Dengarkan Artikel
Oleh Ilhamdi Sulaiman
Udara pagi membawa sisa hujan yang menggantung seperti doa-doa yang tertunda. Jam dua lewat lima belas, kabut turun tipis menutupi halaman rumah keluarga Mulyadi. Di ujung gang, suara langkah kaki tergesa menyatu dengan deru ambulan yang perlahan
merapat.
Kabar duka itu menyebar seperti aliran listrik sangat cepat dan tak bisa dicegah. Komisaris utama PT Bara Anugerah, sebuah perusahaan mebel. Tuan Mulyadi, meninggal dunia di usia
senjanya. Serangan jantung saat tidur. Kata dokter.
Di rumah duka tangis tertahan dan bisik-bisik basa-basi memenuhi ruangan. Sebagian besar karyawan perusahaan datang di malam
yang basah itu. Mereka berdasi rapi meski belum subuh, membawa bunga dan wajah duka yang terlihat dilatih. Beberapa sibuk dengan ponsel, memastikan unggahan belasungkawa mereka disukai
sebanyak mungkin.
Ragil berdiri di pojok ruangan. Matanya merah, namun kaku. Ia tak menangis. Ia menatap tubuh ayahnya yang terbujur dalam peti. Masih mengenakan batik, seolah baru saja selesai memimpin rapat
direksi.
“Dia pasti akan menggantikan posisi ayahnya,
” bisik seorang manajer HRD kepada koleganya.
“Makanya kita datang cepat. Tunjukkan loyalitas,
” sahut yang lain.
Malam itu, duka dan kepentingan berdansa dalam ruang yang sama. Sebelum dimakamkan, jenazah Mulyadi menjadi pusat gravitasi dari kekuasaan yang perlahan berpindah tangan.
Seseorang dari balik kerumunan mendekat. Lelaki setengah baya, jasnya gelap dan tubuhnya seperti bayangan yang sudah lama tak muncul di rumah itu.
“Ragil,
” katanya lirih tapi penuh tekanan.
“Prartai mengirim salam.
Kami diminta bicara setelah pemakaman.
”
Ragil menoleh, mengenali wajah itu: Pak Prabu orang lama dari partai penguasa. Pernah satu meja dengan bapaknya, pernah juga saling ancam di belakang layar 5 tahun yang lalu.
“Ayahmu berjanji menyokong dana kampanye untuk periode berikut. Kami perlu tahu posisi kamu.
”
Ragil menatap jenazah ayahnya. Tenang. Seolah menyembunyikan rahasia besar yang tak pernah dibisikkan kepadanya.
“Aku belum tahu akan jadi apa setelah ini,
” jawab Ragil.
“Yang jelas, malam ini aku bukan komisaris. Aku cuma anak yang berdagang kuliner saja.
”
Pak Prabu tersenyum kecil.
“Dalam dunia kami, duka itu sangat sakral Dan waktu pemakaman adalah awal perjanjian baru.
”
Setelah pak Prabu pergi, Ragil naik ke kamar kerja ayahnya. Aroma prabot lama dan kertas tua menyambutnya. Meja itu, yang dulu
menjadi altar kekuasaan bapaknya kini seperti reruntuhan kekaisaran yang ditinggalkan tanpa pesan.
📚 Artikel Terkait
Di laci terdalam, ia menemukan sebuah map berisi dokumen—semacam laporan rahasia, disertai cap merah dan tanda tangan pejabat tinggi. Beberapa halaman memuat rincian: rekening gelap, nama-nama pejabat, hingga bukti transfer ke partai tertentu.
Ragil tertegun. Ini bukan sekadar warisan. Ini bahan politik. Dan di atas tumpukan dokumen itu, ada secarik kertas dengan tulisan tangan ayahnya:
Dunia ini bukan untuk orang baik. Aku harap kau cukup pintar untuk tidak melawan arus. Tapi kalau kau mau membersihkan
nama kita, lakukan dengan kepala dingin. Jangan percaya siapa pun. Bahkan Nenek Ratu.
Tangan Ragil gemetar. Ia tahu, apa yang dimilikinya bisa menghancurkan banyak orang—termasuk dirinya sendiri. Ia berdiri
di depan jendela, melihat para pelayat yang terus berdatangan.
“Semua datang bukan karena ayah mati,
” gumamnya.
“Mereka datang untuk memastikan kekuasaan tetap di tempatnya.
”
Udara masih dingin. Hujan mulai turun lagi, seperti penghapus yang tak pernah bisa menghapus sepenuhnya.
Hari Kartini 2025.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






