• Latest
Puisi -Puisi Lapar, Afridal Darmi

Puisi -Puisi Lapar, Afridal Darmi

Maret 6, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Puisi -Puisi Lapar, Afridal Darmi

Afridal Darmiby Afridal Darmi
Maret 6, 2025
Reading Time: 5 mins read
Tags: #Puisi
Puisi -Puisi Lapar, Afridal Darmi

Ilustrasi

587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

968 T dan Mencemburui Neraka

Aku melihat mereka dengan 968 T,
mereka tertawa,
sementara aku mengunyah kehampaan

Aku berpuasa, aku bersujud,
tapi cemburu ini lebih digdaya
Lebih panas dari dahaga.
Lebih pekat dari malam-malamku yang hampa doa.

Mereka mencuri, tapi tak dihukum.
Mereka menipu, tapi tetap suci
mereka menukar dosa dengan sedekah,
Sementara aku menahan diri,
perutku melilit, kerongkonganku kering,
dan hatiku membusuk dalam dengki

karena aku hanya menghitung receh di kantong lusuh
menakar iman yang semakin hambar.

Tuhan, katakan padaku,
Apakah surga hanya untuk mereka yang bisa membelinya,
dengan uang yang didapat semudah air liur?

Tuhan, mengapa mereka tetap tersenyum?
tertawa di meja-meja megah,
sementara aku menunggu magrib
dengan perut yang mengutuk langit?

Malam ini aku sujud lebih lama,
bukan untuk meminta ampun,
tapi untuk bertanya,
apakah aku boleh mencemburui neraka?

Montasik, 5 Ramadhan 1446

Puasa Tanpa Cahaya

Terhuyung dalam lapar dan haus, 

Bersama matahari dan palu pemecah batu

Aku tahankan lapar ini, tapi aku kenyang oleh iri,
hausku bukan air, tapi dendam yang tak terpuaskan.
menghanguskan setiap ibadah,
menjadikannya abu tanpa cahaya.

Aku duduk merunduk di sajadah lusuh,
tapi hatiku penuh letusan keluh,
Tuhanku tetap terasa jauh,
lidahku hanya mengulang,
tanpa jiwa yang berserah.

Orang-orang bersujud, menangis dalam syukur,
aku bersujud, menangis dalam kehampaan.
Malam-malamku penuh doa,
tapi tak lebih gema kosong,
memantul di dinding langit yang tak jua terbuka.

Aku berpuasa, aku shalat, aku membaca firman-Nya,
tapi di dalam dadaku,
amarah masih menggeram, dengki masih berakar,
tak bisa menyelamatkan hati yang menolak tunduk.

Maka katakan padaku, Tuhanku
apakah puasaku ini suci,

ataukah hanya kelaparan, kepura-puraan?
Aku takut jawabannya sudah lama kutahu,
tapi tak pernah berani kuakui.

Montasik, 5 Ramadhan 1446

Lapar Itu Pahit

Lapar itu pahit, sepahit dengki

lebih dari perut yang merengek dalam diam.
Ia menggerogoti,
seperti api yang menyusup ke tulang,
dalam aliran darah,
tak memberi ruang untuk kedamaian.

Waktu melambat,

sujud menjadi pertanyaan
dan doa-doa menjadi ejekan.

Aku duduk di sudut yang dingin,
menghitung detik dengan perut yang berontak.
Tangan gemetar, mata nanar,
tapi tak bisa mengeluh.

Hati pun retak,
menggigil di tengah panasnya sunyi,
dan mulut hanya bisa mencium udara,
tak ada yang dapat kuambil,
hanya kelaparan yang mengisi.

ADVERTISEMENT

Lapar ini sepahit dendam, cemooh dunia.
Iri ini membusukkan diri,

Lebih pahit dari dahaga, lebih pedih dari luka terbuka,
dan api kecil yang tak pernah padam

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
​TEOLOGI LIMBAH

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Pada Secangkir Cinta

Pada Secangkir Cinta

Maret 9, 2026

menempel di dinding-dinding dada,
menyisakan kehampaan yang tak bisa ditelan

Lapar ini

adalah tentang kehilangan harapan,
selain hampa yang mencekam.

lapar ini lebih dari sekadar rasa.
Ia adalah teman yang tak pernah pergi,
dalam keheningan yang mencekik.

Aku melihat mereka yang kenyang,
Aku tersenyum kecut, menelan air liur,

berpikir, mungkin besok juga masih begini.

Mungkin besok, pahit ini masih ada.

Montasik, 5 Ramadhan 1446

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Takjil di Jalanan Sunyi

Takjil di Jalanan Sunyi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com