• Latest
Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - IMG 20250201 WA0009 | #Pendidikan | Potret Online

Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan

April 17, 2025
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Pendidikan | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - IMG 20250201 WA0009 | #Pendidikan | Potret Online

Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan

Muhammad Afnizal by Muhammad Afnizal
April 17, 2025
in #Pendidikan, Guru
Reading Time: 4 mins read
0
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Muhammad Afnizal

Beberapa tahun yang lalu, pendidikan kita sempat terombang-ambing dalam badai covid-19 yang mengerikan. Impresi yang muncul dalam benak kita tentu beragam. Namun rasanya semuanya bermuara pada satu kesimpulan bahwa terdapat gejolak yang terjadi.

Misalnya saja, belajar jarak jauh yang diistilahkan dengan daring (dalam jaringan/belajar online atau dari rumah).Sempat diterapkan dalam sistem pendidikan kita, telah memberikan banyak solusi sekaligus masalah yang  cukup berarti.

Terbuka jalan baru dan inovasi untuk cara belajar model baru yang sangat menghemat ruang dan waktu. Sedangkan di sisi lain, seakan membuka tabir jurang yang cukup curam bahwa masih ada ketimpangan kasta pendidikan dalam lapisan masyarakat.

Fenomena tersebut menjelaskan kadar kesiapan semua pihak,yang semestinya bertanggung jawab terhadap jalannya rotasi pendidikan generasi bangsa. Dapat berupa pengambil kebijakan, maupun yang berperan secara langsung terhadapjalannya proses belajar mengajar di sekolah terutama guru.

Fasilitas belajar yang terintegrasi dengan situasi terkini semisal laptop, jaringan  internet dan smartphone yang sangat kurang di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Maupun ketidaksiapan siswa dalam menerima perkembangan teknologi, baik dari sisi mental serta kemampuan ekonomi keluarga. Membeli fasilitas teknologi adalah bahan ulasan yang cukup sering dikeluhkan oleh pemateri di dalam sekian banyak webinar, akan fenomena tersebut. Saban waktu alasan tersebut adalah rintangan besar dalam tegaknya keadilan dalam pendidikan.

Dalam situasi seperti ini rasanya kita membutuhkan sosok guru yang “pah lawan“, yaitu sosok guru yang pah (pas artinya), pah lawan yang dimaksud di sini adalah kata ungkapan dari bahasa Aceh yang berarti “pas lawannya”. Pahlawan yang dimaksud adalah seiras ketika menjadi teman duel, atau seirama misalnya ketika menjadi teman duet.

Pah lawan dalam ungkapan Aceh dimaksudkan untuk sesuatuyang seimbang. Komparasi nilai, jika kuat maka samalah kuatnya dan jika lemah samalah lemahnya. Seorang guru mendidik siswa milenial, maka akan pah lawan guru tersebut,jika menjadi sosok guru yang bergaya mengajar milenial bukan kolonial. Guru pah lawan akan menempatkan diri, sehingga cocok dengan gen-z maupun gen alpha.

Sosok guru yang pah lawan tersebut akan menyiasati setiap kendala yang muncul dalam menghambat saluran ilmu. Mereka berani melakukan gebrakan walau sebesar zarah, dalam mewujudkan siswa-siswinya menjadi pandai dan mulia.Guru semacam ini muncul dalam setiap masa, tidak terbatas ruang dan waktu.

Terkisah cerita dari orang tua dahulu, tatkala mereka mengenang guru ahli hampir segala bidang ilmu. Menulis di batu, sabak dan grip (alat tulis zaman dulu). Merupakan solusi ketika kertas dan pena belum ada apalagi komputer dan laptop. Situasi covid-19 juga menyisakan kisah terkait  muncul guru yang mengolah transmisi radio di sekolah menjadi saluran belajar daring, ketika mereka menghadapi kendala siswa yang tidak memiliki smartphone.

Hadir sebagai sosok guru yang “cocok” untuk anak kota dengan segala akses fasilitas dan kemampuan serapan pengetahuan mareka. Kurang tepat rasanya membawa gaya mengajar ini kepada anak pedalaman desa dengan memaksakan mareka belajar seharian penuh. Layaknya les privat, padahal belum tentu minat belajar mereka lebih besar.

