• Latest
Merajut Kebersamaan dalam Keragaman: Refleksi dari Tadarus Puisi & Pameran Puisi Eksperimental

Merajut Kebersamaan dalam Keragaman: Refleksi dari Tadarus Puisi & Pameran Puisi Eksperimental

Maret 13, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Merajut Kebersamaan dalam Keragaman: Refleksi dari Tadarus Puisi & Pameran Puisi Eksperimental

Redaksiby Redaksi
Maret 13, 2025
Reading Time: 5 mins read
Merajut Kebersamaan dalam Keragaman: Refleksi dari Tadarus Puisi & Pameran Puisi Eksperimental
595
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Viktoria Aso (Mahasiswi UKWMS) 

Puisi adalah ruang kebebasan, tempat suara-suara hati berpendar tanpa batas. Ia lahir dari pengalaman, pergulatan batin, dan kepekaan terhadap kehidupan. Dalam setiap lariknya, puisi mampu menyampaikan pesan yang lebih dalam dari sekadar kata-kata. Hal ini terasa begitu nyata dalam acara Tadarus Puisi & Pameran Puisi Eksperimental yang digelar oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Madiun. Acara yang menghadirkan mahasiswa, dosen, dan tokoh sastra ini menjadi momentum berharga dalam merajut kebersamaan dalam keberagaman melalui sastra.

Di tengah dunia yang semakin penuh dengan perbedaan pendapat, sastra hadir sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai perspektif. Puisi, sebagai salah satu cabang sastra, memiliki kekuatan untuk menciptakan ruang dialog yang lebih intim dan mendalam. Dalam acara ini, kehadiran komunitas Gusdurian Madiun dan sastrawan Fileski Walidha Tanjung menjadi bukti bahwa sastra bukan hanya milik akademisi, tetapi juga masyarakat luas. Dengan latar belakang yang beragam, setiap individu membawa sudut pandang tersendiri yang kemudian menyatu dalam satu panggung ekspresi bersama.

Salah satu momen yang menggugah dalam acara ini adalah pembacaan puisi oleh Dr. Ardi Wina Saputra, dosen sekaligus penggagas acara, yang membawakan puisi Ramadan Malam Lebaran karya Sitor Situmorang. Pilihan puisi ini terasa begitu relevan dengan semangat Ramadan yang penuh refleksi dan kebersamaan. Lebih dari sekadar membacakan, beliau juga menekankan bagaimana sastra dapat menjadi alat untuk menanamkan nilai toleransi dan kemanusiaan di tengah masyarakat yang semakin beragam.

Fileski Walidha Tanjung juga menekankan pentingnya puisi sebagai media refleksi dan penyampaian gagasan. Ia melihat acara ini sebagai ruang kreatif yang tidak hanya mendorong mahasiswa untuk berekspresi, tetapi juga memperkuat ekosistem sastra di Madiun. Apresiasi ini mengingatkan kita bahwa literasi bukan sekadar tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif dan membuka ruang dialog yang lebih luas.

Keterlibatan dosen dalam acara ini juga memberikan inspirasi tersendiri. Partisipasi Dr. Gregoria Ariyanti, Arielia Yustisiana, dan Wenny Wijayanti dalam pembacaan puisi menunjukkan bahwa sastra tidak mengenal sekat keilmuan. Bahkan di antara disiplin ilmu yang berbeda, puisi tetap dapat menyatukan berbagai pemikiran dan emosi dalam satu ruang yang sama. Hal ini menjadi bukti bahwa sastra bukan hanya untuk mereka yang bergelut di bidang bahasa dan sastra, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki keresahan dan keinginan untuk menyampaikan sesuatu.

Acara ini mengajarkan banyak hal, terutama tentang bagaimana seni dapat menjadi medium untuk membangun pemahaman dan empati. Puisi yang dipamerkan dalam bentuk eksperimental juga menunjukkan bahwa kreativitas tidak memiliki batasan. Eksperimen visual berbasis diksi yang ditampilkan oleh mahasiswa menjadi bentuk ekspresi yang unik dan segar, membuktikan bahwa puisi bisa berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan esensinya.

Di era digital ini, ketika informasi beredar begitu cepat dan sering kali memicu polarisasi, keberadaan acara seperti Tadarus Puisi & Pameran Puisi Eksperimental menjadi oase yang menyejukkan. Sastra mengajarkan kita untuk mendengar, memahami, dan merasakan lebih dalam. Ia tidak menghakimi, tetapi mengajak kita untuk melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas dan penuh kasih.

Harapannya, acara seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi tradisi yang memperkaya dunia kepenulisan dan sastra di Madiun. Lebih dari sekadar perayaan kata-kata, acara ini adalah perayaan kebersamaan dalam keberagaman, tempat di mana setiap suara menemukan ruangnya, dan setiap hati menemukan resonansinya dalam bait-bait puisi.

Dalam acara ini, Fileski membacakan puisi karyanya yang berjudul
“Sungai yang Tersesat”

Aku pernah menjadi sungai besar,

mengalir deras seperti urat nadi bumi,

tapi aku tersesat,

di lorong-lorong beton,

di sempitnya belukar pemukiman,

di dada yang sesak tanpa oksigen.

Baca Juga

Hisab Azab

Januari 9, 2026
Esai dan Sajak Alkhair Aljohore@

Rangkaian Puisi Alkhair Aljohore

Desember 16, 2025

Puisi yang Menyentuh dan Lukisan yang Berbicara di Pundensari

September 10, 2025

Aku mengetuk pintu rumah-rumah,

yang bukan milikku,

dengan tangan yang gemetar,

menyeret jendela, merobek pintu,

sebab aku mencari jalanku.

Aku bukan tamu yang sopan,

aku datang membawa amarah,

dan reruntuhan doa yang tak didengar.

Dulu, aku penyembuh dahaga ladang-ladang,

kini aku hanya teriakan malam,

menggulung lampu-lampu kota,

mengubur nyawa ke dalam lumpur,

membasuh sejarah dengan kesedihan.

Salahkah aku,

jika aku menuntut jalan pulang?

2025

Haris Saputra koordinator Gusdurian juga membacakan puisi karya Fileski:

“Benih-Benih Yang Berpuasa”

ADVERTISEMENT

Lihatlah benih di dalam tanah,

ia tidak memaksa dirinya tumbuh,

ia menunggu, menahan,

ia percaya pada sang waktu.

Puasa adalah tanah yang mengajari benih

untuk merasakan lapar,

agar nanti ia tahu betapa manisnya hujan.

Kita adalah benih-benih kecil

yang ditanam di ladang takdir,

menunggu saatnya berbuka

untuk mekar di bawah lindungan cahayanya.

2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 351x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Bengkel Opini Rakyat

Bengkel Opini Rakyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com