POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Sahur di Ujung Doa

Refleksi Spiritual dan Sosial di Bulan Ramadhan (1)

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 3, 2025
in Puisi Essay
0
Sahur di Ujung Doa - IMG 20250302 WA0006 | Puisi Essay | Potret Online


Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Di meja makan yang tak terlalu penuh,
seorang lelaki duduk dalam diam.
Nasi hangat masih mengepul,
tapi pikirannya lebih panas dari bara di tungku dapur.

Malam ini sahur pertama,
namun bukan dengan suka cita.
Sebab sepekan lalu,
pintu rezeki seolah tertutup rapat,
pekerjaan yang digenggam bertahun-tahun
menghilang dalam satu pengumuman.

Sahur di Ujung Doa - 22d7573b 709a 4395 8b6a 4ea3afd28e45 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Puisi Essay
Selembar Ijazah Tanpa Koneksi
08 Mar 2025
Selengkapnya

Istrinya duduk di seberang,
menyajikan teh tanpa suara,
memandangnya tanpa bertanya,
karena ia tahu:
lelakinya sedang berperang dengan diri sendiri.


Selepas sahur, ia menuju sajadah,
bukan untuk sekadar sujud,
tapi untuk bergumul dengan Tuhan
dalam keheningan yang panjang.

Sahur di Ujung Doa - 2025 05 08 06 17 33 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
# Ironi
Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel
08 Mei 2025
Selengkapnya

“Ya Allah, aku lelaki yang Engkau beri dua tangan,
tapi malam ini aku tak bisa memberi lebih dari sepiring nasi.
Aku bukan tak percaya rezeki,
hanya saja aku takut terlihat lemah di depan mereka.”

Ia menangis tanpa air mata,
sebab tangisan seorang ayah
adalah yang paling sunyi di dunia.
Anak-anak masih terlelap,
tak tahu bahwa kantong ayahnya lebih kosong
dari piring sahur yang hampir tandas.
Tapi lelaki ini tetap berdiri tegak,
memeluk istri dengan senyum yang ia paksakan.

Sahur di Ujung Doa - IMG 20250224 WA0013 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Perempuan
Nyi Ageng Serang: Bara di Tanah Jawa
24 Feb 2025
Selengkapnya

“Sabar ya, Mas, nanti pasti ada jalan,”
bisik istrinya, lebih lembut dari embun di jendela.
Dan malam itu, ia kembali bersujud,
memohon agar Tuhan membukakan pintu
sebelum lapar di siang hari benar-benar menjadi ujian.


Ramadhan datang membawa ujian,
tapi juga harapan.
Mungkin bukan hari ini,
tapi doa yang menggantung di langit subuh
pasti akan turun dalam bentuk rezeki yang tak terduga.

Lelaki itu menghela napas,
melangkah keluar untuk mencari celah,
sebab meski pekerjaan telah hilang,
ia tak boleh kehilangan iman dan daya.

Maka ia pergi,
menjemput hari,
menjemput rezeki,
dengan perut kosong,
tapi hati yang penuh doa.

Rumah Kayu Cepu, 1 Maret 2025

Previous Post

Akulah Momo Kelana

Next Post

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Next Post
Sahur di Ujung Doa - IMG_2664 | Puisi Essay | Potret Online

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah