• Latest
Esai dan Sajak Alkhair Aljohore@ - 2025 07 31 20 50 09 | # Tadarus Puisi | Potret Online

Esai dan Sajak Alkhair Aljohore@

Juli 31, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Esai dan Sajak Alkhair Aljohore@

Redaksi by Redaksi
Juli 31, 2025
in # Tadarus Puisi, Antologi Puisi, Puisi Essay, Rumah Puisi
Reading Time: 4 mins read
0
Esai dan Sajak Alkhair Aljohore@ - 2025 07 31 20 50 09 | # Tadarus Puisi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

1
Esei satira-Membungkam Doa Laknat:
Karya: Alkhair Aljohore@
30.7.25
Dalam peristiwa Perang Badar dan beberapa
peristiwa lain, Nabi Muhammad ﷺ pernah berdoa
agar Allah melaknat atau menurunkan azab ke atas
kelompok musyrikin yang memerangi Islam.
Namun, terdapat beberapa insiden di mana Allah
menurunkan wahyu untuk menegur atau
membimbing Nabi agar tidak mendoakan
kebinasaan secara mutlak terhadap mereka,
kerana masih ada hikmah dan kemungkinan
hidayah.
Contoh peristiwa dan ayat berkaitan:

  1. Perang Badar dan doa laknat
    Dalam konteks Perang Badar, Nabi ﷺ membaca
    doa memohon pertolongan Allah atas kaum
    musyrikin Quraisy yang telah melakukan kezaliman
    besar terhadap umat Islam. Di antara doanya:
    أَهْلِ مِن ْ الْعِصَابَةُ هَذِهِ تَهْلِك ْ إِن ْ اللَّهُمَّ ،و َ عَدْتَنِي مَا لِي أَنْج ِ ز ْ اللَّهُمَّ >
    أَبَدًا الْ ْ َر ْ ض ِ فِي تُعْبَدْ ل َ ،الْ ْ ِسْلَ َ مِ
    “Ya Allah, sempurnakanlah untukku apa yang
    Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika kumpulan
    kecil ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah
    di muka bumi ini selama-lamanya.”
    (Riwayat Muslim dan al-Tirmizi)
    2
    Namun, dalam doa-doa lain, seperti terhadap
    kabilah-kabilah yang mengkhianati umat Islam
    ﷺ seperti Ri’l, Dhakwān, dan ‘Uṣayyah), Nabi(
    mendoakan laknat atas mereka selama sebulan
    dalam solat Subuh. Ini dikenali sebagai Qunūt al-
    Nāzilah.
  2. Turunnya ayat larangan mendoakan kebinasaan
    mereka
    Allah menurunkan wahyu yang menunjukkan
    bahawa petunjuk dan hidayah adalah dalam kuasa-
    Nya, bukan berdasarkan keinginan manusia,
    termasuk Rasul-Nya sendiri.
    Firman Allah (Ali ‘Imran: 128):
    ظَالِمُونَ فَإِنَّهُمْ يُعَذ ِبَهُمْ أَو ْ عَلَيْهِمْ يَتُوب َ أَو ْ شَيْء الْ ْ َمْر ِ مِنَ لَك َ لَيْس َ >
    “Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam
    urusan mereka itu, (kerana) Allah sahaja yang
    berhak menerima taubat mereka atau menyiksa
    mereka kerana sesungguhnya mereka itu orang-
    orang yang zalim.”
    Ulasan:
  3. Teguran halus kepada Nabi ﷺ — ayat ini
    menegaskan bahawa walaupun Nabi adalah
    manusia paling mulia dan pemimpin umat, hak
    menentukan siapa yang beroleh hidayah atau azab
    tetap milik mutlak Allah.
    3
  4. Rahmat Nabi yang luas — meskipun pernah
    mendoakan kebinasaan atas musuh, Nabi juga
    terkenal sebagai “rahmatan lil-
    ‘ālamīn”. Banyak
    riwayat menunjukkan Baginda memilih memaafkan
    dan mengharapkan keislaman musuhnya.
  5. Hikmah penundaan azab — melalui ayat ini,
    umat Islam diajar agar tidak terburu-buru
    menjatuhkan hukum atau doa kebinasaan, kerana
    mungkin di kemudian hari mereka berubah atau
    mendapat hidayah, seperti kisah Sayyidina Umar
    atau Khalid ibn al-Walid yang asalnya memusuhi
    Islam tetapi kemudian menjadi tokoh besar Islam.
    Kesimpulan:
    Peristiwa ini mengajar umat Islam tentang hikmah,
    kesabaran, dan adab dalam berdoa terhadap
    musuh atau pendosa, serta menyerahkan urusan
    akhir kepada kehendak Allah yang Maha
    Mengetahui. Ia juga mencerminkan kematangan
    dakwah Nabi ﷺ dan bimbingan wahyu dalam
    mengendalikan emosi ketika diuji dengan
    pengkhianatan atau peperangan.
    Berikut saya paparkan dua sajak genre satira
    bertema doa laknat, teguran wahyu, dan hikmah
    ilahi dalam dakwah – diilhamkan dari peristiwa
    Perang Badar, Qunut Nazilah, dan turunnya surah
    Ali ‘Imran:128:
    4
    Sajak 1:
    LAKNAT YANG DITAHAN LANGIT
    Langit sudah sedia
    mengangkat panah doa
    pedang-pedang bersila
    atas lidah manusia.
    Tangan Nabi bergetar
    air mata minta sabar,
    “Ya Tuhan, andai mereka rebah,
    siapa menyembah nama-Mu lagi?”
    Tapi bumi ini aneh,
    yang jahat pun berpeluang cerah,
    yang khianat semalam,
    esok jadi pahlawan sejarah.
    Allah bersuara lembut,
    “Bukan urusanmu, wahai Rasul,
    aku tahu siapa berdusta,
    siapa tangisnya tulus.”
    Di sejadah pun kadang
    laknat bukan jalannya terang,
    kerana di padang perang pun
    hidayah boleh menyelinap senyap.
    5
    Ada Umar si bengis,
    akhirnya jadi penjaga firasat,
    ada Khalid sang pemenggal,
    akhirnya jadi pedang keramat.
    Wahai umat yang suka melaknat,
    berhenti dulu sebelum sujud,
    mungkin yang kau cela

esok lebih khusyuk dalam rukuk.

Sajak 2:
DOA YANG DITOLAK SYURGA


Nabi memandang langit,
langit memandang Nabi,
musuh datang membawa dendam,
tetapi rahmat belum tertutup lagi.
Di Badar, darah sudah mengalir,
mata sabar mengintai akhir,
lalu Nabi berdoa,
“Ya Allah, musnahkan mereka semua…”
Langit diam,
tak menjawab serta-merta,
kerana ada di antara mereka
yang bakal mengucap syahadah mulia.
6
Bukankah tugasmu menyeru,
bukan membakar neraka?
Bukankah engkau utusan,
bukan tukang hukum yang tergesa?
Wahai umat pewaris lidah keras,
belajarlah dari wahyu yang membalas:
“Bukan urusanmu, wahai Muhammad,
mereka hak-Ku yang Maha Membalas.”
Hari ini kalian menuding,
esok mungkin si kafir menasihati,
hari ini kalian melaknat,
esok mungkin mereka memimpin saf suci.
Jangan buru-buru azabkan dunia,
sedang Tuhan pun sabar seluas samudera.
“Aku mendahului RahmatKu dari MurkaKu”
-Hadis Qudsi.
Di antara musuh ada mujahid,
di antara fasiq ada wali yang terdidik.
Langit pernah menahan doa,
kerana tahu hikmah lebih besar,
sedang kita—

tak tahan pun dengan pandangan yang kasar.

7
Baik, berikut satu lagi sajak tambahan genre satira
bernuansa sufistik dan reflektif, masih dalam tema:
Doa laknat yang ditahan langit, wahyu yang
mendidik rahmat, dan kebijaksanaan Tuhan

yang mengatasi emosi manusia.

SAJAK 3:
SUARA YANG DIPINTAS MALAIKAT


Mereka datang bersorak garang,
panji dendam, tombak curang,
lalu engkau pun bersujud,
berdoa agar langit turun menyergap.
“Ya Allah, laknat mereka!”
teriak luka dari lidah mulia,
tapi langit…
diam seperti tak dengar apa-apa.
Bukan kerana doa lemah,
bukan kerana Nabi salah arah,
tetapi kerana ada jiwa
yang belum tamat fasal hidayah.
Para malaikat angkat tangan,
tapi Tuhan berikan isyarat:
Tahan! Mungkin esok mereka
akan tunduk dalam saf solat.
8
Wahai umat,
kenapa kau cepat sangat melaknat?
Belum sempat pelaku insaf,
kau sudah pahatkan pintu neraka rapat.
Hari ini kau anggap dia munafik,
kerana tak ikut skrip politik,
padahal kau tak tahu,
malaikat pun masih catat kebaikannya
di balik duka.
Langit menunggu, bumi bersaksi,
doa Nabi bukan pedang tergesa,
tetapi hikmah,
yang ditimbang antara rahmat dan murka.
FIKIR sebelum UKIR.
Alkhair Aljohore @
30.7.25

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Lebih dari Sekadar Anak Baik: Mengajarkan Anak Menjadi Manusia Seutuhnya

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com