• Latest
Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - IMG 20250201 WA0009 | #Pendidikan | Potret Online

Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan

April 17, 2025
Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - IMG_9514 | #Pendidikan | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan

Muhammad Afnizal by Muhammad Afnizal
April 17, 2025
in #Pendidikan, Guru
Reading Time: 4 mins read
0
Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - IMG 20250201 WA0009 | #Pendidikan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Muhammad Afnizal

Beberapa tahun yang lalu, pendidikan kita sempat terombang-ambing dalam badai covid-19 yang mengerikan. Impresi yang muncul dalam benak kita tentu beragam. Namun rasanya semuanya bermuara pada satu kesimpulan bahwa terdapat gejolak yang terjadi.

Misalnya saja, belajar jarak jauh yang diistilahkan dengan daring (dalam jaringan/belajar online atau dari rumah).Sempat diterapkan dalam sistem pendidikan kita, telah memberikan banyak solusi sekaligus masalah yang  cukup berarti.

Terbuka jalan baru dan inovasi untuk cara belajar model baru yang sangat menghemat ruang dan waktu. Sedangkan di sisi lain, seakan membuka tabir jurang yang cukup curam bahwa masih ada ketimpangan kasta pendidikan dalam lapisan masyarakat.

Fenomena tersebut menjelaskan kadar kesiapan semua pihak,yang semestinya bertanggung jawab terhadap jalannya rotasi pendidikan generasi bangsa. Dapat berupa pengambil kebijakan, maupun yang berperan secara langsung terhadapjalannya proses belajar mengajar di sekolah terutama guru.

Fasilitas belajar yang terintegrasi dengan situasi terkini semisal laptop, jaringan  internet dan smartphone yang sangat kurang di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Maupun ketidaksiapan siswa dalam menerima perkembangan teknologi, baik dari sisi mental serta kemampuan ekonomi keluarga. Membeli fasilitas teknologi adalah bahan ulasan yang cukup sering dikeluhkan oleh pemateri di dalam sekian banyak webinar, akan fenomena tersebut. Saban waktu alasan tersebut adalah rintangan besar dalam tegaknya keadilan dalam pendidikan.

Dalam situasi seperti ini rasanya kita membutuhkan sosok guru yang “pah lawan“, yaitu sosok guru yang pah (pas artinya), pah lawan yang dimaksud di sini adalah kata ungkapan dari bahasa Aceh yang berarti “pas lawannya”. Pahlawan yang dimaksud adalah seiras ketika menjadi teman duel, atau seirama misalnya ketika menjadi teman duet.

Pah lawan dalam ungkapan Aceh dimaksudkan untuk sesuatuyang seimbang. Komparasi nilai, jika kuat maka samalah kuatnya dan jika lemah samalah lemahnya. Seorang guru mendidik siswa milenial, maka akan pah lawan guru tersebut,jika menjadi sosok guru yang bergaya mengajar milenial bukan kolonial. Guru pah lawan akan menempatkan diri, sehingga cocok dengan gen-z maupun gen alpha.

Sosok guru yang pah lawan tersebut akan menyiasati setiap kendala yang muncul dalam menghambat saluran ilmu. Mereka berani melakukan gebrakan walau sebesar zarah, dalam mewujudkan siswa-siswinya menjadi pandai dan mulia.Guru semacam ini muncul dalam setiap masa, tidak terbatas ruang dan waktu.

Terkisah cerita dari orang tua dahulu, tatkala mereka mengenang guru ahli hampir segala bidang ilmu. Menulis di batu, sabak dan grip (alat tulis zaman dulu). Merupakan solusi ketika kertas dan pena belum ada apalagi komputer dan laptop. Situasi covid-19 juga menyisakan kisah terkait  muncul guru yang mengolah transmisi radio di sekolah menjadi saluran belajar daring, ketika mereka menghadapi kendala siswa yang tidak memiliki smartphone.

Hadir sebagai sosok guru yang “cocok” untuk anak kota dengan segala akses fasilitas dan kemampuan serapan pengetahuan mareka. Kurang tepat rasanya membawa gaya mengajar ini kepada anak pedalaman desa dengan memaksakan mareka belajar seharian penuh. Layaknya les privat, padahal belum tentu minat belajar mereka lebih besar.

Terdapat kenyataan di antara mereka mungkin ada yang harus membantu orangtua pada sore hari demi bisa makan, fenomena ini akan menjadikan ketimpangan dalam proses pembelajaran demikian juga sebaliknya.

Tidak akan menjadi guru pah lawan ketika membawa gaya mengajar yang seharusnya cocok diterapkan kapada anak SD dengan “mendikte”. Penerapan gaya belajar semacam ini kepada anak SMP apalagi SMA, maka akan muncul pemberontakan dari siswa. 

Ahli psikologis menjelaskan bahwa anak usia SMP/SMA sudah mulai tidak mau untuk didikte, mereka akan lebih menerima untuk diajak diskusi dan diajarkan mengambil keputusan diantara beberapa pilihan. Gaya mendikte oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya yang masih kecil, untuk tidak menyekutukan Allah.  Sangatlah berbeda dengan yang dilakukan oleh Ibrahim kepada Ismail yang cenderung sudah remaja. 

Mengajak ismail berduskusi“bagaimana pendapatmu” ketika dia akan disembelih padahalj elas ini adalah titah dari Sang Pencipta.

Kerapkali kita memperhatikan beberapa “oknum” guru yang mengajar tidak memposisikan diri sebagai lawan yang pas (pah lawan) dengan siswanya. Mereka akan sangat berang ketika beberapa siswanya membuat keriuhan dan kegaduhan di dalam kelas. Alih-alih mengeluarkan kata-kata mulia dalam memberikan arahan dan mendoakan, malahan cenderung menganggap siswa mareka yang masih kecil seolah seumuran dengan mereka. 

Seorang guru pun, umumnya usia SD atau SMP dulu mungkin nakalnya melebihi siswanya sekarang. Kecenderungan psikologis nakal-pintar anak  didiknya dibandingkan dengan psikologis dirinya yang sudah cukup dewasa seperti sekarang.

Lebih lanjut menjadi guru pah lawan artinya menerima dengan lapang dada perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Dari pada menyoal efek mengerikan yang  akan terjadi kepada siswa ketika menggunakan smartphone. Rasanya lebih bijaksana tatkala membimbing mereka untuk memanfaatkan gawai dengan sebaik-baiknya, untuk belajar dan mengakses ilmu.

Tidak akan menjadi guru yang pah lawan jika tidak menerima keadaan ini. Studi menyebutkan jika anak akan terus bertambah rusak tatanan moral dan psikis mereka, akibat pengaruh buruk gadget di dalam genggaman.  Jika di luar sekolah mereka bebas mengakses situs berkonten negatif seperti pornografi dan judi online, maupun game yang sekarang paling digandrungi anak-anak. 

Sedangkan di dalam sekolah mereka dilarang untuk menggunakan smartphone bahkan untuk tujuan belajar, dengan alasan mereka akanter pengaruh oleh efek buruk alat ini. Maka sungguh memilukan.

Akhirnya, menjadi guru pah lawan ini akan berjalan seiring dengan cita-cita pendidikan milik kita semua. Konsep belajar yang selama ini dianggap terkungkung oleh dogma dan aturan yang sudah tidak relevan dengan zaman. 

Perlu pengorbanan dan mengajar dengan hati untuk pulihkan pendidikan. Akan tidak pah lawan jika guru masih enggan meng-upgrade dirinya untuk siap mengajar dalam berbagai sutuasi dan kondisi. Ikan hiu melayang-layang, i love you semua guru tersayang.

Share234SendTweet146Share
Muhammad Afnizal

Muhammad Afnizal

* Alumnus Sosiologi USK dan Magister Sosiologi USU, sekarang bertugas sebagai guru Sosiologi MAN 1 Aceh Timur

Next Post
Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan - 1fc2195e 9ade 4318 aa1f 00ce7fc6a171 | #Pendidikan | Potret Online

Dr Warsito dan Dua Dokter Bejat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com