POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Meraih Ketaqwaan di Bulan Ramadhan

Nurkhalis MuchtarOleh Nurkhalis Muchtar
March 29, 2025
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh:  Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc, M.A

Ramadhan adalah bulan yang dirindukan oleh umat Islam di manapun mereka berada. Ada kegembiraan yang tidak bisa diungkapan dengan kata dan kalimat, karena berbagai keutamaan yang terdapat dalam Bulan Ramadhan. Bahkan di antara sekian banyak keutamaan Ramadhan adanya potensi ketakwaan yang diharapkan oleh para hamba Allah SWT. 

Sehingga tidak berlebihan bila Rasulullah SAW jauh-jauh hari sebelum tiba Ramadhan senantiasa bermunajat ke pada Allah SWT agar diperjumpakan dengan Bulan Ramadhan yang penuh dengan keistimewaan.

Dalam Al Qur’an Surat al Baqarah ayat 183 sampai 187, Allah SWT memberikan gambaran yang jelas bagi orang-orang yang beriman yang ingin menggapai derajat ketakwaan di Bulan Ramadhan. Surat Al Baqarah ayat 183 misalnya, Allah SWT mewajibkan para hamba-Nya berpuasa dengan keimanan dan kesungguhan untuk tujuan yang jelas yaitu ketakwaan. Saking utamanya takwa, Allah SWT mengulang kata takwa dalam Al Qur’an sekitar 258 kali. 

Tidak hanya berpuasa, pada malam Bulan Ramadhan juga sebagaimana disebutkan dalam berbagai riwayat hadis dari Rasulullah SAW bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan kepada umatnya untuk mendirikan malam-malam Ramadhan dengan ibadah Shalat baik Tarawih, Tahajud, Witir dan berbagai ibadah sunnah lainnya. 

Bahkan disebutkan bahwa Rasulullah SAW sendiri memaknai setiap malam Bulan Ramadhan dengan penuh kesungguhan dan keimanan, untuk mengajarkan kepada umatnya bagaimana menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang istimewa.

Secara khusus Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani dalam karyanya Bulughul Maram menyebutkan sebelas hadits tentang I’tikaf dan ibadah malamnya Rasulullah SAW. 

Tergambar betapa Rasulullah SAW menghidupakan malam-malam Ramadhan dengan kesungguhan dalam ibadah terutama shalat malam, khusus di sepuluh terakhir beliau melazimkan dirinya beriktikaf untuk menjemput malam Lailatul Qadar.

Maka puasa dan mendirikan malam Ramadhan dengan beribadah secara sungguh-sungguh merupakan sarana menuju kepada ketakwaan. 

Pada ayat lainnya, Surat Al Baqarah ayat 185 Allah SWT dalam Bulan Ramadhan juga menurunkan mukjizat terbesar umat Islam yaitu turunnya Al Qur’an yang bertepatan dengan malam Lailatul Qadar. Turunnya Al Qur’an surat Al ‘Alaq ayat satu sampai lima pada Bulan Ramadhan yang biasanya diperingati dengan malam Nuzulul Qur’an membawa pesan tersirat bahwa Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah agama yang menghargai ilmu pengetahuan ditandai dengan ayat pertama perintah umat Islam untuk “Iqra’”.

Al Qur’an yang mulia tentu memiliki banyak sekali keistimewaan, dimana setiap huruf yang dibaca akan diberikan pahala yang berlipat, apalagi jika dibaca pada Bulan Ramadhan tentu pahalanya tak terhingga banyaknya. Al Qur’an juga sebagai tuntunan dalam kehidupan umat Islam untuk membimbing kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat yang kekal abadi. Di Dalam Al Qur’an juga terdapat berbagai ayat yang membahas tentang hukum syariah, ibadah, muamalah dan tata nilai kehidupan yang layak diaplikasikan dalam kehidupan. 

Selain aspek hukum dan tata nilai kehidupan, Dalam Al Qur’an juga terdapat banyak ayat yang mengarah kepada ketakwaan. Disebutkan dalam Al Qur’an perintah untuk bertakwa, meningkatkan ketakwaan dengan amal shalih, disebutkan pula ciri-ciri orang yang bertakwa, juga amalan-amalan yang mengantarkan kepada ketakwaan kepada Allah SWT termasuk ibadah berpuasa di Bulan Ramadhan.

Selanjutnya, pada surat Al Baqarah ayat 186, Allah SWT menganjurkan para hamba-Nya untuk memperbanyak munajat permohonan kepada Allah SWT. Bahkan Allah SWT menegaskan akan menerima setiap permohonan atau doa dari para hamba-Nya, dengan syarat mereka memenuhi perintah-Nya, beriman kepada-Nya agar mereka mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar. 

📚 Artikel Terkait

Puisi – puisi Anies Septivirawan

Tetap Jaga 3M Meski New Normal

Impian

Pahit Kopi Kembali Manisnya

Secara lebih khusus misalnya di Bulan Ramadhan, Allah SWT disebutkan dalam berbagai riwayat hadis, tidak menolak permohonan para hamba-Nya. Karena memang doa orang yang berpuasa mustajab apalagi menjelang berbuka puasa. Bahkan Ummul Mukminin Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT pada malam Lailatul Qadar, maka ibadah yang dicintai oleh Allah SWT selain shalat adalah memperbanyak mengucapkan doa Allahumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fuanni.

Doa merupakan perwujudan kepasrahan kita kepada Allah SWT. Menunjukkan bahwa sebagai insan dan hamba-Nya tentu memiliki keterbatasan-keterbatasan, dan memiliki harapan yang senantiasa dititip kepada Allah SWT dalam bentuk doa dan munajat kepada-Nya. Setiap lantunan doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba, tentu akan dikabulkan oleh-Nya, atau akan menepis musibah dan meringankan duka, atau disimpan di akhirat kelak. 

Imam Al Ghazali secara khusus dalam karyanya Mukhtashar Ihya’ Ulumuddin menyebutkan beberapa cara agar doa diijabah oleh Allah SWT, di antaranya dengan memperhatikan waktu dan kondisi dalam berdoa. Di antara waktu yang istimewa dalam berdoa dan termasuk waktu mustajab adalah berdoa pada Bulan Ramadhan. Bahkan Rasulullah SAW disebutkan dalam riwayat berdoa sebelum Ramadhan datang, dan berdoa pada hari pertama memasuki Bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW pribadi yang banyak bermunajat kepada Allah SWT. Dan bukankah di dalam Islam hari-hari yang dilalui oleh umat Islam juga dalam doa?. Misalnya saja ketika seorang muslim bangun tidur, sebelum tidur, sebelum makan, sesudah makan, ketika berbuka, sebelum naik kendaraan, ketika keluar rumah, memasuki rumah, masuk mesjid, keluar mesjid, dan di berbagai tempat yang senantiasi dihiasi dengan doa dan munajat. 

Bahkan ibadah shalat yang dilaksanakan juga berisi doa dan harapan.

Sehingga berdoa merupakan anjuran di Bulan Ramadhan terutama doa memohon ampunan, rahmat, dan kebebasan dari api neraka. Karena saat seorang hamba telah memperoleh ampunan, maknanya ia telah dekat dengan derajat ketakwaan. 

Sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 133 yang menganjurkan kepada umat Islam untuk bersegera menjemput ampunan Allah SWT karena ganjaran surga yang begitu luas dipersiapkan untuk orang-orang yang bertakwa. Maka untuk sampai pada ketakwaan mestilah melalui pintu yang disebut pintu ampunan/maghfirah.

Selanjutnya Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 187 menganjurkan para hamba-Nya untuk Iktikaf. 

Ibadah Iktikaf sudah ada semenjak masa sebelum Nabi Muhammad SAW. Bahkan Iktikaf sudah ada semenjak Nabi Ibrahim ‘alaihisalam. Iktikaf juga ibadah yang sangat disukai oleh Rasulullah SAW ditandai setiap sepuluh terakhir Bulan Ramadhan, Rasulullah SAW dalam berbagai riwayat hadis mewajibkan dirinya untuk beriktikaf, yang kemudian tradisi iktikaf diikuti oleh para sahabat Rasululullah SAW, Isteri-isteri beliau dan umatnya hingga akhir zaman.

Hikmah pensyariatan iktikaf pada Bulan Ramadhan ialah untuk menjemput satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar yang besar kemungkinan terdapat pada sepuluh terakhir Bulan Ramadhan terutama pula pada malam sepuluh terakhir di Bulan Ramadhan. Memang untuk iktikaf memiliki syarat-syarat khusus sebagaimana yang tertuang dalam kitab-kitab fikih tentu agar sahnya ibadah tersebut.

Malam Lailatul Qadar sebagaimana yang disebut dalam Al Qur’an dan banyak hadis Nabi merupakan malam yang sangat istimewa. Sehingga dari masa Rasulullah SAW upaya untuk menggapai Lailatul Qadar terus diusahakan secara maksimal. Karena siapapun yang berpapasan ibadahnya pada malam Lailatul Qadar, maka pahalanya melebihi seribu bulan atau lebih dari delapan puluh tiga tahun beribadah. 

Mengenai malam Lailatul Qadar memang banyak perbedaan pandangan dari para ulama dan ilmuan Islam kapan secara pasti. Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani secara khusus dalam karya besarnya Fathul Bari Syarah Sahih al Bukharimenyebutkan sekitar empat puluh pandangan mengenai kapan kemungkinan Lailatul Qadar, walaupun memang Syekh San’ani menyebutkan bahwa apabila didetailkan maka pandang-pandangan tersebut bisa diminimalisir, walaupun memang kesimpulan mengarah kepada sepuluh malam terakhir di Bulan Ramadhan terutama pada malam-malam yang ganjil sebagaimana yang masyhur dalam berbagai riwayat yang berasal dari Rasulullah Saw.

Ahli hadis lainnya al Hafidz Waliyuddin al Iraqi dalam tulisannya tentang malam Lailatul Qadar menyebutkan ada sekitar dua puluh tujuh pandangan berkenaan dengan lailatul qadar. Bila disimpulkan, potensi malam Lailatul Qadar adalah pada Bulan Ramadhan di sepuluh terakhir terutama pada bilangan ganjil; dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dua puluh sembilan, serta ada yang menyebut pada malam dua puluh empat dan ada yang menegaskan pada malam dua puluh tujuh.

Hikmah tidak adanya penetapan yang pasti mengenai malam Lailatul Qadar, agar umat Islam berlomba-lomba dalam ketaatan dan tidak mengganggap sepele hari-hari di Bulan Ramadhan. Karena menurut satu pandangan bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah pada pada malam hari sepuluh terakhir Bulan Ramadhan. 

Bagi kita, yang terpenting adalah memaksimalkan ibadah puasa dengan mendirikan malam, tadarus, khatam Al Qur’an, memperbanyak doa, iktikaf, berinfak serta amal shalih lainnya yang bermuara kepada ampunan Allah SWT. 

Harapan lainnya adalah mendapat bagian dari malam Lailatul Qadar sehingga memperoleh keutamaan seribu bulan. Dan di akhir Ramadhan sudah digolongkan ke dalam golongan para hamba yang mendapatkan pemutihan dosa dan meraih derajat ketakwaan yang merupakan dambaan dan harapan kita semua. Semoga..

1

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ketika Kuputari Ka’bah

Menafsir “Ketika Kuputari Ka’bah”dalam Perspektif Pendidikan dan Filsafat Islam

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00