Dengarkan Artikel
Oleh Teuku Abdullah Sakti
DEWASA ini, ratusan mantan mahasiswa Aceh yang menyelesaikan studi di Yogyakarta telah memegang posisi penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka sudah menjadi orang ternama, baik di Provinsi Aceh, di daerah-daerah lain, di tingkat nasional; bahkan di luar negeri. Sewaktu kuliah mereka tinggal di Asrama Meurapi Dua, Taman Pelajar Aceh(TPA), Yogyakarta.
Banyak sumber menyebutkan, bahwa diantaranya yang bernasib baik, ada yang pernah menjadi gubernur, bupati, anggota DPR tingkat pusat dan daerah, pedagang sukses, rektor universitas/institut, guru besar, dosen, serta berbagai profesi lainnya.
Keberhasilan studi manusia Aceh(orang Aceh) itu; tidak terlepas dari peranan dua orang perempuan asal desa Pakem, Kaliurang, Yogyakarta. Kedua perempuan itu; sang kakak bernama panggilan Yuk Harjo, sedang adiknya dipanggil Yuk Mar.
Yuk Harjo, sudah 50 tahun lebih mengabdikan diri untuk para mahasiswa Aceh yang studi di berbagai perguruan tinggi di sana. Kedua wanita itu berperan sebagai pembantu asrama pada salah satu asrama mahasiswa Aceh, yaitu Asrama Meurapi Dua (Jln. Sunaryo No. 2, Kotabaru, Yogyakarta).
Mengapa penulis menganggap mereka “mengabdikan diri?. Padahal selaku pembantu asrama; keduanya dibayar gaji setiap bulan?. Jawabannya akan terungkap sepanjang uraian tulisan ini.
Kesan Unik
Faktor apakah yang menyebabkan pembantu itu betah bertahan sampai 50 tahun lebih?. Padahal tugas-tugasnya cukup padat dan berat. Sebagai pembantu yang mengurus makan-minum sekitar 20 orang mahasiswa. Selain memasak masih banyak macam kerja lainnya.
Apalagi soal makan, karena tak sesuai selera dengan masakan Aceh yang pedas, kedua kakak-beradik itu harus memasak pula ,masakan Yogya yang manis bagi mereka berdua.
Yuk Mar yang tidak menetap di asrama, kadang-kadang membawa lauk masakannya kepada kakaknya Yuk Harjo yang tinggal menetap di asrama. Yuk Mar pada pagi dan sore hari diantar jemput oleh keluarganya ke asrama Meurapi Dua.
Salah seorang pengantar jemputnya adalah anak laki-lakinya sendiri yang bertugas sebagai dosen tetap Fakultas Teknik Jurusan Nuklir Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Seandainya sebab gaji di asrama Aceh itu mungkin lebih tinggi, pasti bukan; karena gaji pembantu di tempat lain bahkan lebih besar. Mau dijadikan alasan bahwa kebetahan itu lantaran terpaksa, sebab sulit memperoleh kerja ditempat lain.
Alasan demikian juga tidak tepat, karena pekerjaan menjadi pembantu rumah tangga ataupun pembantu asrama; selalu terbuka, apalagi bagi orang-orang yang sudah sangat terampil dalam profesi sebagai pembantu, seperti pengalaman kerja yang dimiliki kedua orang itu, yakni berpengalaman kerja puluhan tahun.
Pergaulan kakak-adik
Sungguh menakjubkan!. Ternyata dalam pandangan para mahasiswa Aceh; kedua perempuan kakak-adik itu tidaklah dianggap sebagai “ pembantu resmi “ seperti pandangan umum yang sudah lazim mentradisi.
Dalam pergaulan setiap hari, para mahasiswa Aceh bersikap terhadap pembantu mereka bagaikan pergaulan diantara anggota keluarga sendiri layaknya.
Sebutan atau panggilan pun tidak digunakan istilah bik ( bibik, bila diserukan menjadi : Biiikkk –yang umum dipakai terhadap para pembantu di tempat lain). Panggilan Biiikkk!, langsung memberi kesan makna sebagai pembantu atau babu.
📚 Artikel Terkait
Sebaliknya, panggilan yang berdengung, menyejukkan jantung!. Para penghuni asrama selalu memanggilnya dengan gelaran: “Yuk’ (Yuuuukkkk!) yang berasal dari kata mbak Yu; yang berarti kakak.
Jadi, panggilan Yuuukk! (mbak Yu = kakak) bukanlah sekadar basa-basi, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kegiatan hidup sehari-hari.
Suara bernada membentak, mengancam, bermuka sinis atau masam; sama sekali tidak pernah diarahkan kepada kedua mBakyu oleh adik-adik asuhannya.
Kedua belah pihak berbaur akrab dan saling menghargai seperti dalam sebuah keluarga bahagia. Inilah faktor utama yang menyebabkan mereka betah bekerja di Asrama Merapi Dua puluhan tahun.
Perlakuan manusiawi
Menurut analisa psikologis, terjalinnya hubungan akrab antara manusia yang berbeda status bisa disebabkan beberapa faktor. Diantara sebab-sebab utama adalah faktor perlakuan yang manusiawi dan saling menghargai. Itulah yang merupakan sebab dominan terjalinnya ikatan batin antara kedua belah pihak.
Berdasarkan pengalaman penulis yang bertahun-tahun tinggal di komplek kamar kost-sewaan-sebelum tinggal di Asrama Aceh Meurapi Dua tersebut, bahwa mencari pembantu yang bisa tetap bertahan bekerja selama setahun penuh saja, sangatlah sukar mendapatkannya.
Penulis bersama teman-teman, secara patungan menggaji pembantu. Biasanya, dalam tempo setahun saja terpaksa dua sampai tiga kali harus mencari pembantu baru sebagai pengganti pembantu lama yang sudah minta berhenti, atau telah minggat/perg tanpa permisi alias melarikan diri.
Bila pengalaman penulis tersebut di atas dibandingkan dengan kemampuan para mahasiswa Aceh yang sanggup mengikat atau membetahkan pembantu asrama sampai 50 tahun lebih-tanpa pernah terputus; tentu hal itu suatu prestasi besar.
Adakah para mahasiswa Aceh menggunakan ‘jampi-jampi pengasih’, sehingga cukup berhasil dalam pergaulan antar insan itu?. Tidak, sama sekali tidak. Hanya perlakuan manusiawilah yang dominan sebagai modal utama keberhasilan pergaulan itu.
Para penghuni asrama Aceh Meurapi Dua, tentu telah mewarisi sikap toleransi terhadap pembantu asrama, seperti telah dipraktikkan para mahasiswa pendahulu mereka. Pewarisan nilai manusiawilah masih melengket kental dan terpantul
Sampai saat penulis berpisah dengan mereka di ujung tahun 1988. Saat penulis pulang ke Aceh, mereka telah bekerja 44 tahun.
Menurut informasi dari teman-teman yang tengah melanjutkan studi Pascasarjana di Yogyakarta: sikap toleran terhadap pembantu di Asrama Meurapi Dua masih tetap bertahan.
Bercerminkan kasus perilaku para mahasiswa asal daerah Aceh di Yogyakarta, terbantahlah ” anggapan jahil “ yang kadangkala muncul kepermukaan, yaitu anggapan keliru yang memvonis orang Aceh sebagai pribadi-pribadi beringas, kejam dan kurang manusiawi serta sejumlah perilaku negatif lainnya.
“Tuduhan” demikian, sebenarnya bersumber kejahilan pihak pelempar tuduhan yang belum mengenal Aceh secara memadai. Kepincangan ini, terutama disebabkan oleh sukarnya mendapatkan informasi ( khususnya tempo dulu) mengenai daerah Aceh di luar daerah Aceh, baik yang berupa buku-buku, dalam majalah-majalah, surat-surat kabar, bahkan juga sulit diperoleh informasi melalui RRI dan TVRI Pusat Jakarta saat itu.
Kembali ke pokok pembahasan. Sungguh, perlakuan oleh mahasiswa Aceh memang luar biasa, kesan ini bukan sekedar pujian murahan, tapi benar-benar suatu kenyataan. Mahasiswa Aceh “menservis” pembantu asrama dengan perlakuan yang manusiawi dan saling menghargai.
Di samping itu, yang tidak kurang penting pula adalah ‘pendekatan’ lain yang juga dipraktekkan penghuni asrama mahasiswa Aceh Meurapi Dua Yogyakarta, yang boleh menjadi menyebabkan kedua pembantu asrama betah-bertahan sampai berpuluh-puluh tahun.
Di antara cara pendekatan yang sudah jadi tradisi di asrama Meurapi Dua itu, seperti memberi hadiah kepada pembantu asrama ketika kenduri hari ulang tahun asrama, yang biasanya diserahkan oleh salah seorang mantan penghuni asrama yang dianggap “paling beken” diantara para hadirin pada saat itu.
Pada Ulang Tahun Asrama “Meurapi Dua” ke 39, saya sendiri sempat menyaksikan pemberian hadiah itu, yang diserahkan oleh MA Gani,MA seorang Tokoh Aceh dan mantan anggota DPR RI Pusat.
Selain itu, kadang-kadang pula diberi hadiah Lebaran dan foto bersama” pembantu asrama” dengan setiap penghuni yang baru saja diwisuda sarjana. Itulah gambaran indah pergaulan orang Aceh dengan orang lain. Sungguh manusiawi!.
T.A. Sakti
Mantan penghuni asrama mahasiswa Aceh “Meurapi DuWa”, Yogyakarta,
yang mondok selama 14 bulan melaporkan dari Banda Aceh.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






