Dengarkan Artikel
Oleh Muhammad Afnizal
Beberapa tahun yang lalu, pendidikan kita sempat terombang-ambing dalam badai covid-19 yang mengerikan. Impresi yang muncul dalam benak kita tentu beragam. Namun rasanya semuanya bermuara pada satu kesimpulan bahwa terdapat gejolak yang terjadi.
Misalnya saja, belajar jarak jauh yang diistilahkan dengan daring (dalam jaringan/belajar online atau dari rumah).Sempat diterapkan dalam sistem pendidikan kita, telah memberikan banyak solusi sekaligus masalah yang cukup berarti.
Terbuka jalan baru dan inovasi untuk cara belajar model baru yang sangat menghemat ruang dan waktu. Sedangkan di sisi lain, seakan membuka tabir jurang yang cukup curam bahwa masih ada ketimpangan kasta pendidikan dalam lapisan masyarakat.
Fenomena tersebut menjelaskan kadar kesiapan semua pihak,yang semestinya bertanggung jawab terhadap jalannya rotasi pendidikan generasi bangsa. Dapat berupa pengambil kebijakan, maupun yang berperan secara langsung terhadapjalannya proses belajar mengajar di sekolah terutama guru.
Fasilitas belajar yang terintegrasi dengan situasi terkini semisal laptop, jaringan internet dan smartphone yang sangat kurang di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Maupun ketidaksiapan siswa dalam menerima perkembangan teknologi, baik dari sisi mental serta kemampuan ekonomi keluarga. Membeli fasilitas teknologi adalah bahan ulasan yang cukup sering dikeluhkan oleh pemateri di dalam sekian banyak webinar, akan fenomena tersebut. Saban waktu alasan tersebut adalah rintangan besar dalam tegaknya keadilan dalam pendidikan.
Dalam situasi seperti ini rasanya kita membutuhkan sosok guru yang “pah lawan“, yaitu sosok guru yang pah (pas artinya), pah lawan yang dimaksud di sini adalah kata ungkapan dari bahasa Aceh yang berarti “pas lawannya”. Pahlawan yang dimaksud adalah seiras ketika menjadi teman duel, atau seirama misalnya ketika menjadi teman duet.
Pah lawan dalam ungkapan Aceh dimaksudkan untuk sesuatuyang seimbang. Komparasi nilai, jika kuat maka samalah kuatnya dan jika lemah samalah lemahnya. Seorang guru mendidik siswa milenial, maka akan pah lawan guru tersebut,jika menjadi sosok guru yang bergaya mengajar milenial bukan kolonial. Guru pah lawan akan menempatkan diri, sehingga cocok dengan gen-z maupun gen alpha.
Sosok guru yang pah lawan tersebut akan menyiasati setiap kendala yang muncul dalam menghambat saluran ilmu. Mereka berani melakukan gebrakan walau sebesar zarah, dalam mewujudkan siswa-siswinya menjadi pandai dan mulia.Guru semacam ini muncul dalam setiap masa, tidak terbatas ruang dan waktu.
📚 Artikel Terkait
Terkisah cerita dari orang tua dahulu, tatkala mereka mengenang guru ahli hampir segala bidang ilmu. Menulis di batu, sabak dan grip (alat tulis zaman dulu). Merupakan solusi ketika kertas dan pena belum ada apalagi komputer dan laptop. Situasi covid-19 juga menyisakan kisah terkait muncul guru yang mengolah transmisi radio di sekolah menjadi saluran belajar daring, ketika mereka menghadapi kendala siswa yang tidak memiliki smartphone.
Hadir sebagai sosok guru yang “cocok” untuk anak kota dengan segala akses fasilitas dan kemampuan serapan pengetahuan mareka. Kurang tepat rasanya membawa gaya mengajar ini kepada anak pedalaman desa dengan memaksakan mareka belajar seharian penuh. Layaknya les privat, padahal belum tentu minat belajar mereka lebih besar.
Terdapat kenyataan di antara mereka mungkin ada yang harus membantu orangtua pada sore hari demi bisa makan, fenomena ini akan menjadikan ketimpangan dalam proses pembelajaran demikian juga sebaliknya.
Tidak akan menjadi guru pah lawan ketika membawa gaya mengajar yang seharusnya cocok diterapkan kapada anak SD dengan “mendikte”. Penerapan gaya belajar semacam ini kepada anak SMP apalagi SMA, maka akan muncul pemberontakan dari siswa.
Ahli psikologis menjelaskan bahwa anak usia SMP/SMA sudah mulai tidak mau untuk didikte, mereka akan lebih menerima untuk diajak diskusi dan diajarkan mengambil keputusan diantara beberapa pilihan. Gaya mendikte oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya yang masih kecil, untuk tidak menyekutukan Allah. Sangatlah berbeda dengan yang dilakukan oleh Ibrahim kepada Ismail yang cenderung sudah remaja.
Mengajak ismail berduskusi“bagaimana pendapatmu” ketika dia akan disembelih padahalj elas ini adalah titah dari Sang Pencipta.
Kerapkali kita memperhatikan beberapa “oknum” guru yang mengajar tidak memposisikan diri sebagai lawan yang pas (pah lawan) dengan siswanya. Mereka akan sangat berang ketika beberapa siswanya membuat keriuhan dan kegaduhan di dalam kelas. Alih-alih mengeluarkan kata-kata mulia dalam memberikan arahan dan mendoakan, malahan cenderung menganggap siswa mareka yang masih kecil seolah seumuran dengan mereka.
Seorang guru pun, umumnya usia SD atau SMP dulu mungkin nakalnya melebihi siswanya sekarang. Kecenderungan psikologis nakal-pintar anak didiknya dibandingkan dengan psikologis dirinya yang sudah cukup dewasa seperti sekarang.
Lebih lanjut menjadi guru pah lawan artinya menerima dengan lapang dada perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Dari pada menyoal efek mengerikan yang akan terjadi kepada siswa ketika menggunakan smartphone. Rasanya lebih bijaksana tatkala membimbing mereka untuk memanfaatkan gawai dengan sebaik-baiknya, untuk belajar dan mengakses ilmu.
Tidak akan menjadi guru yang pah lawan jika tidak menerima keadaan ini. Studi menyebutkan jika anak akan terus bertambah rusak tatanan moral dan psikis mereka, akibat pengaruh buruk gadget di dalam genggaman. Jika di luar sekolah mereka bebas mengakses situs berkonten negatif seperti pornografi dan judi online, maupun game yang sekarang paling digandrungi anak-anak.
Sedangkan di dalam sekolah mereka dilarang untuk menggunakan smartphone bahkan untuk tujuan belajar, dengan alasan mereka akanter pengaruh oleh efek buruk alat ini. Maka sungguh memilukan.
Akhirnya, menjadi guru pah lawan ini akan berjalan seiring dengan cita-cita pendidikan milik kita semua. Konsep belajar yang selama ini dianggap terkungkung oleh dogma dan aturan yang sudah tidak relevan dengan zaman.
Perlu pengorbanan dan mengajar dengan hati untuk pulihkan pendidikan. Akan tidak pah lawan jika guru masih enggan meng-upgrade dirinya untuk siap mengajar dalam berbagai sutuasi dan kondisi. Ikan hiu melayang-layang, i love you semua guru tersayang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






