Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Selama ini banyak sekali bahan cerita mengenai mahasiswa kita yang sedang kuliah, yang konon sedang menimba ilmu di Perguruan Tinggi. Ada cerita dan berita mengenai calon mahasiswa yang lulus diterima di PT lewat berbagai jalur, seperti jalur undangan yang sekarang dikenal dengan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNPB) yang baru saja diumumkan. Ada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) yakni jalur yang menggunakan Ujian Tulis Berbasis Komputer ( UTBK). Ada pula yang seleksi lewat jalur Mandiri, dengan biaya dan mekanisme seleksi berbeda-beda di tiap PTN.
Cerita masuk Perguruan Tinggi Negeri dan swasta yang tingkat kesulitan dan tarif biaya yang saling berbeda tersebut, banyak yang menyimpulkan bahwa tidak mudah masuk atau lulus ke PTN, apalagi PTN dan PTS kelas atas yang menjadi PTN favorit atau unggul. Semakin popular dan unggulnya PTN dan PTS, semakin sulit dan tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Maka, beruntunglah bagi mereka yang lulus lewat jalur SNBP, karena tidak menghadapi kesulitan tes seperti lewat jalur UTBK yang harus bertarung lewat ujian tulis berbasis komputer dengan harus bersaing ketat.
Memang secara faktual, bahwa masuk PTN dan PTS unggulan itu sulit dan mahal. Sehingga hanya lulusan SMA yang benar-benar memiliki kompetensi tinggi yang bisa diterima, namun di balik sulitnya menembus sukses menggapai atau mendapatkan kursi di PTN dan PTS unggul tersebut, banyak cerita lain yang menbuat kaum generasi baby boomers merasa galau dan khawatir menyaksikan realitas banyak mahasiswa yang saat ini sedang kuliah di Perguruan Tinggi saat ini.
Bukan hanya soal jalur masuk, banyak cerita lain yang sungguh menarik terkait dengan cara belajar atau budaya belajar mahasiswa di era digital ini. Cerita -cerita itu, berseliweran lewat pembicaraan- pembicaraan informal di warung kopi atau di luar kampus.
Tanpa beban
Beratnya perjuangan masuk perguruan tinggi, negeri dan swasta, apalagi yang disebut Universitas ternama atau universitas papan atas, harus diimbangi dengan usaha keras dan penuh tanggungjawab. Artinya, beban yang dipikul sangat berat. Namun, bagaimana dengan fenomena atau bahkan realitas kini dengan gaya mahasiswa yang kuliah tanpa beban?
Ya, berbicara soal mahasiswa kuliah tanpa beban, boleh dikatakan sebuah fenomena masa kini. Banyak yang berkata bahwa saat ini eranya mahasiswa kuliah tanpa ada beban yang diemban. Kuliah yang seharus mengemban amanah dan tanggung jawab belajar keras, pada kenyataannya banyak yang menjalankan kewajiban kuliah tanpa beban. Dikatakan tanpa beban, ya yang namanya kuliah seakan hanyalah aktivitas datang ke kampus, duduk di bangku kuliah, dengar apa yang disampaikan oleh dosen, diam dan tanda tangan absen, lalu pulang. Sementara makna hakiki kuliah yang berarti belajar dan belajar yang ditandai dengan berbagai aktivitas membaca, mengidentifikasi dan menganalisis masalah serta membuat justifikasi dan menemukan sejumlah tawaran solusi, tidak terjadi.
📚 Artikel Terkait
Seharusnya semasa kuliah harus banyak membaca, namun aktivitas membaca bukanlah hal yang diprioritaskan. Tidak ada beban membaca yang diemban, sehingga kemampuan literasi mahasiswa kini juga berada di titik nadir. Apa artinya kuliah kalau tidak membaca? Banyak pengetahuan yang mengalami distorsi di kalangan mahasiswa sekarang. Bila begini, Apakah salah bila yang difahami mereka bahwa kuliah hanya datang, duduk, dengar, diam dan pulang? Tentu tidak seharusnya itu terjadi.
Sayangnya “Gaya Mahasiswa Kini: Kuliah Tanpa Beban”, menjadi trend atau gaya belajar kebanyakan mahasiswa masa kini. Bukan hanya itu, di kalangan mahasiswa sekarang, banyak pula kita temukan budaya minta kisi-kisi soal, kepada dosen ketika mendekati masa ujian. Lebih celaka lagi, seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, mahasiswa tanpa segan dan enggan, tanpa rasa malu meminta nilai pada dosen. Bila dosen memberikan nilai C atau B, sang mahasiswa akan dengan mudah menghubungi dosen, minta diubah nilai dengan berbagai alasan.
Selain itu, ketika diberikan tugas, ada yang karena malas membaca, tugas-tugas itu dikerjakan dengan cara -cara instant. Tinggal mencomot-comot tulisan orang dan dijadikan tulisan penyelesaian tugas, sehingga ketika ditanya, yang mana kalimat anda dalam tulisan tersebut, mereka tidak bisa menunjukkannya. Oleh sebab itu, fenomena dan realitas ini tentu ibisa diartikan sebagai tren kuliah tanpa beban di kalangan mahasiswa sekarang. Oleh sebab itu, kondisi ini mengarah kepada gaya belajar yang lebih fleksibel dalam menjalani perkuliahan, tanpa tekanan berlebihan. Tanpa harus memikirkan banyak hal, seperti biaya dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Yang terjadi, mereka dalam kuliah cukup mencari keseimbangan antara akademik, kehidupan sosial, dan pengembangan diri, tanpa harus ditekan dengan berbagai beban dan tugas serta kesulitan. Mengapa demikian ?
Akan sangat banyak alasan atau deskripsi mengenai hal ini. Namun, bila kita gali lebih dalam ada banyak faktor yang berkontribusi munculnya trend mahasiswa kuliah tanpa beban ini. Faktor -faktor tersebut merupakan faktor yang mendukung terjadinya tren seperti itu. Misalnya, seiring dengan perkembangan zaman, semakin canggihnya alat dan media belajar di era digital ini, telah mempengaruhi sistem perkuliahan di Universitas atau kampus.
Konon, sudah semakin banyak kampus yang menerapkan sistem perkuliahan dengan hybrid, e-learning dengan cara dan jadwal yang lebih fleksibel, tanpa harus datang, duduk, dengar dan diam di ruang kelas. Dengan cara zoom, mahasiswa lebih bebas dan leluasa. Kondisi ini semakin menambah hilangnya beban yang harus diemban. Karena model pembelajaran yang fleksibel tersebut akan dijalankan oleh mahasiswa dengan santai, tanpa harus hadir langsung ke kelas
Dengan mengandalkan teknologi seperti video pembelajaran, podcast edukatif, dan diskusi daring untuk memahami materi menjadi cara yang lebih ringan. Kemungkinan lain adalah adanya mindset baru bahwa kuliah bukanlah segalanya. Karena banyaj mahasiswa yang lebih fokus pada model -model pembelajaran saat ini. Mereka lebih memilih fokus pada membangun networking di luar kampus. Kalau di Aceh, banyak yang menghabiskan waktu di warung kopi atau cafe-cafe, dengan menyiapkan perangkat teknologi seperti gadgets dan laptop.
Bisa jadi, sejalan dengan semakin kental dan mengkristalnya budaya instant yang serba memudahkan saat ini, membuat mahasiswa lebih memilih metode belajar yang tidak terlalu membebani diri.
Faktor lain yang juga mendorong mengkristalnya gaya mahasiswa tanpa beban disebabkan oleh cara-cara mereka yang mungkin membangun komunitas dan kolaborasi, belajar kelompok dan komunitas belajar, sehingga mahasiswa tidak merasa sendiri dalam menghadapi tugas dan ujian.
Nah, apa pun alasannya, walau kuliah tanpa beban menjadi pilihan kebanyakan mahasiswa sekarang dan model ini dinyatakan menarik, tetap penting untuk menjaga keseimbangan agar tetap bertanggung jawab terhadap akademik. Apalagi kalau mahasiswa tidak atau kurang membaca, mereka akan terperosok ke jurang titik nadir literasi yang membuat mereka kuliah hanya mengejar angka, mengejar cepat selesai demi selembar ijazah yang belum tentu dapat membantu mereka menyelesaikan persoalan hidup atau dalam membangun masa depan yang lebih baik dan ideal.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






