Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Menulis artikel untuk publikasi, baik dalam jurnal ilmiah, media massa, maupun platform digital akademik, bukanlah sekadar aktivitas menuangkan gagasan ke dalam kata-kata. Lebih dari itu, menulis artikel adalah proses ilmiah yang memiliki daya gugah, daya ubah, dan daya dorong bagi pembaca, masyarakat, serta para pemangku kepentingan, termasuk para ilmuwan dan praktisi di bidang pendidikan.
Di era pasca-pandemi dan berkembangnya Revolusi Industri 4.0, kebutuhan terhadap literasi kritis, pemikiran berbasis data, serta pembaruan sistem pendidikan berbasis pengetahuan semakin mendesak.
Secara epistemologis, kegiatan menulis artikel ilmiah mencerminkan proses dialektika antara realitas sosial dan refleksi intelektual. Seorang penulis tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menafsirkan, menganalisis, serta memberi perspektif kritis terhadap fenomena yang terjadi. Hal ini membawa keuntungan besar bagi pengembangan keilmuan, sebab setiap tulisan yang dipublikasikan pada dasarnya menambah khazanah pengetahuan, memperkaya perdebatan ilmiah, dan membangun tradisi berpikir yang logis dan sistematis.
Kesenjangan Budaya Publikasi antara Indonesia dan Negara Maju
Jika dilihat dari sisi global, budaya menulis dan publikasi ilmiah di bidang pendidikan di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju. Berdasarkan data dari Scimago Journal & Country Rank (SJR) tahun 2023, kontribusi publikasi ilmiah Indonesia berada di peringkat ke-45 dunia dengan hanya sekitar 0,29% dari total publikasi dunia, sementara negara seperti Amerika Serikat mencatat 16,54%, disusul Tiongkok (15,78%), dan Inggris (6,42%). Dari seluruh publikasi Indonesia tersebut, hanya sekitar 17% yang berkaitan dengan bidang pendidikan, dengan mayoritas berasal dari institusi di Pulau Jawa.
Lebih mengkhawatirkan lagi, laporan UNESCO Institute for Statistics (UIS) menyebutkan bahwa hanya 8% dosen di Indonesia secara aktif menulis dan mempublikasikan artikel ilmiah setiap tahunnya. Bandingkan dengan Finlandia dan Jerman, di mana lebih dari 45–60% pendidik di jenjang perguruan tinggi terlibat dalam publikasi akademik secara rutin. Hal ini menunjukkan adanya tantangan struktural dan budaya akademik yang belum sepenuhnya mendukung tradisi literasi ilmiah.
Banyak faktor yang memengaruhi rendahnya budaya publikasi di Indonesia, seperti beban administratif dosen yang tinggi, minimnya pelatihan penulisan ilmiah, terbatasnya akses terhadap jurnal bereputasi, serta kurangnya insentif institusional. Padahal, budaya menulis dan publikasi adalah indikator utama kemajuan sistem pendidikan di suatu negara.
📚 Artikel Terkait
Manfaat Strategis Publikasi Artikel dalam Pendidikan
Bagi pembaca, khususnya masyarakat akademik dan komunitas praktis dalam dunia pendidikan, publikasi artikel dapat menjadi media pencerahan yang penting. Artikel yang ditulis secara mendalam dan objektif bisa menjadi jembatan antara teori dan praktik, antara gagasan ilmiah dan implementasi kebijakan di lapangan. Misalnya, artikel tentang pembelajaran berbasis proyek atau integrasi kecerdasan buatan dalam pendidikan tinggi dapat memberi masukan konkret bagi guru, dosen, perancang kurikulum, dan pengambil kebijakan.
Selain itu, menulis artikel publikasi juga merupakan sarana advokasi sosial dan refleksi kritis terhadap sistem pendidikan. Artikel tentang ketimpangan pendidikan, tantangan pendidikan di daerah tertinggal, atau strategi peningkatan mutu guru dapat membangkitkan kesadaran publik serta mendorong reformasi kebijakan. Dalam konteks ini, publikasi bukan hanya media ekspresi intelektual, tetapi juga senjata moral dalam memperjuangkan keadilan dan pemerataan pendidikan.
Lebih jauh lagi, budaya menulis dan publikasi mendorong pembentukan jejaring akademik. Penulis yang aktif mempublikasikan artikel ilmiah akan lebih mudah terhubung dengan komunitas global, membuka jalan kolaborasi lintas negara, serta meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia di kancah internasional. Dalam studi UNESCO tahun 2022, disebutkan bahwa negara-negara yang memiliki tingkat kolaborasi akademik tinggi seperti Kanada dan Belanda, rata-rata memiliki peningkatan 25–30% lebih cepat dalam inovasi sistem pendidikan mereka dibandingkan negara-negara berkembang.
Menumbuhkan Tradisi Akademik di Dunia Pendidikan
Mengingat manfaatnya yang besar, penting bagi institusi pendidikan di Indonesia—baik sekolah maupun perguruan tinggi—untuk mendorong para pendidik, peneliti, dan mahasiswa untuk menulis serta mempublikasikan artikel ilmiah. Sebuah survei kualitatif oleh Kemendikbudristek pada tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya 20% guru yang merasa percaya diri menulis artikel untuk jurnal, dan hanya 5% yang pernah melakukannya. Ini merupakan peluang sekaligus tantangan besar bagi pengembangan kapasitas guru di Indonesia.
Program pelatihan penulisan ilmiah, insentif publikasi, kerja sama internasional, dan penyederhanaan sistem administrasi akademik harus menjadi bagian dari solusi. Dengan begitu, akan tercipta ekosistem berpikir yang produktif dan reflektif. Tidak hanya menghasilkan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam dunia pendidikan.
Kesimpulan
Menulis artikel untuk publikasi bukan hanya sarana menyampaikan gagasan, melainkan bentuk tanggung jawab intelektual dan sosial. Dalam konteks pendidikan, ia menjadi medium untuk pencerahan, perbaikan mutu, dan pembentukan tradisi akademik yang kuat. Indonesia perlu belajar dari negara-negara maju yang telah menjadikan publikasi ilmiah sebagai bagian integral dari sistem pendidikan mereka. Dengan memperkuat budaya menulis, Indonesia bukan hanya mengejar ketertinggalan, tetapi juga membuka jalan menuju pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan transformatif. Maka, menulislah bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk mencerahkan dan mengubah wajah pendidikan Indonesia.
*Penulis adalah warga Aceh besar, peminat masalah pendidikan dan sosial
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






