Dengarkan Artikel
Oleh Didin Tulus
Sabariah Bahari adalah nama yang bersinar dalam dunia sastra Melayu. Sebagai seorang penyair, cerpenis, dan penulis rencana, Sabariah menorehkan jejak mendalam melalui karyanya yang penuh makna dan estetika. Ia tidak hanya dikenal sebagai pengarang berbakat, tetapi juga sebagai pecinta buku yang sejati. Membaca Sabariah Bahari berarti menyelami kekayaan emosi, kebijaksanaan, dan kekuatan bahasa yang ia suguhkan dalam karya-karyanya.
Awal Perjalanan Literasi: Sebuah Fondasi yang Kokoh
Kecintaan Sabariah terhadap dunia sastra dimulai sejak usia dini. Pada usia delapan tahun, ia telah mengkhatamkan berbagai novel klasik, seperti ‘Merantau ke Deli’ dan ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ karya Hamka, serta ‘Siti Nurbaya’ oleh Marah Roesli. Bacaan-bacaan ini bukan hanya mengisi masa kecilnya, tetapi juga membentuk pemahamannya tentang kompleksitas kehidupan dan keindahan narasi. Novel-novel seperti ‘Salina’ oleh A. Samad Said dan ‘Salah Asuhan’ karya Abdoel Moeis memperkaya wawasan dan sensibilitasnya terhadap realitas sosial dan budaya.
Tidak hanya terbatas pada karya-karya Indonesia, Sabariah juga terpapar pada ragam literatur Melayu klasik dan modern. Karya-karya ini menjadi batu loncatan baginya untuk memahami dinamika manusia, sehingga kelak terlihat dalam tulisan-tulisannya yang mendalam.
Pecinta Buku yang Tak Pernah Puas
Hidup Sabariah tidak dapat dipisahkan dari buku. Setiap kali ia pergi ke pusat perbelanjaan, kedai buku selalu menjadi tujuannya. Baginya, berada di antara rak-rak buku adalah sebuah kebahagiaan. Kecintaan ini juga tercermin dari kebiasaannya membawa pulang koper penuh buku setelah perjalanan ke berbagai negara, termasuk Indonesia, Singapura, Eropa, dan Timur Tengah.
Saat mengunjungi sebuah kedai buku, hatinya berbunga seperti menemukan surga kecil. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memperdalam cintanya pada dunia literasi. Buku menjadi teman setia yang mengiringi langkah Sabariah dalam setiap perjalanan hidupnya.
Karier sebagai Pengarang
📚 Artikel Terkait
Sabariah Bahari memulai karier kepengarangannya dengan beragam kontribusi di berbagai media. Karya-karyanya hadir dalam majalah dan koran seperti ‘Dewan Sastera’, ‘Mingguan Malaysia’, dan ‘Berita Minggu’. Ia tidak membatasi dirinya pada satu genre saja, tetapi merambah ke puisi, cerpen, dan artikel rencana.
Keberhasilannya di dunia sastra diakui secara luas. Pada tahun 1996, ia memenangkan Hadiah Utama dalam genre puisi pada ajang Hadiah Sastera Utusan Melayu-Public Bank. Tahun berikutnya, ia kembali meraih penghargaan untuk genre puisi pada ajang yang sama. Karya-karya Sabariah juga kerap dimuat dalam antologi bersama, seperti ‘Wacana Hitam Putih’, ‘Api KL Belum Terpadam’, dan ‘Sumpah Setia Bangsa’. Dengan kontribusi yang luas ini, ia turut memperkaya dunia sastra Melayu dengan suara dan perspektifnya.
Puisi sebagai Ekspresi Jiwa
Puisi Sabariah Bahari memiliki kekuatan untuk menyentuh hati pembaca. Salah satu puisi terkenalnya, ‘Bacalah Dalam Bahasamu’, dimasukkan dalam teks modern Kesusasteraan Melayu KBSM untuk pelajar Tingkatan 4 dan 5. Hal ini menunjukkan pengakuan atas kualitas dan relevansi karyanya di dunia pendidikan. Puisi-puisinya tidak hanya menjadi bahan renungan, tetapi juga alat untuk memperkenalkan siswa pada keindahan bahasa Melayu.
Melalui puisi, Sabariah menyampaikan berbagai tema, mulai dari cinta, kemanusiaan, hingga isu-isu sosial. Ia memanfaatkan keindahan bahasa sebagai alat untuk mengangkat nilai-nilai universal yang relevan di setiap zaman.
Cerpen dan Kisah dalam Antologi
Selain puisi, Sabariah juga dikenal sebagai cerpenis. Cerpen-cerpennya termuat dalam antologi bersama seperti ‘Talian Kasih’ dan ‘Riak Kabus Danau Meninjau’. Dalam cerpen-cerpen ini, ia menghadirkan karakter yang hidup dan narasi yang menggugah. Sabariah mampu meramu cerita-cerita sederhana menjadi refleksi yang mendalam tentang kehidupan manusia.
Warisan Sastra yang Menginspirasi
Sabariah Bahari bukan hanya seorang penulis, tetapi juga seorang inspirator. Karya-karyanya menjadi saksi kecintaan dan dedikasinya terhadap dunia sastra. Melalui puisi, cerpen, dan tulisan-tulisannya, ia meninggalkan jejak yang tidak akan pernah pudar dalam sejarah sastra Melayu. Sabariah membuktikan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang, menyentuh hati, dan menginspirasi generasi berikutnya.
Membaca Sabariah Bahari adalah membaca kehidupan dalam berbagai dimensinya. Karyanya adalah cerminan dari kecintaan terhadap budaya, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dengan itu, Sabariah tidak hanya menjadi seorang penulis, tetapi juga seorang penjaga dan pengembang tradisi sastra Melayu yang kaya.
***
Didin Tulus
Lahir di Bandung berjuluk Paris Van Java, kota kecil di Jawa Barat. Tidak ada yang istimewa dalam perjalanan menulis, selain memberi kepuasan batin yang tiada tergantikan oleh apapun. Tulisan berupa artikel memoar pendek dimuat diberbagai media onlen seperti. #Penyunting, editor dari beberapa buku sudah 150 judul buku yang ditangani. Buku sunttingan terbaru: WARISAN KEMALA – pemikiran sastrawan negara Malaysia (kmp esai), Puncak Puncak Budaya (esai Sunda), Panganteur Kana Papatet Hirup (esai Sunda).
Kini sedang bergiat literasi di kota Cimahi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






