POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Memahami Sikap Jan Hwa Diana

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
April 19, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Seharian tadi netizen +62 mencurahkan amarah pada Jan Hwa Diana. Sekarang, saya mencoba membawa followers memahami dari sisi penguasa asal Surabaya itu. Sambil seruput kopi americano di Kafe Teduh Jalan Dansen Pontianak, yok kita bahas sambil dengarkan lagu Perfect dari Ed Sheeran.

Kita mulai dari kisah telepon legendaris antara Wakil Walikota Surabaya dan Diana. Wakil sudah berdiri di depan pabrik, gerbang terkunci seperti pintu hati mantan yang trauma. Diteleponlah Diana. Responnya? “Siapa Anda?Jangan-jangan penipu.” Ini bukan sekadar jawaban, ini pernyataan ideologis. Diana mungkin tumbuh besar dengan prinsip “jangan percaya siapa pun kecuali notaris.” Bisa jadi dia sudah kebal terhadap suara-suara asing yang biasanya menawarkan voucher, MLM, atau hutang. Lagi pula, siapa yang bisa memastikan itu memang Wakil Walikota? Suara di telepon bisa dimanipulasi. Mungkin Diana hanya waspada, atau… mungkin dia pikir jabatan wakil itu tidak cukup penting dibanding kepala HRD-nya sendiri.

Kemarahan publik makin membara saat Diana bertemu Wakil Menteri Tenaga Kerja. Bayangkan, seorang pejabat negara datang, lalu Diana menyambutnya dengan santai sambil menggenggam HP. Ini bukan sekadar gesture, ini pernyataan level eksistensial. Diana tampaknya sudah di level “aku sudah tahu solusinya, tinggal tunggu kalian paham.” Atau dalam teori psikologi sosial, ini disebut sebagai desensitisasi otoritas, kondisi di mana seseorang kehilangan rasa takut terhadap simbol-simbol kekuasaan. Biasanya muncul pada orang yang merasa tak tersentuh. Alias, punya beking. Atau punya foto bareng jender

Soal sistem denda yang katanya kejam? Telat kerja didenda. Salat Jumat lebih dari 20 menit didenda. Gak masuk kerja didenda. Cuti juga didenda. Napas terlalu panjang? Mungkin nanti juga didenda. Tapi kita coba bayangkan kemungkinan lain. Bisa saja karyawan-karyawan Diana adalah kumpulan makhluk penuh alasan, lupa bangun, motor bocor, nenek sakit padahal udah meninggal dari 2004. Denda mungkin bukan alat penindasan, tapi bentuk perlawanan Diana terhadap budaya molor. Dalam pikirannya, mungkin ini revolusi industri 5.0: pekerja diawasi, waktu dijaga, dan setiap detik berharga. Kapitalisme rasa timer microwave.

📚 Artikel Terkait

12 Tips Penting untuk Tingkatkan Kualitas Diri

Maksud Hati

Mau Buat Apa?

Potret Ketangguhan Kaum Perempuan

Lalu ada isu soal ijazah yang ditahan. Di sinilah Diana benar-benar ditahbiskan sebagai villain nasional. Tapi tunggu dulu. Bisa jadi ini bentuk trauma personal. Mungkin dulu dia terlalu sering ditinggal karyawan. Baru diajarin cara buka mesin, eh besoknya resign. Maka ijazah dijadikan semacam “jaminan cinta.” Logikanya: “Kau boleh pergi, tapi ijazahmu tetap bersamaku.” Ini bukan kejahatan, ini luka batin yang berubah jadi sistem manajemen sumber daya manusia.

Ada juga yang bilang, Diana tidak takut siapa pun. Netizen ngamuk? Gak goyah. Pejabat marah? Biasa aja. Ormas datang? Masih bisa ngopi. Ini menimbulkan satu spekulasi psikologis menarik, Diana mungkin mengidap Anti-Fear Personality Disorder. Sebuah kondisi langka di mana seseorang benar-benar tidak peduli pada ancaman eksternal, internal, maupun spiritual. Atau bisa jadi dia punya beking sekuat sinyal BTS, tak terlihat tapi nyata. Kalau dia main game, pasti pilih karakter tank dengan skill kebal semua.

Namun di balik semua keabsurdan ini, ada teori yang layak dipertimbangkan, bisa saja Diana hanyalah puncak dari gunung es industri yang sudah lama beku. Pabrik lain mungkin sama kejam, tapi lebih pintar bersandiwara. Mereka senyum ke wartawan, traktir ormas, kirim parcel ke pejabat, dan upload CSR di Instagram. Diana? Terlalu polos. Terlalu jujur dalam ketidaksopanannya.

Apakah Diana salah? Mungkin. Apakah dia jahat? Entahlah. Tapi yang jelas, dalam republik absurd ini, yang jujur malah paling mudah dipenjara, dan yang pintar pencitraan bisa ikut seminar antikorupsi sambil bagi-bagi stiker. Maka memahami Diana bukan tentang membela, tapi menyadari, sistem ini sendiri yang bikin dia jadi begitu.

Selamat datang di negeri +62. Silakan denda diri sendiri karena terlalu berharap masuk akal.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mobil Handphone

Mobil Handphone

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00