POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Kritik

Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang

Redaksi by Redaksi
Februari 26, 2025
in #Kritik, Buku
0
Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang - f4a21fc3 8344 4b0a b95a 80dfc21c254e | #Kritik | Potret Online

Penulis : Ririe Aikot

Dalam sejarah peradaban, buku selalu menjadi sarana ampuh untuk menyampaikan ide, memperluas wawasan, dan merangsang pemikiran kritis. Namun, di beberapa negara, termasuk Indonesia, sejumlah buku justru dilarang peredarannya karena dianggap berpotensi mengganggu stabilitas politik dan sosial. Menariknya, kebanyakan dari buku-buku ini memiliki satu kesamaan: kritik terhadap kekuasaan dan pengungkapan realitas sosial yang tidak nyaman bagi penguasa.

Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang - IMG_7354 | #Kritik | Potret Online
Baca Juga
Artikel
Merajut Asa Bersama Anak Negeri “ PETA Literasi Polri Dari Sabang sampai Mereuke
01 Des 2023
Selengkapnya

Mengapa Buku Bisa Dilarang?


Alasan utama pelarangan buku umumnya terkait dengan kekhawatiran akan dampaknya terhadap opini publik. Buku yang mengkritik kebijakan pemerintah, mengungkap ketidakadilan sosial, atau mempertanyakan narasi sejarah yang resmi sering kali dianggap berbahaya. Kekuasaan cenderung takut pada ide-ide yang mampu mengguncang status quo, sehingga kontrol terhadap bacaan masyarakat menjadi langkah pencegahan.

90e31710-77d8-4737-96a8-75d78fe59c67
Baca Juga
Artikel
Kritikus, Antikritik dan Kritik
14 Apr 2026
Selengkapnya

5 Judul Buku yang Pernah Dilarang di Indonesia

  1. “Bumi Manusia” oleh Pramoedya Ananta Toer
    Sebagai bagian dari Tetralogi Buru, novel ini menggambarkan ketidakadilan sosial dan politik pada masa kolonialisme. Tokoh utamanya, Minke, melawan ketidakadilan yang terjadi akibat perbedaan ras dan kelas sosial. Pemerintah Orde Baru melarang buku ini karena dianggap menyebarkan ide-ide yang bertentangan dengan narasi resmi sejarah dan dapat memicu kritik terhadap kekuasaan.
  2. “Pulau Buru” oleh Hersri Setiawan
    Buku ini merupakan kesaksian pribadi tentang kehidupan di kamp tahanan politik pada masa Orde Baru. Dengan gaya bahasa yang lugas dan emosional, Hersri mengungkapkan kekejaman dan penderitaan yang dialami para tahanan politik. Buku ini dilarang karena dianggap mengungkit luka lama yang bisa merusak citra pemerintah.
  3. “Langit Makin Mendung” oleh Kipandjikusmin
    Cerpen ini dilarang karena dinilai menghina agama dan mengandung kritik politik yang tajam. Saat itu, mengkritik penguasa melalui simbolisme agama dianggap sangat berbahaya, sehingga pelarangannya dianggap sebagai upaya menjaga stabilitas sosial dan politik.
  4. “Manifesto Komunis” oleh Karl Marx dan Friedrich Engels
    Buku ini dilarang di banyak negara, termasuk Indonesia, terutama pada masa Orde Baru. Pemerintah saat itu sangat waspada terhadap segala bentuk pemikiran yang dianggap berbau komunisme. Larangan ini merupakan bagian dari upaya mengekang ideologi yang dianggap mengancam kekuasaan dan kestabilan politik.
  5. Buku-Buku tentang Reformasi dan Orde Baru
    Buku yang membahas secara kritis peristiwa-peristiwa politik yang melibatkan penguasa sering kali mengalami pelarangan. Tujuannya adalah untuk mengendalikan narasi sejarah sehingga generasi muda hanya mengetahui versi resmi yang tidak menimbulkan kontroversi atau kritik.
    Pelarangan buku bukan sekadar tindakan administratif, melainkan cermin ketakutan penguasa terhadap kekuatan kata-kata. Sejarah menunjukkan bahwa ide tidak pernah bisa benar-benar dikendalikan. Pelarangan justru sering kali membuat masyarakat semakin penasaran dan memicu perlawanan intelektual secara diam-diam.
    Lebih jauh lagi, pelarangan ini dapat menghambat perkembangan pemikiran kritis dan demokrasi. Masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap perspektif yang beragam cenderung menjadi pasif dan mudah dipengaruhi oleh propaganda politik.
    Menghadapi kritik seharusnya menjadi bagian dari proses demokrasi yang sehat. Alih-alih melarang, pemerintah seharusnya membuka ruang dialog untuk membahas isu-isu yang diangkat dalam buku-buku tersebut. Lagipula, sebuah ide tidak dapat dilenyapkan hanya dengan melarang kata-kata yang mengungkapkannya.
    Seiring perkembangan teknologi informasi, upaya pelarangan buku menjadi semakin tidak relevan. Digitalisasi telah memungkinkan akses informasi yang lebih luas dan sulit untuk sepenuhnya dikendalikan.
    Pada akhirnya, larangan terhadap buku-buku kritis justru memperlihatkan kerentanan sebuah rezim terhadap kekuatan pemikiran. Sebuah bangsa yang kuat adalah bangsa yang tidak takut menghadapi kritik, karena kritik adalah cermin untuk terus memperbaiki diri.
    Dengan membuka akses terhadap buku-buku yang pernah dilarang, kita tidak hanya memperjuangkan kebebasan berekspresi, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih kritis, inklusif, dan demokratis.
Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang - F5C33E88 4680 4E9B 9511 5444ECB49972 | #Kritik | Potret Online
Baca Juga
#Kritik
Memanfaatkan Kritik Secara Produktif
19 Mar 2025
Selengkapnya
Tags: Literasi
Previous Post

Kejagung Mulai Panen Koruptor

Next Post

PAGAR LAUT PUN TERTAWA

Next Post
Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang - e6447bad 01a4 4aca 9d87 b19ae6c94cfe | #Kritik | Potret Online

PAGAR LAUT PUN TERTAWA

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah