POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Catatan Perjalanan Jalan-jalan

Surabaya Lombok

Redaksi by Redaksi
Maret 30, 2025
in Jalan-jalan
0


Oleh: Dahlan Iskan

Minggu 30-03-2025

(Dahlan Iskan dan keluarga mendapatkan penjelasan soal fasilitas-fasilitas di kapal ferry Dharma Lautan Utama.-Dharma Lautan Utama)

Baca Juga
  • Surabaya Lombok - ca7c39f0 08e0 40fa 86ce cbce73f8f0e6 | Jalan-jalan | Potret Online
    #Petaka
    Nias 2005: Mengukir Sejarah, Menyelamatkan Arsip
    26 Mar 2025
  • Surabaya Lombok - fd8981b5 8b25 47d0 9cf8 38d841597b90 | Jalan-jalan | Potret Online
    Aceh
    Badut Kecil di Sudut Kota,Sebuah Potret Kehidupan Anak yang Terabaikan
    17 Des 2024

LAUTKU tenang, Alhamdulillah.

Kapalku besar, Alhamdulillah.

Baca Juga
  • 01
    Jalan-jalan
    Walikota Malang Doyan Kopi Aceh
    20 Jul 2017
  • Surabaya Lombok - 9C4ACDC5 F92C 475B B9C5 9375CB84AA9E | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    GTK Antusias Donorkan Darah di Cabdindik Aceh Selatan
    20 Sep 2022

Tak seayunpun gelombang sepanjang malam, Alhamdulillah.

Tidurku nyenyak, Alhamdulillah.

Baca Juga
  • Surabaya Lombok - 1000525727_11zon | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    Saksi Bisu
    23 Apr 2025
  • 02
    Jalan-jalan
    Pengentasan Permukiman Kumuh Melalui Program KOTAKU
    21 Okt 2016

Kalau pun ada kekurangan di perjalanan laut Surabaya-Lombok ini hanya satu. Kekurangan kecil: lauk untuk berbuka puasa ketinggalan.

Saat menuju pelabuhan Tanjung Perak, kami memang berhenti di Jalan Perak Barat. Ada warung Padang rasa Aceh di pinggir jalan. Dua jam lagi saatnya berbuka puasa: hari ke-28. Sepanjang Ramadan belum pernah merasakan nasi Padang.

Istri masuk warung itu: minta dibungkuskan nasi, rendang, kikil, sayur nangka daun ketela, ayam goreng. Kami pun naik ke kapal: besar sekali –untuk ukuran kapal ferry. Panjangnya 160 meter.

“Siapkan mental naik tangga kapal,” kata saya kepada istri. Kuatkan lutut. Dia pun minta digandeng.

Ternyata ada lift di kapal ini. Dua lift. Gandengan tangan pun dilepas. Naik lift. Kami turun di lantai empat. Di situlah kamar kami. Sebagian penumpang turun di lantai tiga.

Tas kresek nasi Padang-Aceh ditaruh di meja dekat sofa. Saya pun mencoba membantingkan badan di ranjang. Enak. Anak-menantu di kamar lain. Enam cucu di kamar yang berbeda lagi.

(Kamar penumpang di kapal ferry Dharma Lautan Utama)

Pemilik kapal masuk kamar: Satrio WCS. Anak muda. Ia cucu pendiri PT Dharma Lautan Utama. Lulusan Seattle. Pernah ikut tinggal di rumah John Mohn di Kansas. Bapaknya teman olahraga sepeda anak saya.

Masih ada waktu 1,5 jam sebelum berbuka puasa. Ia mengajak kami tour de ferry. Naik turun ke semua lantai: ke restoran. Ke ruang karaoke. Ke masjid. Ke jogging track.

Melihat jogging track yang atraktif itu saya berpikir: di sinilah saya, besok pagi, akan senam-dansa satu jam. Saya sudah membawa speaker mini untuk memutar lagu-lagunya.

Menjelang saatnya azan magrib kami kembali ke kamar masing-masing. Pihak kapal menyediakan makanan lengkap: takjil, berbagai minuman, makanan utama, buah, dan snack.

Tapi kami ingat bungkusan nasi Padang rasa Aceh tadi. Kami buka tas kresek warna putih. Kami buka nasi gulung dibungkus kertas putih. Kami cari rendangnya. Tidak ketemu. Istri bakikih mencari kikil. Juga tidak ketemu. Yang ada hanya bumbu rendang. Dan ayam goreng.

Saya mau rendang! Bukan hanya bumbunya!

Istri mau kikil!

Apa boleh buat, saya hanya makan nasi dan bumbu rendang. Istri makan sayur nangka. Rupanya istri tadi minta tambahan bumbu rendang. Bumbunya ada, rendangnya tidak.

Untung ada lauk terbaik: lapar. Malamnya saya tidak ikut ke karaoke. Saya harus menulis. Lalu pulas. Tidak sedikit pun ada goyangan malam itu.

Sebelum tiba saatnya bersahur saya sudah terbangun. Masih pukul 01.15. Istri masih pulas. Saya coba keluar kamar. Laut di sisi kiri gelap. Laut di sisi kanan juga gulita. Angin kencang. Tidak ada kehidupan.

Saya balik ke kamar. Membaca. Apa saja.

Saya ingin tahu Inul akan Lebaran di mana?

Apakah APBN baik-baik saja?

Danantara sudah sampai di mana?

Sudah berapa ratus perusahaan yang tiba-tiba kehilangan perkebunan sawit mereka?

Setelah dua jam membaca bel berbunyi. Makanan untuk sahur tiba. Saya bangunkan istri. Inilah sahur pertama di atas kapal.

Usai sahur istri mengambil Alquran. Dia harus mengejar target: sebelum hari ke 29 bacaannyi sudah harus sampai juz 29. Sehari satu juz.

Saya turun satu lantai. Ke masjid. Ternyata antrean berwudunya panjang. Di sektor laki-laki maupun perempuan.

Pun di dalam masjid. Sudah penuh. Saya minta penumpang berkopiah haji untuk jadi imam. Ia menolak keras. Justru minta ke saya untuk jadi imam. Saya menolak –khawatir masih belum sembuh dari murtad. Saling tolak. Harus ada yang mengalah.

Saya mengalah. Salat subuh ini harus dua atau tiga sesi. Maka saya baca surah terpendek: Kulhu. Sebelum itu: Al Asr.

Benar saja. Seluruh jamaah harus bergegas keluar. Lebih banyak lagi yang ingin masuk. “Seperti di gereja saja,” celetuk saya mencoba bercanda, “ada kebaktian kedua”.

Ternyata ada jamaah yang marah dengan candaan itu. “Jangan samakan masjid dengan gereja..,” sergahnya dalam nada tinggi. Ia masih terus nerocos. Saya pilih berlalu.

Ternyata saya belum sembuh dari murtad. (Dahlan Iskan)

Previous Post

Fenomena Tangisan di Akhir Ramadan

Next Post

Celebrating Unity and Tradition: Eid al-Fitr in Malaysia

Next Post
Surabaya Lombok - IMG_3763 | Jalan-jalan | Potret Online

Celebrating Unity and Tradition: Eid al-Fitr in Malaysia

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah