🔊
Dengarkan Artikel
Tentang Ibu
ibu melahirkan aku dari sepi
menjadi malam, pagi dan siang.
ibu melahirkan aku dari tanah, menumbuhkan
battilang, kanunang, menjadikan ibu lebih tangguh
berdiri di teritisan dan tanah menjadi subur.
ibu melahirkanku, menyelipkan taman, alam lebar,
pantai, ombak laut barat dan ikan serta kerang
juga lokan-lokan laut di mataku.
ibu menitipkan sungai kasih sayang, kebun kekuatan,
api semangat dari tungku dapur dan abunya
menjadi azimat perjalananku.
saat aku merantau, ibu menanam tunas kelapa di hulu rumah,
menyimpan biji jagung dalam kantong
dan mengikatnya di pusar tiang rumah, agar ia tau
nasib pelayaranku yang dibisikkan tunas kelapa
dan betanya pada biji jagung
jika aku tersesat dalam pelayaran.
tak lupa ibu berdoa
tangannya meraih langit dan sesekali memetik hujan
jika tanah retak dan tunas kelapa jadi menguning.
jika badai merajam diri, maka aku akan memanggil ibu
di jendela menghadap ke timur dan ibu
membisikkan namaku ke dalam guci,
tempat ibu membasuh wajah di bening subuh.
Tentang Bapak
bapakku tanah.
tangan-tangan menggamitnya dari surga,
langit-bumi merentangkan tangannya,
lahirlah cakrawala, lumut, rumputan,
kayu, kolam, kali, sungai jadi laut.
bapak tumbuh diburu waktu,
ladang pilu merimbun dadanya,
di matanya mengalir mata air mata,
wajahnya lebam-luka dihajar
matahari siang dan angin malam.
batu-batu cadas menimpuknya sepanjang jalan,
keras berguru diburu angin, kakinya karatan mendaki bukit,
merenangi samudra mengalahkan usianya, tapi tangan ibunya
menumbuhkan padi, menyuburkan ladang, menawarkan air laut,
menjadikan daun, tangkai dan buah menjelma obat penawar lara.
bapak selalu berlari di telapak tangan ibunya.
di sana jalan berliku, menemukan cinta, membawanya ke nirwana.
di bawah paripurna bulan, bapak menengadahkan tangannya,
maka tibalah aku berlari di atas telapak tangan yang keras itu,
bapak mengarahkan telunjuknya ke purnama,
mengenalkan aku pada pohon, taman bunga, kebun, sungai,
laut dan kapal berlayar sentosa di atasnya: "sebab semuanya akan pulang,
sebagaimana purnama juga pulang pagi ini !"
pundak bapak sekokoh baja. bapak selalu bersujud,
anak-anaknya memanjat tebing curam pinggang bapak,
meraih pundaknya, menjadi tolak loncatan kami ke anak cucunya kelak.
bapak adalah bumi, ia telah menyiapkan segalanya,
kami adalah anak sungai, pohon, hewan melata, laut,
ikan-ikan, menjadi semesta kehidupan.
kini bapak telah pergi, berjalan kembali ke tanah,
tubuhnya adalah angin, bayangannya adalah cahaya.
sepuluh tahun berlalu, bapak menjadi tanah, menjadi pohon,
menjadi nama dan azimat perjalanan kami.
Lubang Jarum
hidup adalah lubang jarum.
tubuh hidup benang basah derita,
betapa sungsang, langkah gontai melewatinya.
tubuh hidup, benang kering, namun mata rabun
tak mampu menuntun takdir, menyelundup
tertiup tak tentu arah.
tubuh takdir benang rapuh, tremor melintas jalan
berliku terowongan, menembus gelap,
memanah kepastian fatamorgana.
Waktu Wajah
di bilik itu aku selalu melihatmu
jendel mendorongmu ke tengah,
jendela itu tau kau pasti di sana.
jendela adalah wajahmu
daun pintu dan kisi-kisinya adalah hidung,
mulut dan telingamu, dimana angin
menemu alamat hingga ke jalan paling sunyi dirimu.
kata orang, jendela selalu
mendorong wajahmu ke tengah,
wajah yang selalu berubah letih.
sesungguhnya bukan wajahku yang berubah,
tapi waktulah yang merubah wajahnya.
Tanda Tambah Waktu
halte-halte lelah menunggu
bangku kosong berkarat dirajam waktu
kaki berlari waktu ke hari
hujan menjauhkan mendungnya dari kenangan.
tiada yang tau retak nasib mengayunkanmu kemana
pergi menjaring angin, atau menggantang sinar bulan
matahari mengejekmu dengan tipu daya bayang-bayang
resah angin meniupkan kenangan
jalan-jalan kota membara di telapak kakimu
tetapi takdir jatuh cinta di telapak tanganmu
pergi ke sunyi samudra, gunung-gunung kemilau
menetapkan goda menyesatkan, menunjuk
jalan-jalan itu adalah gerbang terminal perjalananmu.
sekarang pulamglah, menapak lagi tanah kampung halaman
dengan kaki telanjang, biarkan kerikil dan debu
memijat kakimu yang lelah menyusur pulau, nikmati lagi
senja pematang sawah kemuning, kelak waktu
akan mengulurkan tanda tambah dan akhirnya sama dengan,
kelak hidupmu kan berbinar di mata waktu.
Kinship Cinta
cintaku kepadamu
tak lagi dapat kuucapkan
sebab cintaku telah meruang
mewaktu dalam semesta
dan Tuhan telah menjeratku
berjalan dalam retak takdir itu.
cintaku adalah menabung derita
dan kesengsaraan akan rindu purba,
sebab penderitaan dan kebahagiaan, sama saja.
derita adalah lambang keperkasaan dari kebahagiaan,
sedang kebahagiaan adalah lambang kegagahan
dari dera samudra penderitaan.
cintaku tak lagi dapat kuucapkan setiap waktu,
sebab menampung cinta dalam cawan rindu
adalah perah keringatku berlumut,
berlomba lari menemukan perjumpaan kita
dalam resah desah gua garba kehidupan
yang tak lenyap dalam debu kemarau
tak hanyut dalam banjir badai kehidupan.
cintaku, sekali lagi kuserahkan pada
bentangan takdir menapak di telapak tanganku.
kugenggam tak kulepas lagi, kugenggam kau
bersama keabadian maha kekasih.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📚 Artikel Terkait
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.






