenial, generasi Z dan A, harus dengan cepat belajar, belajar dan belajar beradaptasi dengan peradaban milenial yang terus berubah begitu pesat. Yang jelas tidak boleh diam dan menonton perubahan tersebut, apalagi bersikap apatis, para guru akan terus tergilas dan menjadi korban perubahan peradaban. Di sinilah esensi Guru pembelajar. Ya, guru harus menjadi sebagai sosok pembelajar dan menempatkan diri pada posisi sebagai pembelajar dari pengalaman mengajar generasi milenial dengan menguasai ke lima ketrampilan yang disebutkan di atas. Bila tidak, para guru akan menjadi pecundang atau pihak yang kalah dari mereka yang diajar dan dididik. Oleh sebab itu, jangan tunda dan malas belajar. Harus segera belajar dan beradaptasi, sehingga bisa mengbangi, kalau tidak mampu berada pada posisi yang lebih depan, atau terdepan. Bila guru mau terus belajar dan menjadi pembelajar, Insya Allah akan mampu beradaptasi dengan sistem pembelajaran dan peradaban kaum milenial.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Elegi Perut Bumi

Elegi Perut Bumi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00