Dengarkan Artikel
Oleh Malika D. Ana
Fenomena banyaknya tokoh publik yang “jatuh” karena isu perempuan, khususnya skandal pribadi seperti perselingkuhan atau tuduhan hubungan di luar nikah, memang kerap terlihat mengemuka. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga global. Ada beberapa alasan kenapa ini menjadi pola yang berulang.
Sisi Humanis yang Rentan – Tokoh publik, entah politisi, pejabat, atau selebriti, tetaplah manusia biasa dengan kelemahan personal. Urusan asmara atau seksualitas sering menjadi titik terlemah karena melibatkan emosi, impuls, dan privasi yang sulit dikontrol ketat. Ketika diketahui publik, dampaknya sangat besar karena kontradiktif dengan image publik yang biasanya mereka jaga. Misalnya, sosok “bermoral”, agamis, pria yang meratukan pasangannya, romantis, atau berkeluarga bahagia. Image yang selama ini mereka bangun ke publik seperti itu.
Senjata Yang Efektif untuk menyerang lawan – Skandal dengan perempuan itu gampang dipakai buat menyerang lawan politik. Malah efektif untuk menjatuhkan lawan politik. Kenapa? Karena ini langsung menyentuh moralitas, yang di masyarakat Indonesia masih menjadi ukuran besar buat menilai seseorang, khususnya tokoh publik. Kasus RK, misalnya, bisa menjadi amunisi buat musuh politiknya, entah bener atau sekedar dibesar-besarkan, sangat bisa menodai reputasinya sebagai figur bersih yang memaksa RK mengakhiri karir politiknya, nyumput, bahkan menarik diri dari sorotan publik. Sama seperti kasus Bill Clinton-Monica Lewinsky di AS, atau Silvio Berlusconi di Italia, isu perempuan sering digunakan sebagai cara cepat untuk menghancurkan kredibilitas tokoh publik.
Ada Sensasi Media dan Publik – Media dan publik doyan banget sama cerita-cerita begini. Suka dengan gosip-gosip. Skandal politik yang kering soal angka atau kebijakan nggak begitu laku dijual, nggak seseksi dan se-“juicy” dibanding drama pribadi. Kasus “lendir RK” atau tuduhan serupa ke tokoh lain cepet sekali memviral karena orang menyukai spekulasi, gosip, dan moral judgement. Ini bikin isu perempuan lebih seksi dan gampang melejit ketimbang korupsi yang butuh bukti rumit.
📚 Artikel Terkait
Ada Patriarki dan Double Standard – Di banyak budaya, termasuk Indonesia, ada standar ganda soal perilaku laki-laki dan perempuan. Tokoh publik cowok yang ketahuan selingkuh atau punya “skandal” sering dihakimi lebih kejam karena dianggap nggak pantes sama posisi mereka sebagai pemimpin atau panutan. Ironisnya, perempuan dalam kasus ini, entah sebagai pelaku atau korban juga sering disalahin, tapi fokus utamanya tetep ke tokoh laki-lakinya karena dia yang punya kuasa dan menjadi sorotan.
Disadari atau tidak ini terjadi karena Pola Sejarah dan Kebetulan – jadi nggak semua kasus itu disengaja atau merupakan konspirasi. Beberapa tokoh memang jatuh karena pilihan pribadinya yang buruk, dan kebetulan isu perempuan sering menjadi pemicunya. Contohnya di kasus video Ariel Peterpan (2010) yang sempat meredupkan kariernya, atau rumor-rumor soal pejabat lain yang nggak terbukti tapi tetep bikin gaduh. Dimasa lalu ada skandal Yahya Zaini dengan Maria Eva, ada mantan bupati Banyuwangi 2010-2021 Abdullah Azwar Anas dengan skandal ‘paha mulus’ yang membuat Azwar Anas mundur dari Pilgub Jatim 2018, meski lalu di 2022 ditunjuk menjadi menteri PANRB. Lalu ada penggede PKS Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah dengan kasus korupsi kuota impor sapi, tapi yang lebih menjadi perhatian publik malah kasus pusthunnya(istri simpanannya), keduanya hancur karir politiknya. Di luar negeri, Tiger Woods atau Anthony Weiner juga hancur gara-gara skandal serupa.
Jadi, kenapa perempuan? Bukan perempuannya sendiri yang “menjatuhkan”, tapi karena isu menyangkut perempuan ini mudah dieksploitasi, baik oleh lawan politik, media, atau publik yang haus drama, plus ini menyentuh sisi paling rawan dari manusia, yakni nafsu dan reputasi.(Mda)
Kopi_kir sendirilah!
*Malawu Omah_Kopi, 29032025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






