Dengarkan Artikel
Oleh : Teuku Masrizar
Dalam budaya Aceh, istri disebut Peurumoh (Peu = pho dan rumoh) secara sederhana dapat diartikan Pemilik Rumah. Maka perempuan begitu penting peranannya dalam keluarga.
Sebagai pemilik rumah, seorang ibu mengatur dan mengelola rumah serta isinya dengan baik. Suami penanggung jawab keluarga statusnya boleh jadi menumpang dalam rumah, dalam konteks pengelolaan. Oleh karenanya suami tidak boleh berbuat sesuka hati, tidak rapi, kotor dan semena-mena dalam rumah
Mengatur dan mengelola rumah dengan semua isinya tidak mudah. Keteraturan akan kelihatan bila warga rumahnya sadar dengan posisi dan tugasnya masing-masing. Hal kecil misalnya, bangun tidur dan handuk di atas ranjang menjadi pandangan menyebalkan bagi istri. Ragam cara seorang istri mengubah prilaku suami, namun tetap saja tidak berubah, pun banyak kelakukan lainnya membuat istri kesal dan marah.
Biasa perempuan jelang hari raya dihadapkan dengan berbagai kesibukan persiapan lebaran. Mempersiapkan pakaian hari raya, baju, sepatu, perlengkapan shalat. Demikian juga Rumah juga perlu sentuhan, dibereskan horden dicuci atau ganti baru. Warna rumah kalaupun tidak semua, tapi bagian tertentu harus baru. Sampai dengan persiapan-persiapan aneka ragam kue dan penganan menyambut tamu.
Biasanya dalam tradisi di masyarakat Aceh penganan seperti lemang, ketupat, tape dan jenis lainnya telah disiapkan saat meugang jelang lebaran. Begitulah kebiasaan dan kesibukan poerumoh jelang hari raya.
📚 Artikel Terkait
Semua yang dipersiapkan pada gilirannya pasti ada tersisa dan jadi sampah. Karena ada yang basi akibat lama tidak dimakan. Tempat dan wadah yang digunakan variasi ada dari bahan alami dan ada juga plastik sekali pakai, akhirnya jadi sampah. Cukup banyak sampah yang dihasilkan dari rumah tangga.
Dengan kondisi semua rumah tangga seperti ini, maka dipastikan hari raya meningkat produksi timbulan sampah. Bayangkan saja bila setiap orang memproduksi 1 kg/hari sampah, tentu cukup besar timbulan sampah yang dihasilkan.
Prilaku ramah lingkungan harus dimulai dari rumah tangga. Setiap rumah tangga adalah produsen sampah. Memulainya tentu dengan meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai, tidak menggunakan stryofoam, dan bahan lainnya yang jadi sampah. Tetapi menggunakan bahan dan peralatan yang dapat digunakan berulang.
Selanjutnya sejak dari rumah tangga Peurumoh telah memulai melakukan pemilahan, sampah yang dihasilkan dipilah sedemikian rupa sehingga sampah organik dan non organik berada dalam wadahnya masing-masing. Bila belum dilakukan pengolahan, kedua sampah ini dapat dibawa ke bank sampah yang ada disekitar lingkungan tempat tinggal.
Saat liburan untuk jalan-jalan, rekresi ke pantai dan tempat wisata ataupun berkunjung dan bersilaturrahmi ke tempat keluarga, sebaiknya dihindari penggunaan plastik, gunakan peratan makan minum yang dapat digunakan kembali, seperti piring, tumbler dan sebagainya. Karena kebiasaan kita sering lupa takkala menggunakan plastik, maka akan tinggal di tempat yang dikunjungi sehingga nyampah.
Peurumoh sebagai tokoh sentral pengendali produksi sampah dalam sebuah rumah tangga. Memiliki peran penting meningkat atau tidaknya timbulan sampah. Kearifan dalam pengelolaan rumah tangga termasuk mengendali produksi sampah sangat diharapkan dari seorang Peurumoh. Karena dialah pemilik autority eksekutor pengelolaan dalam rumah tangga. Selamat Idul Fitri 1446 H. buat semua Pemilik Rumah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