Terdapat kenyataan di antara mereka mungkin ada yang harus membantu orangtua pada sore hari demi bisa makan, fenomena ini akan menjadikan ketimpangan dalam proses pembelajaran demikian juga sebaliknya.

Tidak akan menjadi guru pah lawan ketika membawa gaya mengajar yang seharusnya cocok diterapkan kapada anak SD dengan “mendikte”. Penerapan gaya belajar semacam ini kepada anak SMP apalagi SMA, maka akan muncul pemberontakan dari siswa. 

Ahli psikologis menjelaskan bahwa anak usia SMP/SMA sudah mulai tidak mau untuk didikte, mereka akan lebih menerima untuk diajak diskusi dan diajarkan mengambil keputusan diantara beberapa pilihan. Gaya mendikte oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya yang masih kecil, untuk tidak menyekutukan Allah.  Sangatlah berbeda dengan yang dilakukan oleh Ibrahim kepada Ismail yang cenderung sudah remaja. 

Mengajak ismail berduskusi“bagaimana pendapatmu” ketika dia akan disembelih padahalj elas ini adalah titah dari Sang Pencipta.

Kerapkali kita memperhatikan beberapa “oknum” guru yang mengajar tidak memposisikan diri sebagai lawan yang pas (pah lawan) dengan siswanya. Mereka akan sangat berang ketika beberapa siswanya membuat keriuhan dan kegaduhan di dalam kelas. Alih-alih mengeluarkan kata-kata mulia dalam memberikan arahan dan mendoakan, malahan cenderung menganggap siswa mareka yang masih kecil seolah seumuran dengan mereka. 

Seorang guru pun, umumnya usia SD atau SMP dulu mungkin nakalnya melebihi siswanya sekarang. Kecenderungan psikologis nakal-pintar anak  didiknya dibandingkan dengan psikologis dirinya yang sudah cukup dewasa seperti sekarang.

Lebih lanjut menjadi guru pah lawan artinya menerima dengan lapang dada perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Dari pada menyoal efek mengerikan yang  akan terjadi kepada siswa ketika menggunakan smartphone. Rasanya lebih bijaksana tatkala membimbing mereka untuk memanfaatkan gawai dengan sebaik-baiknya, untuk belajar dan mengakses ilmu.

ADVERTISEMENT

Tidak akan menjadi guru yang pah lawan jika tidak menerima keadaan ini. Studi menyebutkan jika anak akan terus bertambah rusak tatanan moral dan psikis mereka, akibat pengaruh buruk gadget di dalam genggaman.  Jika di luar sekolah mereka bebas mengakses situs berkonten negatif seperti pornografi dan judi online, maupun game yang sekarang paling digandrungi anak-anak. 

Baca Juga

Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | #Pendidikan | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - 567e58f5 9275 47f6 ad7c ceb6ed7d4bf9 | #Pendidikan | Potret Online

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Maret 12, 2026
Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - 88edc129 3595 4af2 ba1c 7d532215363b | #Pendidikan | Potret Online

AI dan Embrio Liberalisme

Maret 8, 2026

Sedangkan di dalam sekolah mereka dilarang untuk menggunakan smartphone bahkan untuk tujuan belajar, dengan alasan mereka akanter pengaruh oleh efek buruk alat ini. Maka sungguh memilukan.

Akhirnya, menjadi guru pah lawan ini akan berjalan seiring dengan cita-cita pendidikan milik kita semua. Konsep belajar yang selama ini dianggap terkungkung oleh dogma dan aturan yang sudah tidak relevan dengan zaman. 

Perlu pengorbanan dan mengajar dengan hati untuk pulihkan pendidikan. Akan tidak pah lawan jika guru masih enggan meng-upgrade dirinya untuk siap mengajar dalam berbagai sutuasi dan kondisi. Ikan hiu melayang-layang, i love you semua guru tersayang.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237Tweet148
Muhammad Afnizal

Muhammad Afnizal

* Alumnus Sosiologi USK dan Magister Sosiologi USU, sekarang bertugas sebagai guru Sosiologi MAN 1 Aceh Timur

Baca Juga

feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
Next Post
Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - 1fc2195e 9ade 4318 aa1f 00ce7fc6a171 | #Pendidikan | Potret Online

Dr Warsito dan Dua Dokter Bejat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com