POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Catatan Perjalanan Jalan-jalan

Surabaya Lombok

Redaksi by Redaksi
Maret 30, 2025
in Jalan-jalan
0


Oleh: Dahlan Iskan

Minggu 30-03-2025

(Dahlan Iskan dan keluarga mendapatkan penjelasan soal fasilitas-fasilitas di kapal ferry Dharma Lautan Utama.-Dharma Lautan Utama)

Baca Juga
  • Surabaya Lombok - IMG_3724 | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    SELAMATKAN BUMI SELAMATKAN EKONOMI
    27 Apr 2025
  • Surabaya Lombok - 6ec29b54 ab62 4329 8c91 f08c97cfcf38 | Jalan-jalan | Potret Online
    Artikel
    Prospek Usaha Melalui PRK Bulog yang Murah Meriah Beresiko Rendah
    29 Nov 2024

LAUTKU tenang, Alhamdulillah.

Kapalku besar, Alhamdulillah.

Baca Juga
  • 01
    Jalan-jalan
    🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    03 Apr 2025
  • Surabaya Lombok - 8c04e084 490d 480e 9bc1 4dfb50d0f202 | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    Hanya Avatar
    22 Des 2024

Tak seayunpun gelombang sepanjang malam, Alhamdulillah.

Tidurku nyenyak, Alhamdulillah.

Baca Juga
  • Surabaya Lombok - A wide and long river divided by a dam next to a city center | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    Sungai Yang Meminta Kedatangan
    20 Feb 2025
  • 02
    Jalan-jalan
    Kuliner Khas Aceh Terpopular dan Lezat
    11 Nov 2022

Kalau pun ada kekurangan di perjalanan laut Surabaya-Lombok ini hanya satu. Kekurangan kecil: lauk untuk berbuka puasa ketinggalan.

Saat menuju pelabuhan Tanjung Perak, kami memang berhenti di Jalan Perak Barat. Ada warung Padang rasa Aceh di pinggir jalan. Dua jam lagi saatnya berbuka puasa: hari ke-28. Sepanjang Ramadan belum pernah merasakan nasi Padang.

Istri masuk warung itu: minta dibungkuskan nasi, rendang, kikil, sayur nangka daun ketela, ayam goreng. Kami pun naik ke kapal: besar sekali –untuk ukuran kapal ferry. Panjangnya 160 meter.

“Siapkan mental naik tangga kapal,” kata saya kepada istri. Kuatkan lutut. Dia pun minta digandeng.

Ternyata ada lift di kapal ini. Dua lift. Gandengan tangan pun dilepas. Naik lift. Kami turun di lantai empat. Di situlah kamar kami. Sebagian penumpang turun di lantai tiga.

Tas kresek nasi Padang-Aceh ditaruh di meja dekat sofa. Saya pun mencoba membantingkan badan di ranjang. Enak. Anak-menantu di kamar lain. Enam cucu di kamar yang berbeda lagi.

(Kamar penumpang di kapal ferry Dharma Lautan Utama)

Pemilik kapal masuk kamar: Satrio WCS. Anak muda. Ia cucu pendiri PT Dharma Lautan Utama. Lulusan Seattle. Pernah ikut tinggal di rumah John Mohn di Kansas. Bapaknya teman olahraga sepeda anak saya.

Masih ada waktu 1,5 jam sebelum berbuka puasa. Ia mengajak kami tour de ferry. Naik turun ke semua lantai: ke restoran. Ke ruang karaoke. Ke masjid. Ke jogging track.

Melihat jogging track yang atraktif itu saya berpikir: di sinilah saya, besok pagi, akan senam-dansa satu jam. Saya sudah membawa speaker mini untuk memutar lagu-lagunya.

Menjelang saatnya azan magrib kami kembali ke kamar masing-masing. Pihak kapal menyediakan makanan lengkap: takjil, berbagai minuman, makanan utama, buah, dan snack.

Tapi kami ingat bungkusan nasi Padang rasa Aceh tadi. Kami buka tas kresek warna putih. Kami buka nasi gulung dibungkus kertas putih. Kami cari rendangnya. Tidak ketemu. Istri bakikih mencari kikil. Juga tidak ketemu. Yang ada hanya bumbu rendang. Dan ayam goreng.

Saya mau rendang! Bukan hanya bumbunya!

Istri mau kikil!

Apa boleh buat, saya hanya makan nasi dan bumbu rendang. Istri makan sayur nangka. Rupanya istri tadi minta tambahan bumbu rendang. Bumbunya ada, rendangnya tidak.

Untung ada lauk terbaik: lapar. Malamnya saya tidak ikut ke karaoke. Saya harus menulis. Lalu pulas. Tidak sedikit pun ada goyangan malam itu.

Sebelum tiba saatnya bersahur saya sudah terbangun. Masih pukul 01.15. Istri masih pulas. Saya coba keluar kamar. Laut di sisi kiri gelap. Laut di sisi kanan juga gulita. Angin kencang. Tidak ada kehidupan.

Saya balik ke kamar. Membaca. Apa saja.

Saya ingin tahu Inul akan Lebaran di mana?

Apakah APBN baik-baik saja?

Danantara sudah sampai di mana?

Sudah berapa ratus perusahaan yang tiba-tiba kehilangan perkebunan sawit mereka?

Setelah dua jam membaca bel berbunyi. Makanan untuk sahur tiba. Saya bangunkan istri. Inilah sahur pertama di atas kapal.

Usai sahur istri mengambil Alquran. Dia harus mengejar target: sebelum hari ke 29 bacaannyi sudah harus sampai juz 29. Sehari satu juz.

Saya turun satu lantai. Ke masjid. Ternyata antrean berwudunya panjang. Di sektor laki-laki maupun perempuan.

Pun di dalam masjid. Sudah penuh. Saya minta penumpang berkopiah haji untuk jadi imam. Ia menolak keras. Justru minta ke saya untuk jadi imam. Saya menolak –khawatir masih belum sembuh dari murtad. Saling tolak. Harus ada yang mengalah.

Saya mengalah. Salat subuh ini harus dua atau tiga sesi. Maka saya baca surah terpendek: Kulhu. Sebelum itu: Al Asr.

Benar saja. Seluruh jamaah harus bergegas keluar. Lebih banyak lagi yang ingin masuk. “Seperti di gereja saja,” celetuk saya mencoba bercanda, “ada kebaktian kedua”.

Ternyata ada jamaah yang marah dengan candaan itu. “Jangan samakan masjid dengan gereja..,” sergahnya dalam nada tinggi. Ia masih terus nerocos. Saya pilih berlalu.

Ternyata saya belum sembuh dari murtad. (Dahlan Iskan)

Previous Post

Fenomena Tangisan di Akhir Ramadan

Next Post

Celebrating Unity and Tradition: Eid al-Fitr in Malaysia

Next Post
Surabaya Lombok - IMG_3763 | Jalan-jalan | Potret Online

Celebrating Unity and Tradition: Eid al-Fitr in Malaysia

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah